
Anin duduk sambil mengelus perutnya, ia sedang menunggu kedatangan Dylan yang ingin bertemu dengan Anin. Barra mengijinkan itu karena Anin beralasan jika sanga anak yang ingin bertemu. Barra yang mudak sekali untuk di bohongi akhirnya setuju dengan catatan dr Frans, Asisten Bram dan Sekertaris Dafa harus ikut berada di sekitar nya.
“Anin, aku kira kita tidak akan bisa bertemu lagi?” Tanya Dylan saat duduk tepat di depan Anin. Mereka berdua duduk di pinggir pantai di sebuah cafe.
“Kak bagaimana kanarmu?” Tanya Anin dengan wajah berseri dan tidak ada raut kesal atau kecewa lagi pada nya seperti sebelumnya.
“Anin apa seindah itu menikah dengan Barra sampai kamu menunjukan wajah bahagia mu padaku?” Tanya Dylan dia merasa tidak terima karena Barra berhasil membuat Anin bahagia.
“Iya aku bahagia, karena kami sekarang punya anggota baru.” Ucap Anin sambil memperlihatkan perut yang sedang di elusnya.
Deg… jantung Dylan terasa begitu nyeri.
“Anin kau yakin sedang mengandung?” Tanya Barra.
“Tentu saja karena kami sering melakukanya.” Ucap Anin dengan tersipu malu.
Dylan terdiam sesaat dia tidak bisa merespon ucapan Anin karena pakta itu menbuat dirinya benar-banar ingin marah.
__ADS_1
“Kak.” Panggil Anin dia menyentuh lengan Dylan. “Aku ingin tau, apa kamu mencintaiku selama ini? Atau kamu ingin menjagaku karena aku mirip dengan Emely?” Tanya Anin.
Deg… Dylan semakin kaget di baut nya. Bagaimana Anin tau jika dirinya selama ini selalu menganggap Anin adik kesayangan nya.
“Kak, aku tau dan aku sadar selama ini kakak hanya menganggapku Emely, tidak lebih. Dan saat itu hanya aku yang cinta padamu.” Ucap Anin sambil tersenyum. Jujur jika ia mengetahui itu saat masih berpacaran dengan Dylan mungkin dia akan marah. Tapi sekarang dia merasa tidak keberatan karena ada pria lain yang sangat ia cintai.
“Anin…” lirih Dylan dengan wajah sedihnya.
“Lupakan aku Kak, lupakan Emely dia sudah tidak ada di dunia ini. Kakak tidak boleh terpuruk selamanya, kakak harus mencari kebahagiaan kakak. Kamu adalah pria baik yang pernah ada di dalam hatiku dan hidupku. Aku mohon berbahagialah.” Ucap Anin.
Sementara Barra yang mendapat kabar tidak enak karena Anin bersentuhan dengan Dylan dia pun bergegas keluar dari Villa nya dan menuju Cafe yang tidak jauh dari Billa nya itu.
“Aku sudah menemukan kebahagiaan ku, carilah kebahagiaan mu kak. Jangan bersama wanita-wanita tidak jelas sepeti kemarin, aku yakin kamu akan menemukan nya.” Ucap Anin lagi. “Dan satu lagi, kak Barra sangat menyayangimu.” Ucap Anin.
Dylan yang sejak tadi menunduk karena sedih, akhirnya dia menatap Anin. “Tidak bisa, dia telah membunuh Adik kesayangan ku.” Ucap Dylan dengan mata merah dan tatapan tajam nya.
Anin berdebar dia kaget saat mendengar ucapan Dylan bahwa suaminya adalah seorang pembunuh.
__ADS_1
“Anin ayo kita pulang.” Ucap Barra menarik lengan istrinya. Namun dengan cepat Dylan menahan lengan Anin agar tidak pergi.
“Anin lebih baik kamu bersamaku, aku takut jika kamu akan mati seperti Emely.” Ucap Dylan membuat Anin menatap ke arahnya.
“Tuan Dylan, sebaiknya anda mencari kenenaran nya dulu sebelum mempitnah kakak anda sendiri.” Ucap Dafa akhirnya dia tidak terima karena selama ini Dylan selalu menuduh tuany nya itu.
“Dafa hentikan.” Ucap barra saat melihat Dafa mengeluarkan berkas yang sangat ia taua isi dari berkas itu.
“Maaf tuan, saya tidak tahan lagi selama ini Tuan Dylan selalu menyalahkan anda.” Ucap Dafa lalu mentap Dylan. “Semua bukti ada di dalam berkas ini, Tuan Barra tidak bersalah. Hanya anda yang menyalah pahami Tuan Barra selama ini. Saya minta jangan menbuat Tuan Barra kembali trauma lagi karena anda Tuan. Saya harap dengan bukti ini anda bisa pergi dan tidak mengusik lagi keluarga kecil Tian kami.” Ucap Dafa akhirnya.
Barra menghela nafas karena Dafa akhirnya memberikan semua bukti yang menyatakan jika dirinya tidak bersalah. Barra pun menggendong Anin, dia tidak mau membuat istri dan anaknya setres karena masalahnya dengan Dylan.
.
.
To be continued…
__ADS_1