Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 15


__ADS_3

Di ruang kerja di dalam Mansion Barra sedang menghubungi Edwin dengan raut wajah kesalnya dan hati yang panas. "Aku ingin malam ini juga, buat Diana babak belur lebih parah dari pada Anin!" sentak Barra karena Edwin tidak menuruti permintaanya.


Ya Edwin menolak untuk melukai seseorang, apalagi dia adalah seorang perempuan muda dan lebih parahnya lagi dia anak didik Barra sendiri, Edwin merasa Barra terlalu berlebihan untuk ikut campur dalam urusan muridnya, apalagi ini pertama kali nya dia meminta hal kasar seperti ini.


"Lakukan! atau aku yang akan melakukanya?" ancam Barra dan langsung membuat Edwin tegang di tempatnya.


"Baiklah, aku akan langsung menemuinya." ucap Edwin dan langsung di tutup begitu saja sambungan telpon itu oleh Barra.


Barra menatap photo yang sejak tadi di pegang dengan tangan kanannya, melihat sosok gadis cantik yang tengah tersenyum cerah dengan kedua rambut yang di kuncir dua di atas kepalanya.


Lalu Barra mengeluarkan satu buah photo lagi dari dalam lacinya dan membandingkan photo kedua gadis kecil itu. "Kalian memang sangat mirip," gumamnya menatap sendu gadis kecil yang sangat ia sayangi, Emily namanya. Dia adik terakhir dari Barra dan Dylan, namun Emily sangat dekat dengan Dylan karena pria itu sangat menyayangi adiknya.

__ADS_1


Adik yang sangat ia sayangi juga, Barra sangat merindukan sosok cerewet adiknya itu. Namun sayang umur gadis itu tidak lama, membuat kepergianya menjadi luka untuk anggota keluarganya termasuk Barra dan Dylan.


Selang setengah jam Edwin menghubungi Barra kembali.


"Bagaimana?" tanya nya tanpa basa-basi menunggu kabar yang di harapkan.


"Aku tidak yakin untuk bisa melukainya." jawab Edwin membuat Barra mengerutkan keningnya, apakah sahabatnya itu sangat tidak tega melukai seorang wanita atau ada alasan lain sampai dia berkata seperti itu. "Dia sudah babak belur sebelum aku lukai," lanjutnya membuat Barra semakin heran.


"Sepertinya Diana kalah dari Nona Anin, dia sedang makan bersama teman-temanya dan mengadu jika mereka bertengkar sampai wajahnya babak belur," jawab Edwin membuat Barra langsung terbahak-bahak mendengar jika Anin ternyata tidak kalah dan malah mengalahkan lawanya.


Tanpa mendengar lagi ucapan Edwin dia langsung menutup sambungan telponya, dan kembali menyimpan photo itu kedalam laci.

__ADS_1


Disebrang sana Edwin mengumpat kesal pada sahabatnya yang tidak jelas dan tidak mau mendengar ucapanya, "menyebalkan! dia selalu membuatku kebingungan. Ini gimana lanjut apa engga?" gumamnya karena Barra tidak mendengarkan ucapanya yang bertanya apakah dia harus melanjutkan tugasnya untuk melukai Diana atau tidak perlu karena wanita itu lebih banyak luka dibanding Anin.


Sementara Barra yang merasa bangga kepada istrinya itu tersenyum sambil mengelus pipi mulus Anin, "ternyata kamu tidak selemah yang ku kira, sayang." ucap Barra dengan malu-malu walaupun Anin tertidur dengan pulas.


"Kak Dylan," gumam Anin yang sedang mengigau. Namun detik itu pun Barra melepaskan lengan yang sedang menyentuh pipi Anin dengan dada yang terasa sakit dan rasa kesal yang sudah menyelimuti dirinya, Barra menatap tajam gadis yang sedang tertidur pulas itu lalu meninggalkanya pergi keluar dari kamar dengan perasaan kesal dan marah.


.


.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2