
Anin membelalakan matanya saat mendengar ucapan Barra, jujur jantungnya berdebar sangat cepat. “Apa yang akan dia lakukan dengan ucapanya itu?” Tanya Anin dalam hatinya di sedikit menjauh.
“Ma-maksud kakak apa?”
“Apa?” Barra bertanya balik.
“Me-memanjakan siapa?” Ucap Anin takut-takut salah.
“Aku tidak bilang apapun, kamu salah dengar kali.” Ucapnya bohong dengan menahan senyumnya, sungguh membuat Anin gelisah seperti ini membuat Barra senang. Dia baru tau ternyata membuat seorang wanita salah paham itu sangat menyenangkan di bandingkan sebelumnya yang selalu malas berurusan dengan seorang wanita.
Anin mendengus dia langsung masuk kedalam kamar dan meninggalakan Barra seorang diri di ruangan itu, wajah Barra sangat merah menahan tawa dan menahan rasa ingin menerkam istrinya.
Sementara di kampus tepatnya di ruang kerja Barra, Edwin mengangkat wajahnya dengan mata dan wajah merahnya. Wajahnya benar-benar pucat dengan mata sayunya.
“Astaga,” gumamnya sambil menutup mulutnya dengan lengan kananya. Dia tidak menyangka saat melihat jam di lenganya jika dirinya sudah menghabiskan beberapa jam untuk menonton hal yang tidak penting itu.
__ADS_1
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar, apa jam ku salah? Masa sampai 3 jam aku menonton ini!” Gerutunya kesal merutuki dirinya sendiri. Oh Edwin sungguh sangat ingin mengumoat pada Louis yang sangat lihai mencari Vidio yang begitu membuatnya ikut penasraan. “Pantas Barra langsung pergi mencari istrinya! Terus aku harus mencari siapa?” Tanya nya pada dirinya sendiri.
Edwin menatap Layar ponsel nya, “mati aku!” Gerutunya saat melihat banyaknya panggilan masuk dari Louis yang sudah pasti menunggu jawaban darinya.
Dengan cepat dia langsung menelpon kembali kakak sepupu Barra itu, dia tidak ingin menbuat Louis semakin murka.
“Kemana saja kau!” Sentak Louis yang sudah sangat penasaran dengan kabar yang akan di berikan Edwin. Hanya lewat pesan saja menurutnya tidak merasa puas jika tidak mendengarnya langsung dari mulut Edwin.
“Ma-maaf ka, tadi aku sibuk dengan kerjaan yang di tinggal Barra.” Jawab nya bohong.
“Iya, snagat ingin mene rekam, bahkan dia tidak bisa tidur saja dan terus berdiri.” Jawabnya namun hanya di jawab dalam hati karena Edwin menjawab apa yang sedang ia rasakan dengan kepala yang menunduk menatap bagian bawahnya yang sudah meronta-ronta ingin keluar.
“Ed! Jawab!” Sentaknya tidak sabaran.
“Iya Kak, dia langsung buru-buru keluar dan bilang akan pulang. Bukan kah seharuanya sekarang dia sedang bersama istrinya.” Jawab Edwin lagi dia smagat ingin menyudahi percakapan ini.
__ADS_1
“Benarkah? Kira-kira gaya apa yang akan dia pakai?” Tanya Louis penasaran karena banyak vidio yang menggunakan gaya yang mungkin Barra tidak pernah liat senelumnya.
“Mana ku tau!” Pekik Edwin dalam hatinya. Oh tuhan betapa menderitanya Edwin sekarang.
“Edwin!!”
“Ah iya kak, mungkin dia pake gaya ngang— eh nunggi— Emm aku tidak tau ka. Nanti ku tanyakan padanya saat bertemu denganya.” Jawab Edwin dengan wajah yang sudah sangat terlihat sengsara.
“Benar juga mana kamu tau dia mau pakai gaya apa, Oke deh kalau begitu, jangan lupa tanyakan itu saat bertemu denganya.” Titah Louis langsung mematikan ponselnya.
“Baik kak, shiiittt sial!! Main matiin saja!” Pekiknya dia langsung berlari kedalam toilet di ruangan itu dengan wajah pruatasinya.
.
.
__ADS_1
To be continued…