
Setelah berusaha sekuat tenaga mendapatkan pelepasan pertama dalam hidupnya Barra berbaring lemas di samping Anin, pria itu mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Diliriknya Anin yang juga berbaring di sampingnya dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti.
"Anin kamu kenapa?" tanya Barra sambil mengusap kepalanya, dirinya belum sanggup bangun untuk melihat kondisi istrinya karena jujur tubuhnya sendiri sedang sangat lemas.
"Aku bilang berheti, kenapa kamu terus melakukanya dengan sangat kasar!" ketus Anin dengan isak tangis yang sudah membasahi pipinya.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahanya." jawab Barra dengan jujur karena hal itu pertama kali baginya dan itu sangat luar biasa sampai dirinya sendiri tidak tahan untuk tidak bergerak degan sangat liar, Barra menatap miliknya yang sejak tadi masih berdiri padahal pelepasan sudah terjadi sekitar lima belas menit lalu.
Namum wajahnya mengerut saat melihat ada bercak darah pada bagian miliknya, lalu dia bangun dan terduduk menatap miliknya dengan sangat kaget sedetik kemudian dia menatap kesamping kirinya dimana ranjang beralas putih itu penuh dengan darah dan campuran cairan lain.
"Astaga, Anin kau berdarah." Barra dengan panik memegang paha Anin dan melihat kondisi gadis itu, namun Anin menutupnya dan memalingkan wajahnya. "Kita harus segera kerumah sakit," ajak Barra dengan cepat ia memakai pakianya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin pulang." jawab Anin yang berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut, namun Barra menariknya dan berusaha memakaikanya pakian.
"Ayo angkat tanganmu dan pakai pakaianmu, Anin." seru Barra dengan wajah yang sangat hawatir. Otaknya tidak kalah sibuk, dia terus berpikir kenapa darah itu bisa muncul.
"Apa aku terlalu kasar padanya?" tanya Barra dalam hatinya, dia pun menggendong Anin yang sudah mengenakan pakian dan membawanya keluar.
"Kak mau kemana kalian?" tanya Dylan yang sejak tadi menunggunya di luar dengan isi kepalanya yang rumit.
Barra tidak menjawab dia berjalannkeluar dengan sangat cepat, membuat Dylan ikut hawatir kepada Anin. Pria itu pun berlari kedalam kamarnya untuk memakai pakaian lebih dulu sebelum mengikuti Barra.
Namun langkahnya terhenti saat melihat darah segar yang ada di atas seprei putih, tubuhnya melemas dan kembali terduduk di atas lantai.
"Aaarrrrgghhhh!!! sialan!" sentak Dylan sambil menarik selimut yang ada di atas ranjang dan melemparnya dengan sekuat tenaga. Air matanya kembali menetes betapa menyesal dirinya, dan betapa kecewanya Dylan pada Anin dan juga Barra yang tega melakukanya di Apartemen miliknya lebih tepatnya di dalam kamar yang selalu di pakainya tidur.
Di dalam ruang tunggu rumah sakit VVIP yang di sediakan untuk Barra, Barra dan Edwin sedang duduk menunggu kabar dari Frans Dokter pribadinya yang sedang memeriksa Anin.
Barra terlihat sangat ketakutan duduk dengan sangat tidak tenang, tiba-tiba Frans masuk kedalam ruangan dimana tempat Barra menunggunya.
__ADS_1
"Frans. Bagaimana dengan istriku?" tanya Barra dengan cepat berjalan ke arah pria yang mengenakan jubah putih khas dokter itu.
"Bagaimana apanya? tentu saja dia sudah kamu perawanin Barra! Aku heran selama ini apa yang kamu lakukan sampai baru melakukan malam pertama denganya?" tanya Frans karena Barra dan Anin sudah menikah hampir 2 minggu lalu.
"Perawan? apa kamu yakin dia masih perawan?" tanya Barra dengan bingung karena jujur saja hatinya terasa senang, pantas saja dia merasakan hal yang aneh saat mulai memasukinya dan sampai membuatnya kesusahan karena sangat sempir pikirnya.
"Kau itu bodoh atau apa?" sentak Frans kesal, sebodoh-bodohnya orang yang belum pernah bercinta tidak ada yang sebodoh sahabatnya itu.
Barra pun menatap tajam pada Frans yang langsung terlihat pucat, dia tidak sadar jika sudah memekik pria berdarah dingin itu.
"Maaf Barra, maksudku bukan begitu."
"Katakan lah yang jelas!" ucap Barra dengan wajah dinginya.
"Anin masih perawan saat sebelum kalian bercinta, darah itu tentu saja hal yang wajah keluar saat pertamakali dia melakukanya." ucap Frans dengan hati-hati dia tidak ingin jika Barra kembali mengamuk padanya.
"Barra!" teriaknya saat membuka pintu, orang yang ada di dalamnya pun menatap kesumber suara. Mereka langsung berwajah pucat saat tau siapa yang datang termasuk Barra pria berdarah dingin itu pun tidak kalah pucatnya.
Lous victor namanya, pria itu mengerutkan kening nya saat melihat sepupunya baik-baik saja. "Kamu tidak apa-apa Bar?" tanya Louis menatap tajam Barra yang menatapnya datar.
"Kalian! berani-beraninya tidak memberi hormat padaku! padahal kalian tau jika aku datang untuk menjenguk Barra!" gerutunya kesal lalu duduk di sofa setelah melihat sekilas kondisi Barra yang baik-baik saja.
Frans dengan Edwin berhambur mendekati Louis sepupu tertua Barra yang sangat mereka segani dan takuti itu.
"Ya ampun, Kakak harusnya mengabariku lebih dulu jika tau mau datang kesini kan sudah pasti aku jemput." ucap Frans dengan sangat ramah, sementara Edwin dengan sigap menyiapkan minuman di meja untuk pria itu.
Barra yang di tatap Louis berusaha menghindari pria itu, dia sangat malas jika harus berurusan dengan sepupu tertuanya. "Aku harus pergi melihat keadaan istriku," ucap Barra untuk menghindari Louis namun memang ingin melihat kondisi istrinya.
"Tunggu! kemarilah!" ketus Louis seolah tidak mau menerima penolakan.
__ADS_1
"Ayo sini Barra," ajak Edwin membuat Barra duduk di samping Loiis, Edwin tidak mau melihat Louis mengamuk hanya karena Barra tidak mau menuruti perintahnya.
"Aku kira kamu yang terluka, ada apa dengan istrimu?" tanya Louis pada sepupunya itu. Namun Barra tidak kunjung menjawab, dia malah duduk dengan santai di samping nya.
"Barra! kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" tanya Louis membuat Edwin dan Frans yang ada di sana ketakutan. Dia takut jika hanya karena Barra tidak menjawab mereka berdua harus kena getahnya karena kekesalanya kepada Barra sudah pasti di limpahkan kepada Frans dan Edwin.
"Kamu mau cerita sendiri? atau aku yang harus mencari tau apa yang sedang terjadi?" ancamnya dengan senyum di wajahnya membuat Frans dan Edwin semakin merinding.
Barra tidak memedulikan pertanyaan sepupunya, karena dirinya masih memikirkan kesalahanya yang sudah membuat istrinya terluka dan menuduh istrinya tidak perawan pikirnya.
"Satu..." ucap Louis memberi waktu karena biasanya dalam hitungan ketiga pria itu sudah pasti akan berulah.
"Sial!!! " pekik Frans dalam hatinya karena dirinya merasa sangat terancam.
"Dua," ucapnya lagi sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tanganya, Barra salah satu orang yang takut juga dengan Louis namun tidak separah Edwin dan Frans. Namun Barra sangat gengsi jika harus menceritakan madalah ini kepada sepupunya itu, di tambah pria itu sudah pasti akan memojokan dirinya.
"Ti..."
"Tunggu," ucap Frans dan Edwin serempak hingga memotong ucapan Louis.
"Ceritakanlah," ucap Louis dengan senyum sinis di wajahnya dan kedua lengan yang melipat di depan dadanya.
"Biar aku yang cerita," ucap Edwin karena jika Frans yang cerita hanya akan membuat Louis emosi karena ketika gugup menghadapi Louis, Frans pasti terbata-bata dan ceritanya akan buyar di tengah jalan.
.
.
to be continued...
__ADS_1