
Barra ternyata sampai lebih dulu dari pada Anin, pria itu terlihat mondar-mandir di depan pintu masuk rumahnya.
“Kemana dia, sudah sore masih belum pulang.” Gerutunya dengan raut wajah kesalnya, Barra terlihat beberapa kali menatap jam yang melingkar di lenganya.
Saat ketika dia melihat sebuah taxi masuk kedalam pekarangan mansionya dengan cepat Barra berlalu masuk kedalam agar tidak terlihat oleh sang istri.
Anin yang baru sampai dengan buru-buru membayar uang taxi dan berlari masuk kedalam Mansion, dia takut jika suaminya lebih dulu datang dan marah padaanya karena lupa meminta ijin jika dirinya pergi bersama dengan teman-temanya.
“Habis dari mana? Samapai lupa mengabari suamimu?” Tanya Barra yang ada di balik pintu dengan kedua lengan yang melipat di dadanya. “Apa kamu akan terang-terangan mendekati seorang pria, padahal sudah bersuami?” Tanya Barra lagi.
Anin terkejut, dia kira dirinya lebih dulu pulang dari pada suaminya itu. Anin menelan salivanya susah dia sendiri tau kesalahan yang sudah ia lakukan.
“Maaf, aku tidak bermaksud tidak memberi tahumu.” Jawab Anin seraya membalikan tubuhnya menghadap suaminya itu.
Barra bukanya ingin marah saat melihat wajah bersalah Anin, dia justru ingin sekali menerkam wanita nya sekarang juga. Karena di otaknya kini hanya hal-hal mesum yang terlintas, wajah Barra terlihat sangat sayu karena gairah sudah melandanya sejak tadi.
Karena Barra hanya diam saja menatap wajah Anin tanpa menjawab ucapanyan, wanita bernama Anin itupun melanjutkan ucapanya.
__ADS_1
“Bukankah, Kak Barra juga bertemu dengan Diana berduaan di dalam ruang kerjamu.” Lanjut Anin karena sejak tadi dirinya sudah merasa sangat gendok pada dosen ini.
Barra yang sejak tadi sudah di balut dengan gairah pun tersadar saat melihat sang istri cemburu, dia tersenyum dan berjalan ke arahnya.
“Kamu cemburu Anin?” Tanya Barra sambil melingkarkan kedua lenganya di perut ramping gadis itu.
Tubuh Anin langsung menegang, darahnya mengalir seperti sengatan listrik yang halus saat tubuhnya menempel di tubuh suaminya.
“A-aku tidak cemburu,”jawab Anin terbata-bata.
Anin memejamkan mata saat hembusan nafas Barra menerpa leher jenjangnya, dia merasakan rasa yang aneh di tubuhnya dan rasa geli bersamaan. Namun saat otaknya bertraveling melihat bayangan-bayangan saat suaminya tengah ada di atas tubuhnya dengan peluh yang bercucuran di dada bidangnya, Anin langsung melepaskan dirinya dan berusaha membuang semua isi otak kotornya itu.
“Aku tidak bertanya Kak, aku akan mandi dulu.” Ucap Anin lalu berjalan menuju kamarnya.
“Baiklah, jangan mandi lama-lama. Aku akan menunggumu,” ucap Barra sambil berjalan mengekori Anin.
Anin yang merasa risih dengan Barra yang mengekorinya dengan ucapan yang membuatnya ambigu pun berbalik dan menatap pria itu.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Barra.
“Kenapa menungguku?”
“Tentu saja kita akan membuat Anak Anin.”
“Anak? Sekarang?” Tanya nya syok, karena Barra berbicara dengan terus terang. Walaupun waktu itu dirinya yang lebih dulu mengajak namun bukankah itu berbada ceritanya. “Ak-aku belum siap kak.”
“Jangan takut, aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi.” Ucap Barra yang langsung memeluk gadis itu.
Barra berbisik dengan sedikit sensual dan membuat Anin bergidik dan syok secara bersamaan. “Aku sudah belajar cara memanjakan wanita.”
.
.
To be continued…
__ADS_1