
Anin tidak mengerti arti bunga yang di berikan Barra dalam rangka apa dia memberinya, namun entah mengapa dirinya sangat senang namun ekpresi wajahnya tetap di jaga seolah terlihat biasa-biasa saja.
"Ayo kita makan ini," ajak Barra dia mengambil mekanan itu untuk di unjukan pada istrinya namun Anin menolak.
"Biar aku yang kesana," jawabnya karena jujur Anin sangat bosan duduk di atas ranjang dia lebib memilih berjalan dan duduk di atas sofa.
Barra menatapnya lalu memperhatikan Anin yang kesulitan berjalan, "Apa itu sangat sakit?" tanya nya di dalam hati karena Anim berjalan sedikit mengangkang.
Wanita yang tengah berjalan itu teriak kaget karena tubuhnya merasa melayang saat Barra mengangkatnya dan mendudukanya di atas sofa, Barra lalu membuka satu persatu makanan yang ia beli tadi.
Anin membenarkan posisi dan pakaianya bagaimana pun dia ingin terlihat rapi dan tidak nerantakan di depan Barra, Anin menerima kue yang di berikan Barra.
"Kak, aku tidak suka." ucap Anin menatap kue itu.
"Kenapa? apa kamu tidak ingin melakukanya lagi karema tidak suka?" tanya Barra yang sejak tadi terus berbicara sendiri di dalam hatinya, bagaimana bisa Anin tau isi hatinya pikir Barra.
"Melakukan apa?" tanya Anin bingung kini wanita itu menatap Barra lalu di detik berikutnya dia menundukan eajahnya karena kiti otaknya telah terkontaminasi dengan bayangan-bayangan saat Barra tidak sedang memakai pakaianya. "Aku hanya tidak suka buah mangga," ucap Anin karena cake itu penuh dengan taburan mangga.
Barra yang mendengar ucapan Anin membuat dirinya sendiri malu, namun masih dengan wajah datarnya hingga rasa malumya tidak terlihat. Barra sangat malu karena dia kira Anin membicarakan kejadian waktu di kediaman Dylan.
"Makan inilah, apa kamu tidak suka strawberry juga?" tanya Barra karena dia takut jika Anin tidak menyukainya juga.
"Aku suka," jawabnya dengan sangat pelan. Barra oun menyodirkan kur itu dan mengambil kue yang tadi Anin pegang. Mereka memakan kue itu dalam diam, tidak ada yang bergeming sedikitpun, karena keduanya masih bingung harus berinteraksi seperti apalagi.
"Barra," panggil Louis yang tiba-tiba masuk. Anin pun bernapas dengan lega karena napas nya kembali normal saat sebelumnya merasa jika suasana ruangan ini sangat mencengkam.
__ADS_1
Sementara Barra kembali malas menatap Louis yang dengan mudahnya keluar masuk ketempat yang dia inginkan tanpa meminta ijin pada pemiliknya.
"Siapa?" tanya Anin menatap Barra.
"Sepupuku," jawabnya singkat sambil menatap sepupunya yang sudah duduk di depanya itu.
"Bagaimana kondisi mu, Anin?" tanya Louis dengan santai pada Anin yang sekarang sudah terlihat malu, pasalnya dia bukan sedang sakit karena penyakit atau yang lainya hal sensitive seperti ini sangat memalukan baginya apalagi sampai orang lain tau. Rasanya ingin sekali dia menggali tanah dan mengubur dirinya sendiri.
"Dia baik-baik saja, dan lebih baik lagi jika Kakak tidak ada di sini." jawab Barra dengan ketus, membuat Anin yang menundukan langsung mengangkat kepalanya karena pria itu berlaku tidak sopan pada sepupunya.
"Jangan terlalu didengarkan Anin, dia memang selalu berkata kasar. Namun hatinya seperti kelinci," ucap Louis "Aku Louis kakak sepupu suamimu, kita mungkin tidak pernah menemui Barra di Mansionya namun di luar aku pasti sering menemuinya." ucap Louis yang langsung di lempari tatapan tajam dari Barra, Anin yang tidak mengerti maksud dari ucapanya hanya menganggukan kepalanya.
Anin tidak menyangka jika anggota keluarga Barra semuanya ternyata berwajah tampan, namun wajah Louis tidak jauh beda dengan Barra tidak ada senyuman di wajahnya.
"Hanya ka Dylan yang sering tersenyum," gumamnya dalam hati dengan senyum tipis di bibirnya, namun senyuman itu hilang saat mengingat jika alasan Anin bercinta dengan Barra karena sakit hatinya kepada Dylan.
Sementara Louis dan Barra sejak tadi sudah berubah topik dengan hal yang menyangkut pekerjaan, Anin ingin menangis karena tidak kuat dengan kejadian yang akhir-akhir ini menimpa dirinya.
Dimana ayahnya yang selama ini menyayanginya tega menjual dirinya pada pria yang juga selalu berbicara kasar dan dingin ini, Dylan yang tega menghianatinya selama hubungan yang mereka jalin.
Namun hatinya menghangat saat mengingat jika dirinya tidak melangka ke jenjang yang lebih serius bersama Dylan, entah mengapa tiba-tiba dia bersyukur karena menikah dengan Barra dan bukan dengan Dylan walau pria ini jauh lebih kasar di banding Dylan setidak nya dia tau jika pria ini tidak pernah bermain wanita.
Anin langsung menatap Barra saat teringat jika selama ini Barra mengetahui kelakuan adiknya, Barra pun menatap Anin saat sadar jika dirinya sedang di tatap.
"Apa kamu ingin istirahat?" tanya Barra bingung karena Anin sama sekali tidak berbicara dan hanya menatapnya.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya aku harus kembali. Kabari aku jika sudah tidak sibuk," ujar Louis lalu berdiri menatap Anin. "Semoga cepat sembuh, tolong maklumi sepupuku itu karena dia tidak punya banyak pengalaman." ucap Louis sambil tersenyum mengejek pada Barra yang sudah menahan amarahnya.
Pria itu tertawa lalu pergi, sementara Anin dia masih terlihat bingung menatap Barra.
"Ayo naik ke atas ranajng," ucap Barra langsung mengangkat Anin yang sama sekali buat siap.
"Kakak, aku bisa jalan sendiri." ucap Anin yang langsung mengalungkan lenganya di leher Barra karena takut jika tubuhnya akan terjatuh.
"Aku tidak mau kamu terluka lagi, maafkan aku karena sudah melakukanya dengan kasar Anin." ucapnya setelah mendudukan Anin di atas ranjang, Barra meraih lenganya dan mencium pelan punggung lengan Anin.
Sementara Anin yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti ini dari Barra tentu saja kaget dan tidak percaya, namun entah mengapa jantungnya ikut berdebar dan bergemuruh di dalam sana.
"Ya tuhan, kesambet apa ini Dosen balok?" gumam Anin dalam hatinya.
"Bagaimana Anin?" tanya Barra karena sejak tadi Anin tidak menjawab pertanyaan nya dan malah sibuk dengan pemikiranya sendiri.
"A-apa kak?" tanya Anin bingung.
"Aku suamimu, aku disuruh mengobatimu. Jadi tidak apa-apa kan jika aku yang mebgobatinya?" tanya Barra lagi karena sebelumnya dia sudah bertanya itu namun Anin tidak mendengarnya.
"Iya kak," jawab Anin singkat, untuk memberi obat saja kenapa dia harus meminta ijin pikir wanuta itu. Dia menyenderkan tubuhnya dengan santai dengan wajah yang kembali normal karena sesaat sebelumnya jantung Anin tidak karuan di buatnya.
"Kalau begitu buka celanamu dan lebatkan pahamu," ucap Barra yang sudah siap dengan salep di tanganya, perkataan yang kaluar dari bibir ranum pria itu sontak membuat Anin terkejut dan bangun dari sandaranya.
.
__ADS_1
.
to be continued...