
Selesai mengecek hasil nya lewat tespack, Anin duduk dengan Barra karena dr Frans yang akan mengumumkan sesuatu yang Barra belum tau.
Sementara itu Anin tediam menundukan kepalanya, dia takut jika Barra tidak akan menerima kehadiran anaknya yang datang begitu cepat.
Terlebih mereka juga baru saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, Barra melirik pada istrinya yang berada di samping nya. Membuat dirinya sedikit cemas karena Anin terpihat terpuruk.
“Sayang.” Ucap Barra sambil memeluk istrinya itu. “Frans katakan apa istriku baik-baik saja?” Tanya Barra penasaran dia takut uika istrinya itu sedang sakit.
“Iya istrimu baik-baik saja, tapi dia tidak baik-baik saja jika berada di dekat mu.” Ucap Frans dengan ambigu membuat Barra terlihat sangat emosi.
Barra menatap tajam Frans. “Apa maksudmu Frans! Bicaralah yang jelas!” Ketus Barra.
“Anak mu tidak suka dengan bau badan mu. Karena itu lah Nona Anin mual-mual jika mencium aroma tubuhmu.” Ucap Frans dengan seringai di bibirnya, dia senang karena Barra kemungkinnan akan menderita karena anaknya itu.
__ADS_1
“Anak? Maksudmu apa Farns? Jangan membuatku bingung seperti ini!” Pekik Barra lagi.
“Aku hamil Kak.” Ucap Anin akhirnya membuat perhatian suaminya berapih padanya.
“Ha-hamil? Maksudmu Kita akan mempunyai anak?” Tanya Barra lagi tidak percaya, dia berusaha memastikan apa yang ia dengar.
Anin mengangguk, detik itu juga Barra pangsung memeluk sang istri. “Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga.” Ucap Barra senang. Anin tersentak dia tidak menyangka jika Barra menunggu kegadiran sang bayi, dia kira Barra akan sangat membenci anak kecil karena dia selalu dingin pada semua murid-muridnya.
Anin hanya tersenyum saat melihat Barra bertubi-tubi mencium kening dan pipinya, lalu beralih pada perutnya. Orang lain yang berkumpul di sana juga ikut senang dan terharu karena akhirnya Tuanya mempunyai keluarga kecil yang bahagia.
“Untuk itu seperti nya kamu harus bersabar hingga beberapa bulan lagi. Karena hari ini bayi mu baru sebesar biji.” Ucap Frans sambil terkekeh.
“Biji? Dia masih sebesar biji?” Gumam Barra membayangkan biji yang di maksud Frans. Sementara Anin tersenyum melihat tingkah sang suami, dia hanya mengelus perutnya pelan karena Anin sendiri tidak menyangka dirinya bisa memiliki Anak bersama Barra.
__ADS_1
“Kalau begitu kalian keluarlah sekarang, aku sedang ingin berduaan dengan istriku.” Ucap Barra setelah sadar jika dirinya tidak tahan untuk memeriksa keadaan istrinya.
Semua orang pun keluar, sementara Frans masih enggan keluar. “Tuan Barra, tolong jangan melakukan hal-hal ynag menbuat bayi anda terluka yah. Jangan menjenguk dia di usia dini karena masih rentan. Lebih baik anda bersabar untuk beberapa bulan kedepan.” Ucap Frans namun Bram segera mendorong Frans keluar dari kamar tuanya.
Sedangkan Barra sama sekali tidak peduli dengan ucapan Dr pribadinya itu.
“Sayang, apa kamu senang akhirnya kita akan mempunyai bayi?”tanya Barra membuat Anin tersipu malu. Tentu saja dia senang.
Tiba-tiba ponsel Anin bergetar memperlihatkan nama si penelpon. Barra dan Anin melirik ke arah Ponsel Anin, dan di sana tertera nama “kak Dylan.”
“Dylan?” Tanya Barra sambil menatap istrinya.
.
__ADS_1
.
To be continued…