
Anin keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk, dia terkejut saat melihat ternyata Barra sedang duduk di ujung ranjang sambil menatapnya dengan senyum di wajahnya membuat Anin curiga dan semakin takut.
“Tunggu! Jangan pergi Anin!” Perintah Barra saat melihat Anin melangkah mundur kembali kedalam kamar mandi, Barra berjalan mendekatinya dengan perlahan.
“Kakak, aku harus segera ganti pakaian.”
“Untuk apa? Toh aku akan kembali membukanya.” Jawab Barra yang sejak tadi tidak mengalihkan pandanganya di dada sang istri.
Barra menelan salivanya susah. “Ke-kenapa? Aku belum siap kak!” Sentak Anin berusaha mengulur waktunya, sejujurnya Anin memang sangat menikmati sentuhan Barra. Namun dia juga belum bisa melupakan rasa sakit saat pertama kali Barra menerobos dinding sucinya.
“Ayolah Anin, aku janji tidak akan membuat mu kesakitan seperti kemarin. Aku tau aku terlalu kasar, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memberikan kamu kepuasan.” Ujarnya panjang lebar sambil perlahan menarik Anin masuk kedalam pelukanya.
“Kepuasan? Tidak terimakasih kak, kemarin saja aku sudah sangat puas.” Jawab Anin dengan asal namun memang kenyataan nya seperti itu. Anin menjawab Asal agar Barra tidak lagi memaksanya.
__ADS_1
Wanita itu melepaskan pelukanya dan berjalan pelan menuju walk in closet untuk segera berganti pakaian sebelum sang suami menerkamnya.
Barra terdiam mendengar pernyataan Anin yang dampaknya membuat Barra sangat bahagia, bagaimana tidak jika secara tidak langsung Anin telah memuji kejantananya.
“Benarkah? Kamu serius Anin? Sejak kapan? Kenapa kamu tidak bilang padaku? Tapi kenapa kamu menangis kemarin? Apa aku terlalu kasar? Kamu beneran menikmatinya? Oh astaga kamu membuat ku kepikiran dan hawatir.” Tanya nya panjang lebar sambil mengekori Anin ke setiap tempat di dalam Walk in Closet itu.
Anin yang mendengar pertanyaan demi pertanyaan itu mengumpat dalam hatiny, pasalnya dia sangat bodoh dan malah membuat laki-laki itu terus mengekorinya. Anin mengambil salah satu piami itu lalu menatap Barra untuk mengusirnya.
“Kak,”
“Aku akan ganti baju, tolong keluarlah.” Ucap Anin dengan wajah yang masih terlihat kesal. Anin masih kesal dengan Barra yang berduaan di dalam ruangan kerjanya.
“Iya bisa saja kan dia melakukan hal aneh bersama Diana saat di ruangan itu, buktinya saat berduaan dengan ku juga dia melakukan hal-hal aneh.” Ketusnya dalam hati dengan pemikiran negatipnya.
__ADS_1
“Aku bilang malam ini aku ingin melakuaknya,”ujarnya kembali dengan raut wajah datarnya. Padahal beberapa menit yang lalu dia terlihat antusias dan terlalu banyak bicara beda dari sebelum-sebelumnya.
Anin melotot saat melihat perubahan dari raut wajah Barra, “kemarilah!” Ucap Barra sambil menarik pinggang wanitanya.
“Jangan bergerak,” bisik Barra di telinga Anin membuat gadis itu benar-benar membeku saat merasakan dingin karena handuk yang ia kenakan sekarang tengah di buka dan di jatuhkan begitu saja di atas lantai oleh sang suami.
“Tubuhmu sangat sexy, Anin. Aku tidak sempat melihat pemandangan ini karena waktu itu terlalu mendadak.” Ujarnya sambil menatap tubuh polos Anin yang berdiri mematung.
“Kali ini, aku akan menikmatinya.” Ujarnya lagi sambil menyingkirlan rambut panjang Anin kebelakang hingga tidak ada rambut lain yang menutupi bagian dafa wanita itu. “Kamu terlihat sangat lezat,” bisiknya membuat wanita yang bernama Anin itu merona seketika.
.
.
__ADS_1
To be continued…