
Anin melangkah masuk kedalam kamar menatap Frans dan Barra yang masih terkejut karena mendengar percakapan mereka.
“Katakan apa yang sedang kalian bicarakan.” Tanya Anin dengan wajah serius nya. Karena tidak mendapat jawaban dari Barra, Anin pun menatap Frans yang berdiri di samping nya.
“Se-sepertinya aku harus kembali dan memeriksa paksienku yang lain.” Ucap Frans dia mengalihkan pandangan nya dari mata Anin yang menatap dengan penuh tanya.
“Sebaiknya kalian berbicara berdua, aku pamit Nona Anin.” Ucap Frans dengan bergegas pria itu pergi keluar. Frans tidak ingin mengganggu percakapan mereka berdua, dan ia berharap jika Barra berkata jujur kepada istrinya.
“Kak, apa kakak tidak mempercayaiku sampai harus menyembunyikanya dari istrimu?” Tanya Anin pada Barra yang kini menghindari kontak mata dengan nya.
“Kak, lihat aku dan jawab pertanyaan ku.” Ucap Anin lagi dia meraih dagu suaminya agar menatap kearahnya. Barra menatap wajah istrinya dengan sendu, dia takut jika dirinya berkata jujur Anin akan meninggalkanya.
“Apa kamu sudah mengakui aku sebagai suamimu?” Tanya Barra tiba-tiba keluar dari topik pembicaraan.
__ADS_1
“Apa kamu akan pergi bersama Dylan jika pria itu kembali menjemputmu dan berjanji akan berubah?” Lanjut Barra mempertanyakan semua ketakutanya selama ini.
“Aku sudah pergi dengan nya sejak lama jika aku masih mencintainya kak, tapi apa? Aku masih ada di sisimi sampai saat ini itu karena aku sadar jika kamu adalah suamiku dan aku adalah istrimu.” Ucap Anin dengan panjang lebar berusaha memastikan pada Barra jika dirinya tidak akan meninggalakn pria itu.
Bara tersenyum mendengar jawaban istrinya, itu artinya Dylan sudah tidak ada di dalam hati sang istri. “Apa kamu akan menerima kekuranganku?” Tanya Barra lagi. Namun pertanyaan itu bukanya Anin jawab dia malah langsung memeluk Barra sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.
“Apa kakak belum sadar seberapa aku hawatir dengan kondisimu? Aku tau jika aku dijual hanya untuk membayar hutang ayah ku. Pantaskah aku yang mempunyai banyak kekurangan ini membuang pria sebaik dirimu hanya karena satu kekurangan nya?” Ucap Anin dia balik bertanya kepada Barra.
“Mencintaiku?” Tanya Anin dengan mata yang membulat sempurna dan mulit yang menganga.
“Tutup mulutmu, nanti lalat masuk kedalam mulut mu Anin.” Ucap Barra sedikit becanda, dia sendiri tidak menyangka akan menyatakan perasaan nya dalam keadaan seperti ini.
“Kak, katakan dengan jelas apa yang barusan aku dengar?” Pinta Anin dia sangat penasaran bagaimana bisa, sejak kapan, dan kenapa dirinya tidak tau pikir Anin dalam benaknya terus bertanya-tanya.
__ADS_1
“Kemarilah, aku akan bercerita padamu.” Ucap Barra dia menjulurkan kedua lengan nya untuk meraih Anin masuk kedalam pelukanya.
Anin tanpa segan masuk kedalam pelukan suaminya dan ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala yang bersandar di dada bidang suaminya.
“Aku tidak tau jika kakak menyukaiku, tapi itu sejak kapan? Jangan bilang sejak aku pacaran dengan Kak Dylan?” Tanya Anin bertubi-tubi. Wanita itu terus menerka-nerka sesuatu yang telah terjadi.
“Itu di mulai saat aku…”
.
.
To be continued…
__ADS_1