Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 7


__ADS_3

Barra langsung berlari kedalam Mansion karena terlalu hawatir jika Anin akan di lukai oleh Dylan, karena di lihat dari sipat Dylan yang terlalu terobsesi dengan Anin yang sangat mirip dengan Emely dia akan melukai Anin walaupun gadis itu adalah orang yang dia sayang.


Itulah mengapa Barra memisahkan Anin dengan Dylan karena obsesi gila adiknya akan melukai gadis tidak bersalah itu seperti yang di lakukanya kepada Emely, Barra tidak mau apa yang sudah pernah terjadi kepada Emely akan terjadi kepada Anin juga.


Langkah kaki nya terhenti saat melihat Dylan dan ketiga bodyguard itu berjalan ke arahnya, keringat dingin mulai membasahi keningnya karena hawa tubuhnya mulai meningkat dengan rasa sesak yang kini sudah melanda dadanya membuat wajahnya memerah.


"Kak, apa kau ingin membuat aku menderita dengan menikahi Anin? Kau kira aku tidak tau akal bulus mu!" sentak Dylan yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak di seret keluar oleh bodyguard itu. Dylan mencengkram kuat kedua pundak kakaknya dengan wajah marah dan sorot mata tajamnya, "apa tidak ada wanita lain yang bisa memuaskan mu? sampai kau mengambil wanita ku!" sentaknya.


"Apa yang kalian lakukan! cepat seret dia keluar!" sentak Kepala pelayan Bram yang sudah dapat melihat kondisi Tuanya yang sudah mulai memucat.

__ADS_1


Dylan kembali di seret, namun peganganya di tubuh Barra semakin kuat. Sementara pria bernama Barra itu tak kuasa menahan dan mendorong adiknya sendiri karena dirinya sendiri sedang berusaha agar bisa bertahan hidup dengan mengatur nafasnya yang semakin sesak.


Dylan yang melihat reaksi kakaknya dia langsung tersenyum dan berbisik kepada sang kakak yang sedang terlihat sangat sekarat, "kau bahkan tidak bisa menjaganya karena penyakitmu ini!" ujarnya dengan senyum sinis di bibirnya. "Kau kira Anin wanita suci? kau hanya mengambil wanita bekas dariku!" ujarnya dengan tertawa renyah di atas penderitaan sang kakak yang sedang meremas kuat dadanya sendiri karena rasa sakit yang sedang ia rasakan.


"Cepat!" sentak Bram lagi pada Bidygarnya, mereka pun menyeret Dylan karena pria itu sudah melepaskan tubuh Barra. "Tuan, tolong bertahan saya akan menghubungi dokter Frans." pinta Bram langsung meraih ponselnya namun Barra berlari dengan gontai dengan menahan rasa sesak dan sakit yang ia rasakan.


"Tuan!!! Aishh!!" pekiknya dia pun membuarkan Barra yang sudah oasti ingin menemui Anin, dia lebih memilih menghubungi dokter pribadi tuan Barra.


Anin mendongakan wajahnya menatap Barra dengan wajah sembab dan air mata di pipinya, pria itu langsung memeluk Anin sangat erat. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Barra langsung menatap wajahnya, Anin hanya menatap Barra dengan tatapan kesal. "Maafkan aku, maafkan aku Anin." lirihnya kembali memeluk gadis itu.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kakak! jika kakak tidak menikahiku. Kak Dylan tidak akan semarah itu padaku!" sentaknya sambil mendorong Barra yang sama sekali tidak bisa menahan dorongan Anin. "Aku benci kamu, Kak!" teriaknya dengan isak tangis yang semakin keras.


Rasa kesal masih melanda Anin karena yang ia tahu semua kesalahan masih berada di orang yang sama yaitu Barra Emrik, pria yang telah memaksa untuk menikah denganya demi melunasi hutang ayahnya.


"Syukurlah jika kamu masih bisa marah kepadaku dan terimakasih karena tidak terluka," ujarnya sambil tersenyum namun Barra menatap Anin dengan tatapan sendu dan rasa sakit yang ia rasakan bercampur aduk di dalam hatinya.


Barra melangkah mundur dia berusaha menahan rasa sakit nya agar terlihat sangat kuat di depan Anin ia pun membuka pintu dengan tangan bergetar dan menutupnya kembali, sejauh itu Barra bisa bertahan karena saat keluar dari ruangan Anin dia langsung jatuh pingsan.


.

__ADS_1


.


to be continued...


__ADS_2