
Barra menatap sinis sekertarisnya itu, namun dirinya pun tidak bisa melawan kakak sepupunya itu, selain menghormati pria yang dua tahun lebih tua darinya itu dia sendiri enggan membuat masalah karena sikap temperamental nya.
Akhirnya Edwin pun menceritakan semua yang telah terjadi tanpa kata sensor dan tanpa hal yang di sembunyikan membuat Barra memekik dalam hatinya untuk membuat Edwin merasakan akibatnya karena sudah berani menceritakan hal pribadinya, untuk saat ini di banding dengan Barra Edwin lebih takut berhadapan dengan Louis.
Setelah selesai mendengar perkataan Edwin, Louis hanya terdiam menatap datar Barra yang juga kini sedang menatapnya dengan perasaan aneh karena kakak sepupunya itu tidak kunjung berkomentar.
"Hahahahahhah!!!" tiba-tiba suara tawanya menggelegar di seisi ruangan itu. Membuat ketiga pria itu terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. "Barra, kau sangat memalukan! bagaimana mungkin seorang pria tidak tau jika dia masih perawan!" pekiknya sambil memukul-mukul sofa yang sedang ia duduki sambil menahan perutnya yang sakit akibat tertawa.
Barra hanya menatap datar pria itu dan kembali menatap sinis Edwin. Sejujurnya saat kejadian itu Barra semoat bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa memasukinya, di tambah pikiranya yang kosong dan rasa kesalnya dia tidak memperdulikan Anin yang kesakitan.
"Kau bahkan membuat gadis itu trauma," pekik Louis lagi karena Edwin bercerita jika Anin marah pada Barra dan sempat menolak untuk di sentuh saat samoai di rumah sakit. "Aku yakin setelah ini, dia tidak akan mau melakukanya lagi dengan pria yang bermain kasar," sindir Louis dan berhasil membuat Barra kaget hingga menatapnya dengan penuh tanya.
"Lebih baik diam jika belum pernah merasakanya," sindir Barra hingga membuat senyuman di bibir Louis hilang seketika dan tidak kalah menatapnya dengan sinis.
Frans dan Edwin yang menyadari jika keduanya kini saling melempar tatapan tajam berusaha membuat keduanya kembali mencair.
"Tidak apa-apa, pria seperti kamu lah Kak yang banyak di cari wanita di luar sana." ucap Frans berusaha membujuk kembali orang itu.
"Aku tidak yakin jika dia bisa mencintai seorang wanita!" ketus Barra yang masih merasa kesal.
"Maksudmu aku mencintai seorang pria?" tanya Louis tidak terima, pasalnya Louis memang sama sekali tidak pernah berdekatan lagi dengan seorang wanita sejak 10 tahun belakangan ini.
"Mungkin," jawab Barra acuh namun dirinya merasa sangat puas karema detik itu juga Louis langsung mengamuk, namun berusaha di tenangkan oleh Frans dan Edwin.
Barra yang tidak peduli dengan ketiga orang itu berpikir sejenak dengan kondisi Anin, dia akan merasa sangat menyesal jika Anin sampai membencinya dan merasa trauma. "Sudah berhenti bertengkar! lebih baik kalian membantuku," ujar Barra yang mulai pusing dengan ketiga orang itu.
__ADS_1
Louis, Edwin dan Frans pun langsung terdi dan duduk di tempatnya masing-masing dan teralih menatap Barra yang kini masih pusing dengan pemikiranya sendiri.
"Ada apa?" tanya Louis yang sudah duduk dengan sangat elegant di sofa.
"Aku tidak ingin dia trauma jika melakukan itu lagi denganku," ujar Barra dengan serius karena setelah melakukanya sekali kemungkinan ada yang kedua ketiga dan seterusnya, karena Barra tau betapa nikmatnya bercinta setelah pertama kali dia merasakanya.
"Melakukan apa?" tanya Louis dengan bingung karena pria itu sebenarnya jauh lebih polos dibanding Barra jika tentang percintaan.
"Tentu saja Bercinta, ah iya aku lupa jika kakak belum pernah melakukanya." ucap Barra membuat Louis kembali ingin memukulnya namun langsung di cegah kedua orang itu.
"Aku heran dengan mu pria yang punya kelainan seperti mu saja bisa jatuh cinta pada wanita yang jelas kekasih adiknya sendiri bahkan sampai merebutnya dan menikahinya," sindir Louis namun Barra hanya diam saja karema memang itu kenyataanya. "Aku tidak mengerti, kenapa cinta itu segila ini?" tanya Louis.
"Kau hanya belum bisa merasakanya, karena belum menemukannya." ucap Barra dan lagi-lagi membuat Louis terdiam.
Namun tidak dengan Barra karena pria itu pernah berkata demikian sebelum ia akhirnya menemukan Anin dan jatuh cinta kepadanya.
"Semoga kisah cintamu jauh lebih gila dariku," Pekik Barra dalam hatinya dengan senyum miringnya.
"katakan apa yang barusan kamu ucapkan dalam hatimu? kau pasti sedang memekiku kan" tanya Louis dengan penuh curiga dan sangat peka.
Barra menggeram dalam hatinya pria tidak berprikemanusiaan ini sungguh sangat peka pikirnya.
"Sudah-sudah, aku yang akan memberi kamu solusi. Karena disini hanya aku lah yang berpengalaman," ucap Frans dengan penuh percaya diri karena memang hanya dirinya lah yang sudah pernah bercinta dengan seorang wanita dan tentu saja berusaha membuat suasanya kembali mencair.
Barra menatap Frans dengan bingung namun di banding mendapat ide dari Louis dia sama sekali tidak percaya katena pria itu sampai sekarang masih menjomlo dan sangat jauh dari kata wanita, sementara Edwin jangan di tanya dia setiap hari bersama Barra jadi mana sempat dia berduaan dengan seorang wanita pikirnya.
__ADS_1
"Katakanlah," ucap Barra dan Louis bebarengan membuat Barra menatap Louis yang seperti seolah dirinya lah yang sedang menerima konsultasi ini.
"Pertama, kamu harus bersikap lembut pada wanitamu." ucap Frans sebelum dia melanjutkan ucapanya lagi Edwin lebih dulu menyela.
"Iya betul, kamu memang terlalu kasar padanya." ucap Edwin membuat Barra semakin geram pada sekertarisnya itu yang sudah semakin melunjak jika ada Louis di antara mereka.
"Apa kamu melakukan pemanasan sebelum bercinta?" tanya Frans yang sejak tadi penasaran karena dia mendapat kabar dari dokter yang memeriksa Anin jika wanita itu mendapatkan luka setelai percintaanya itu.
"Pemanasan?" tanya Barra kebingungan, apakah yang dimaksud adalah pemanasan seperti sebelum berolah raga? atau pemanasan seperti apa.
"Astaga apa kau tidak pernah menonton film biru?" tanya Louis yang ikut geram melihat sepupunya yang bodoh tentang urusan ranjang.
"Aku tidak pernah," jawab nya jujur.
"Huahhh!! hebat! adikmu bahkan lebih jago dari pada kamu," jawab Louis lagi sambil menepuk tangan karena pria suskes yang bergelimang harta ini punya sisi yang tidak bisa orang lain bayangkan sebelumnya sampai membuatnya berpikir jika sepupunya itu tidak mempunyai hasrat sedikitpun tentang wanita.
Dibanding dirinya setidak nya dia masih suka melampiaskan hasratnya sendiri dengan menonton film blue pikir Louis, walau akhir-akhir ini sudah sangat jarang.
Mereka berempatpun kembali melanjutkan membuat misi agar Anin tidak lagi taruma kepadanya dan bonusnya membuat Barra bisa bersikap baik kepada istrinya itu.
.
.
to be continued...
__ADS_1