
Pagi ini Anin memakai pakaian tertutup hingga ujung lehar, gadis itu tidak mau jika teman-teman nya di kampus melihat semua jejak merah di lehernya. Ia berjalan keluar kamar terlihat Barra sedang duduk di ruangan depan kamarnya, ia sibuk memainkan ponsel miliknya sambil menunggu snag istri keluar dari kamar.
Barra menatap ke arah Anin saat mendengar langkah kaki wanita itu lalu tersenyum ke arahnya, “kenapa kamu memakai pakaian hingga menutupi lehermu Anin?” Tanya Barra pura-pura tidak tau, pria itu berdiri mengikuti pangkah Anin.
Anin menggaruk belakang telinganya bingung menjelaskan hal yang sangat memalukan baginya.
“Aku takut jika orang lain melihat bekas-bekas merah yang ada di leherku.” Ucapnya pelan.
Barra tersenyum lalu menautkan jari-jarinya di jemari Anin. “Itu sangat indah, sayang sekali orang lain tidak bisa melihatnya.” Gumamnya dengan mengulum senyum di wajahnya. Mereka berdua menuruni Anak tangga, dengan wajah keduanya yang berseri entah mengapa hati keduanya terasa hangat dan nyaman.
Sangat lama Barra menantikan momen ini, momen dimana dirinya dan Anin hidup bahagia. Namun kebahagiaan itu sirna dalam sekejap karena kedatangan Dylan yang sangat tiba-tiba di kediaman Barra. Tentu saja pria yang bernama Barra itu langsung merasakan sesak di dadanya, Anin yang melihat Barra memegang leher dengan wajah merahnya pun sang istri langsung terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
“Kak, kamu kenapa?” Tanya Anin dengan kebingungan dan wajah hawatirnya. Barra tidak menjawab karena untuk bernapas saja terasa sangat sesak apalagi untuk berbicara. Urat ri lehernya terlihat sangat jelas membuat Anin semakin hawatir. “Kak, jawab aku!” Teriak Anin dia menatap lekat suaminya agar mendapat jawaban dia pun memeluk Barra saat pria itu hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya karena lemas.
“Suamimu itu tidak akan menjawab Anin! Lebih baik kamu ikut pergi dengan ku! Pria yang punya penyakit seperti dia tidak akan bisa menjaga mu.” Ucap Dylan kini pria itu sudah ada di depan mata Anin.
Anin yang sedang hawatirpun kini menatap kepada Dylan dengan tatapan tidak suka. “Untuk apa kamu kesini! Lebih baik kau pergi!” Sentak Anin kesal bukanya membantu kakaknya sendiri pria itu malah berbicara kasar tentang kakaknya dan detik itulah Anin merasa sangat bodoh karena mengira jika Dylan adalah pria yang sangat baik.
Dylan menarik lengan Anin hingga membuat Barra terjatuh karena Anin sudah tidak memeluk untuk menahan tubuh suaminya.
“Kak Barra!” Teriak Anin saat pria itu terjatuh ke lantai, Anin lalu berusaha melepaskan lengan yang di cengkram kuat oleh Dylan. “Lepaskan brengsek! Kau harusnya menolong kakakmu!” Sentak Anin akhirnya berkata kasar.
Anin terdiam untuk sesaat, Kepala pelayanpun datang membawa beberapa orang untuk menangkap Dylan.
__ADS_1
“Anin, percaya padaku! Pikirkan baik-baik ucapanku! Aku akan menunggumu cepat hubungi aku!” Teriaknya saat dirinya sudah langsung di seret oleh beberapa orang. “Aaarrgghh lepaskan sialan!” Pekiknya.
Anin yang sudah tersadar langsung memeluk Barra yang ada di lantai walau sangat penasaran dengan ucapan mantan kekasihnya itu, Anin lebih mementingkan keadaan Barra untuk saat ini.
“Nona, tunggu sebentar dokter akan segera datang.” Ucapnya namun Kepala pelayang itu berlari cepat keluar Mansion. Bukan berarti tidak mau membantu Tuanya, namun untuk tidak memperparah keadaan Barra dia pun harus cepat keluar dari tempat itu.
“Pak!! Kangan pergi!” Teriak Anin.
Anin langsung menatap Barra yang penuh dengan keringat, wajah merah dengan urat-urat leher yang terlihat tegang. “Tolong bertahan sampai dokter datang Kak.” Ucap Anin sambil memeluk kepala suaminya yang ada di pangkuanya.
.
__ADS_1
.
To be continued…