Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 14


__ADS_3

Dengan cepat pria itu memakai pakainya tanpa memperdulikan kejadian dimana dirinya sangat malu karena memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya, Barra dengan cepat membawa salep dan obat lainya lalu berjalan keluar dari walk in closet dan menghampiri Anin dengan penuh emosi karena gadis itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


Namun hal yang sangat dia sesali adalah ketika dirinya tidak pulang bersama dengan Anin, mungkin Anin tidak akan mendapatkan lebam-lebam di wajahnya.


"Kau bodoh! kenapa wajahmu bisa terluka seperti ini!" sentak Barra memutarkan posisi Anin menghadapnya yang duduk di samping gadis yang menatapnya. "Katakan! siapa yang melakukanya? Dylan? siapa Anin!" sentaknya lagi karena Anin hanya menatapnya tanpa memperdulikan pertanyaanya.


Sementara gadis yang sejak tadi di tanya hanya diam mematung, menatap tubuh yang sudah mengenakan pakaian itu dengan kagum. Anin baru pertama kali melihat tubuh seorang pria, dan itu adalah tubuh suaminya sendiri yang langsung membuatnya kagum.


Anin menatap pria berusia 28 tahun itu , dia baru menyadari jika wajahnya bak Dewa Yunani yang sangat tampan dengan mata biru gelapnya pria itu memperlihatkan pesona seorang Dewa. Dari situlah dia mengerti kenapa pria di depanya itu banyak mempunyai penggemar sampai berani melukai gadis lain yang ketahuan berdekatan dengan Dosenya itu.


"Anin!" sentak Barra menyadarkan gadis itu dari lamunanya, "apa memar-memar ini membuat kamu hilang ingatan!" sentaknya dengan mata tajamnya sambil mentoyor gadis kecil di depanya itu karena merasa geram tidak kunjung menjawab.

__ADS_1


"Ku tanya sekali lagi! siapa yang berani melukaimu! aku akan mencari orang nya sampai dapat dan membunuhnya!" sentaknya lalu berdiri dan beranjak dari duduknya.


"Tunggu kak," cegah Anin menarik lengan Barra dan membuat pria itu kembali duduk di sampingnya. "Jangan di perbesar masalahnya, ini hanya luka ringan."


"Katakan siapa! atau aku yang mencari tau sendiri?!" tanya Barra lagi dengan tatapan tajam dan rahang yang mulai mengeras, Anin tidak sanggup menatap suaminya karena dirinya merasa takut.


"Diana, dia marah karena melihat aku keluar dari ruanganmu Kak." jawab Anin dengan kepala menunduk.


"Kau itu istriku! Tidak boleh ada yang berani melukaimu! ketusnya lagi lalu terdiam melihat Anin meringis nyeri dia pun mengoleskan salep pada sudut bibirnya dengan gemuruh hati yang panas karena kekesalanya pada Anin yang tidak bisa menjaga tubuhnya dengan baik.


Barra dengan telaten mengobati Anin, namun matanyq terfokus pada bibir ranum Anin. Bibir yang pernah ia sentuh, rasanya sangat manis dan lembab bibir tebal itu sangat ingin ia sentuh detik ini juga. Namun mengingat Anin yang terluka seperti ini, sepertinya Barra akan mengurungkan niat untuk menyentuh wanita yang terluka seperti ini.

__ADS_1


"Istirahatlah, aku tidak berniat menyentuh wanita yang sedang terluka," ketus Barra lalu melangkah keluar dari kamar itu sesaat setelah selesai mengobati istrinya itu.


"Ish kenapa sih dia suka berubah-ubah sikapnya! kadang baik, kadang sangat kasar dan menyebalkan!" gerutu Anin sambil menatap pintu yang tertutup. "Kak Dylan pun sama! Kalian sangat menyebalkan!" gerutu Anin sambil membaringkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.


"Tapi kalo Kak Barra tidak heran seperti itu, karena dia selalu berwajah dingin." ucap Anin sambil meraih bantal dan memeluknya. "Tapi kenapa kamu yang selalu berkata-kata lembut padaku malah sangat menyeramkan saat kamu marah, Kak Dylan. Kamu jahat..." lirih Anin sambil meneteskan air matanya karena mengingat rasa sakit itu lagi.


.


.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2