Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 6


__ADS_3

Barra sejak tadi tidak pokus untuk bekerja, entah mengapa suasana hatinya sangat senang hanya karena Anin berniat untuk mengantarnya pergi seperti sepasang suami istri sesungguhnya.


Sejujurnya kebangkrutan perusahaan keluarga Anin ada campur tangan pria tampan bernama Barra itu, dia sangat ketakutan saat mengetahui Anin adalah kekasih adiknya sendiri dan Barra menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Anin agar tidak jatuh di tangan adiknya.


"Barra!" panggil Edwin dengan sedikit nada tinggi karena pria itu sejak tadi tidak menjawab pertanyaanya, membuat Barra yang sedang tersenyum dengan pemikiranya sendiri beralih menatap nya tajam.


"Bisakah kau berbicara dengan pelan, Ed!"


"Maaf, sejak tadi kamu tidak fokus bekerja. Aku hanya sedikit hawatir," ujar Edwin karena itu mempengaruhi pekerjaanya yang biasanya selesai hanya satu jam untuk memeriksa 3-4 berkas, kali ini Barra tidak selesai satu pun berkas yang sejak tadi di pegang nya.


Brak.


"Tu-tuan, maafkan saya tiba-tiba masuk." ujar pria bersetelan hitam itu dia datang ke ruangan Barra dengan sangat terburu-buru.


"Ada apa, Nic?" tanya Edwin pada salah satu kaki tanganya itu.


"Tuan Dylan ternyata sudah ada di Jakarta karena mengetahui pernikahan anda, Tuan." ucap Nico sambil menunduk takut jika Barra akan mengamuk karena kelalayan salah satu anggotanya.


"kau bilang jika dia aman bersama para wanita nya di hawai, lalu kenapa dia sudah ada di jakarta?" sentak Edwin yang lebih marah dari pada Barra.


"Dia ternyata mengawasi Nona Anin selama ini, dan Radit yang memberi info disana yang mengawasi tuan Dylan ternyata tertangkap." ujarnya semakin menundukan kepalanya.


"Sudah kuduga, tutup semua akses agar Dylan tidak bisa menemui Anin." suruhnya walau diam hatinya benar-benar cemas jika Anin akan bertemu Dylan dan melarikan diri dengan pria itu.

__ADS_1


"Maaf tuan, tapi dia sudah ada di Mansion utama." ujar Nico yang sejak tadi tidak bisa mengucapkan kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulutnya walau mungkin wajahnya akan babak belur.


"Sial!! kenapa kau tidak bilang dari tadi!" sentak Barra dengan sangat emosi. "Arrrgghhh!!!" kesalnya sambil menghempaskan semua barang-barang yang ada di atas meja membuat otot-otot Nico lemas.


Sementara Edwin kembali menghembuskan nafasnya kasar, karena dia harus kembali mengganti perabotan di ruang kerja Barra. Edwin langsung berlari mengikuti Barra yang sejak tadi sudah berlari keluar perusahaanya untuk menemui Anin.


Tanpa menunggu lama Barra langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.


 


Di mansion utama Anin sedang menangis seorang diri di mansion besar itu, dia merindukan Ayah yang selalu membuatnya tertawa, Ayah yang selalu memanjakanya Anin sangat merindukan dan menghawatirkan bagaimana nasib Ayahnya saat ini.


Anin melirik ke arah pintu yang terbuka, dia pikir jika itu adalah Barra namun dia sangat terkejut saat melihat sosok kekasih yang sudah hampir dua minggu tidak di temuinya, rasa takut mulai melanda dirinya saat melihat raut wajah yang selalu tersenyum itu sedang menatap dirinya dengan penuhamarah.


"Katakan padaku jika kau belum di sentuh olehnya Anin!" sentak Dylan tiba-tiba dengan penuh amarah sambil mencengkram kedua pundak Anin, gadis itu pun meringis sakit dan menatap wajah kekasihnya dengan sangat sendu.


"Kak, aku ingin pergi bersamamu." pinta Anin yang memang sangat ingin pergi dari tempat itu. "Bawa aku pergi,"


"Jawab aku, Anin! sentaknya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya Anin pun meneteskan air matanya bersamaan dengan sentakan dan cekraman yang semakin kuat itu.


Anin menggeleng, "tidak kak! dia tidak menyentuhku." air matanya mulai mengalir dengan deras di pipinya, karena ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti ini. Dylan yang biasanya selalu berkata-kata manis dan tersenyum ke arahnya, berubah menjadi pria yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Rahang yang mengeras dengan mata merah melotot ke arahnya seolah ingin melahapnya hidup-hidup.


"Kau bohong, Anin! katakan padaku jika dia benar-benar tidak menyentuhmu!" sentaknya lalu menarik kerah baju Anin hingga ke ujung pundaknya untuk memastikan ucapan kekasihnya. "Dimana dia menyentuhmu! katakan dengan jujur!" Dylan kembali membentak Anin.

__ADS_1


"Cukup, Kak! kamu datang ke sini hanya untuk melihatku sudah di sentuh olehnya! Atau kau datang ke sini karena akan membawaku pergi!" sentak Anin yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Dylan, yang mungkin saja memang kesal karena mengetahui pakta jika kekasihnya sudah di nikahi kakaknya sendiri.


"Kau kira aku bodoh! kau pasti sudah di sentuh olehnya! apa kau sadar jika selama ini aku selalu menjaga mu? Aku tidak pernah menyentuhmu Anin! kenapa kau membiarkan dia menyentuhmu!" Dylan berteriak sambil menangis, hatinya sangat di penuhi emosi.


"Aku sudah berkata jujur padamu! jika memang Kakak tidak percaya padaku, lebih baik Kakak pergi." ucap Anin dengan pasrah, karena jika pun dia ikut dengan kekasihnya itu Dylan akan semakin menuduhnya seperti apa yang dia lakukan saat ini. Anin tidak menyangka jika kekasihnya mempunyai sipat lain yang seperti ini yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.


"Aaarrrggghh!! kau berani membuangku, Anin!" sentaknya sambil mendorong gadis itu hingga terjatuh di atas kursi.


Anin berteriak kaget dengan dada yang terasa nyeri, pria yang selalu perhatian padanya, memberikan cintanya dengan bentuk keromantisan dalam hubunganya tega mendorong Anin begitu saja dengan amarah yang tidak terkendali.


"Aku benci padamu kak, Aku senang saat kamu datang padaku karena aku kira kamu akan membawaku pergi. Tapi kamu malah menuduhku dan mendorongku seperti ini!" ucap Ainin dengan nada lemah sambil memeluk dirinya sendiri. "Lebih baik hubungan kita sampai di sini," ucap Anin sambil memalingkan wajahnya.


"Apa kau bilang!" sentak Dylan sambil melangkah ke arah Anin, namun pintu yang sejak tadi terkunci itu tiba-tiba terbuka karena Bram dan beberapa orang lainya langsung mendobrak pintu itu, beberapa pria bersetelan serba hitam langsung menarik Dylan menjauh dari Anin.


"Lepaskan!" sentak Dylan sambil memberontak, namun mereka menariknya keluar dari ruangan itu


"Anda tidak apa-apa Nona Anin?" tanya Salah satu pelayan yang langsung mengecek keadaan Tuanya saat memasuki ruangan itu. Keempat pelayan wanita itu terlihat sangat hawatir karena Anin terus menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya sambil nangis tersedu-sedu.


"Nona, katakan padaku apa anda terluka?" tanya Risa pelayan muda yang mengajaknya berbicara tadi pagi.


.


.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2