
Barra berjalan dengan pakaian yang rapi, dia mencari Anin yang sudah tidak ada di dalam kamarnya. Kemungkinan gadis itu sedang berada di dapur dari aroma masakan yang tercium.
"Apa yang sedang kamu lakukan!" sentak Barra yang masih dalam suasana kesal akibat semalam melihat Anin yang memimpikan Dylan.
"Kak, aku sedang masak untuk sarapan kita." jawab Anin yang baru saja selesai masak, dia menghidangkan nasi goreng ke dalam piring.
"Kau tidak perlu repot-tepot masak Anin! jika kau mau kau bisa menyuruh Bram untuk menyiapkanya."ketus Barra lagi karena dia tidak mau jika Anin mengerjakan segala sesuatu seorang diri.
"Tidak apa-apa aku bisa membuatnya sendiri kak." jawabnya sambil membawa nasi goreng itu ke atas meja di depan Barra yang sedang duduk. Barra meliahat hasil masak Anin dengan datar.
"Maksudku aku tidak suka jika barang-barangku disentuh olehmu! jadi kamu tidak perlu melakukan semuanya sendiri, suruh saja para pelayan. Kerjamu di sini hanya melayaniku! kamu paham Nanin?" tanya Barra dengan mata tajamnya.
Anin menghela napasnya dengan kasar, pria ini memang selalu berkata kasar padanya. Jujur saja Anin sangat ingin memakinya balik namun dia masih sadar diri jika dirinya hanyalah seorang murid. Dan apa katanya? hanya melayani dirinya, Anin sampai lupa jika bukan karena Diana yang melukainya mungkin semalam tubuhnya sudah habis di makan Dosen balok ini pikirnya dalam hati.
"Sedang apa kau! Cepat ganti pakaian mu, mulai sekarang pulang pergi kamu harus ikut bersamaku. Kecuali di jadwal yang berbeda kamu di antar Bram," titah Barra yang menatap Anin dan Nasi goreng bergantian.
"Baiklah, tunggu sebentar. Kakak sarapan saja dulu, aku akan ganti pakaian sebentar," ucap Anin dengan maksud baik karena Anin berniat membujuk Barra agar pria itu dapat membebaskan dirinya dari kewajiban seorang istri.
__ADS_1
"Kau pikir aku makan makanan seperti ini?" ketus Barra sambil memalingkan wajahnya." Cepatlah Anin aku tidak mau terlambat hanya karena menunggu mu!" sentaknya lagi, Barra masih sangat kesal kepada Anin yang kapanpun masih memikirkan Dylan pria yang menghianatinya itu.
Tanpa menjawab gadis cantik berambut panjang itu berjalan meninggalakan Barra menuju kamarnya untuk mengganti pakaianya, "menyebalkan! kenapa aku harus menikah dengan pria menyebalkan seperti itu!" getutunya lesal sambil menghentak-hentakan langkah kakinya.
Dengan cepat Anin mengganti pakianya, dan mengambil ranselnya. "Awas saja! Aku akan memakan langsung dua porsi nasi gorengku di depannya! dan aku tidak akan memberinya jika dia tergiur dengan masakanku!" gerutu Anin kesal.
Dia kembali berjalan ke ruang makan untuk pergi sarapan sebelum berangkat, namun matanya melotot saat melihat dua piring di atas meja itu sudah kosong. "Kemana nasi goreng ku ka?" tanya Anin sambil menatap kedua oiring itu.
"Sudah ku buang! bau nya sangat tidak enak, mengganggu penciumanku saja!" ketusnya lalu meraih tas kerjanya yang ada di kursi sampingnya. "Ayo," ajak Barra sambil berdiri menatap Anin.
Anin yang masih kesal karena Barra membuang nasi gireng yang cape-cape ia buat pun langsung menatap Barra sengan sinis, namun tatapan sinis itu melemah saat melihat serpihan nasi goreng yang tertinggal di sudut bibirnya pria yang baru saja bilang jika dirinya membuang nasi goreng Anin. "Munafik," gumam Anin dalam hatinya. Diapun berjalan mengikuti Barra yang sudah lebih dulu berjalan.
"Aw," ringis Anin saat tubuhnya menabrak tubuh besar Barra yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Kalau jalan tub sambil di liat Anin! jangan melamun!" ketusnya karena sejak tadi Anin tidak menjawab pertanyaanya. "Apa kamu marah karena aku sudah membuang makananmu?" tanya Batta menatap gadis itu.
"Iya aku kesal jika makanan yang kubuat terus kakak buqng, tapi aku tidak jadi kesal karena makanan itu masuk kedalam perut manusia yang tidak mau memakanya." sindir Anin lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Barra.
__ADS_1
"Maksudmu apa Anin? kamu menyindirku! Beraninya kamu berkata seperti itu!" sentaknya sambil berjalan dengan cepat menyusul istri kecilnya itu.
"Apa? aku hanya berbicara apa ada nya Kak!" jawab Anin sambil sedikit berlari tidak mau jika dirinya tertangkap suami munafiknya itu.
"Kemari kamu!!" sentak Barra, namun langkahnya terhenti saat Bram memanggilnya. "Ada apa?" tanya Barra pada pelayan yang sudah lama melayaninya.
"Tuan Dylan berulah lagi," ucap Bram yang memang seperti biasanya selalu melapor setiap gerak-gerik adik Tuanya itu. Anin yang mendengar jika Dylan sedang di bicarakan dia pun berjalan mendeka.
"Apa lagi yang dia lakukan?" tanya Barra.
"Dia sedang berpesta dengan para wanitanya." jawab Bram yang tidak sadar jika Anin sudah ada di samping kedua pria itu.
"Berpesta dengan wanita?" tanya Anin dengan dada yang terasa nyeri.
.
.
__ADS_1
to be continued...