
Dipeluknya Anin dengan kedua tubuh yang di rebahkan di atas ranjang, keduanya menatap awan lewat jendela lebar yang ada di samping ranjang.
“Dulu pertama kali melihatmu di sekolah, aku selalu melihatmu seperli Emily. Tawamu, sikap mu dan cantiknya juga sama kalian sangat mirip.” Jawab Barra, lalu Barra menatap Anin yang ada di dalam dekapannya karena tidak merespon ucapanya.
“Dia adiku dan Dylan. Dia sudah meninggal Anin kamu tidak perlu cemburu.” Ujar Barra tau jika Anin mempertanyakan Emily.
Anin menutup mulutnya dengn wajah terkejut, dia menatap suaminya dengan raut wajah sedih. “Maafkan aku kak, aku tidak tau jika kalian punya adik perempuan.”
“Iya, kami memang tidak pernah mengungkit Emily. Sejak saat itu aku selalu memperhatikan mu, aku sering tertawa sendiri hanya melihat tingkah mu.” Ujar Barra membuat Anin salah tingkah.
“Kapan? Dimana? Apa aku terlihat jelek saat itu?” Tanya Anin dia mempertanyakan kondisi wajahnya saat itu.
“Dalam kondisi apapun kamu tetap cantik.” Ujar Barra sambil mengecup kening Anin. Anin hanya merona mendengar ucapan Barra. “Tapi aku baru sadar jika aku menyukai mu saat tau jika kamu berpacaran dengan Dylan, saat itu aku berpikir jika aku hanya terobsesi padamu karena mirip adik ku, tapi ternyata aku menyukai mu lebih dari itu Anin sampai melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu.” Ujar Barra.
Anin mengerutkan kening nya, dia bingung dengan maksud melakukan berbagai cara. Anin berpikir apa yang selama ini Barra lakukan di belakang nya.
__ADS_1
“Tunggu, apa kak Dylan juga hanya terobsesi padaku karena aku mirip dengan Emily?” Tanya Anin curiga.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu?” Tanya Barra.
“Karena kak Dylan tidak pernah mau menciumku dia juga tidak pernah tergoda saat ku rayu.” Ujar Anin, namun ucapan itu membuat raut wajah Barra tidak suka.
“Kamu merayunya dan mengajaknya berciuman?” Tanya Barra dadanya sedikit nyeri dan merasa tidak rela. “Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?” Tanya Barra lagi dengan wajah yang serius.
“Ti-tidak ko, kami belum pernah lebih dari cium kening.” Ucap Anin dengan terbata wajah nya menunduk antara malu karena hanya sebatas itu dan takut karena Barra terlihat sangat serius.
“Disini?” Tanya Barra lagi dan saat Anin mengangguk dengan cepat dia mencium kening Anin dengan bertubi-tubi.
“Kenapa apa aku tidak boleh mencium mu?” Tanya Barra menghentikan aktifitas mencium kening Anin.
“Bukan begitu, hanya saja kondisi kakak sedang tidak baik.” Jawab Anin lebih mementingkan kondisi tubuh suaminya itu.
__ADS_1
“Apa kamu takut tertular penyakitku?” Tanya Barra dengan mengangkat kedua keningnya.
“Tidak bukan begitu, boleh ko silahkan.” Ucap Anin dengan cepat dia tidak mau suaminya slaha paham.
“Kalau ini boleh?” Tanya Barra sambil meremas salah satu dari dua buah dada istrinya itu.
“Ah, jangan sekarang kak. Kita masih harus berbicara serius.” Ucap Anin dia segera menarik lengan Barra yang sudah mulai menggerayangi tubuhnya.
“Lalu kapan aku bileh melakukan nya.” Tanya Barra.
“Setelah ceritanya selesai kak.” Ujar Anin.
“Tapi aku sudah tidak tahan.” Barra dengan cepat mencium bibir Anin dan tentu saja tanpa sadar Anin membalas ciuman itu.
.
__ADS_1
.
To be continued….