
Setelah dua orang itu keluar Barra berjalan ke arah Anin tatapanya terlihat sangat datar, namun membuat Anin merasa berdebar karena dia sadar jika Dosen nya itu berjalan ke arahnya. Entah apa yang akan pria itu lakukan membuat Anin semakin takut jika Barra akan melakukan hal-hal aneh, apalagi ini di dalam kelas pikirnya.
"Lap wajahmu dengan ini," ucap Barra sambil menyodorkan sapu tanganya. Apa yang di lakukan Barra membuat semua orang berbisik-bisik, entak apa yang di pikirkan para mahasiswa lainya membuat Anin semakin tidak nyaman.
"Tidak usah pak," tolak Anin tidak mau jika ada orang lain yang berbicara aneh di belakangnya.
"Pakailah, wajahmu kotor. Aku tidak suka melihatnya karena utu mengganggu penglihatanku," ketusnya membuat para mahasiswanya kembali diam karena melihat tindakan yang di lakukan Dosen nya itu ternyata bukan tindakan romantis atau mengespecialkan Anin.
"Te-terimakasih pak," ucap Anin memngambil sapu tangan itu sambil menunduk. Entah mengapa perlakuan Barra selalu berubah-ubah padanya dan membuat hatinya terasa nyeri.
Anin membersihkan wajahnya yang sebenarnya tidak kotor sama sekali, dengan perasaan sedikit tidak nyaman dia melanjutkan pelajaranya.
Sampai akhirnya siang hari dimana Anin dan Rose berjalan ke arah cafe tempat dimana mereka bertemu dengan dua pria yang di janjikan Rose, Anin sempat menolak untuk di bonceng oleh Aldo dia lebih memilih memakai angkutan umum dan akhirnya mau tidak mau Rose ikut bersama Anin.
__ADS_1
Sementara di dalam ruang kerja masih di kampus Barra terlihat sangat marah karena Anin sama sekali tidak meminta ijin padanya dan malah pergi bersama pria lain.
"Tuan Barra, mau kemana?" tanya Edwin dengan senyum mencurigakan di mata Barra.
"Aku harus menjemput Anin," jawabnya Barra berdiri dan mengambil jasnya untuk di pakai.
"Mau kemana? lebih baik kamu tidak kemana-mana." ucap Edwin sambil mengambil kembali jas yang akan Barra pakai, Edwin meletakan kembali jas itu dan menarik kedua bahu Barra agar kembali duduk.
"Apa yang kamu lakukan!" sentak Barra dengan tatapan mematikanya. Jujur saja itu membuat Edein takut namun fia lebih takut jika Louis yang marah karena gagal menjalankan tugas yang di berikan Louis.
"Apa?" tanya Barra yang sudah terlihat lebih santai duduk di kursi kerajaanya itu. Barra memperhatikan Edwin yang sedang membuka laptopnya dengan cepat dan melihat email atau dokumen yang entah apa yang di carinya.
"Kamu harus survey vidio ini, kalau tidak kamu tidak boleh keluar dari sini karena Kak Louis akan bertanya beberapa pertanyaan kepadamu tentang apa yang kamu lihat, Tuan Barra." ucapnya dengan senyum di wajahnya membuat Barra semakin curiga.
__ADS_1
Barra menyipitkan matanya tanda curiga namun Edwin dengan cepat keluar dari ruanganya, "aku akan menbuka pintunya saat Kak Louis sudah menghubungimu dan menyuruhku membuka pintu." teriaknya di balik ointu sambil mengunci pintu itu.
Barra yang penasaran langsung klik vidio yang ada di dalam laptop itu, matanya membelalak sempurna saat melihat isi vidio yang Edwin berikan.
"Edwin!!" teriaknya dengan suara menggelegar, sementara Edwin di luar sana sudah memakai penutup telinga dan tidak mendengar teriakan sahabatnya itu.
Barra melihat isi chat yang baru saja di kirim Louis lewat ponselnya dengan rahang yang sudah mengeras dan rasa kesal.
...'*Belajarlah dari vidio yang ku berikan, sebelum kau menyentuh istrimu yang mungil itu. '...
.
.
__ADS_1
to be continued*...