Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 11


__ADS_3

Dylan menonjok stir mobilnya dengan kesal. "Tidak bisa di biarkan, aku harus memisahkan mereka berdua!" pekiknya dengan emosi yang menggebu. Dylan langsung mencari photo di galeri ponselnya, dia melihat salah satu photo dimana Anin tengah mengenakan dress rendah sedadanya lalu dia memotong bagian photo itu dan mengirim photo itu pada seseorang yang sudah pasti akan mengamuk saat melihatnya.


Pria tampan dengan sejuta pesona itu menatap sendu photo yang hanya tinggal kenangan, dia selalu berusaha melindungi dan membuat Anin bahagia namun Kakak nya sendiri membuat retak hubunganya dengan gadisnya itu.


Kali ini Dylan tidak mau hanya tinggal diam, dia juga akan membuat hubungan Anin dan Barra rusak jika dirinya tidak bisa memiliki gadis itu.


Di ruangan kerja dengan posisi yang masih sama Barra membuka layar ponselnya saat dirinya masih memeluk Anin yang sedang menangis katena sedih dengan kelakuan Ayahnya sendiri, Barra langsung membanting ponsel itu dan langsung mencengkram kedua bahu Anin dan membuat gadis itu semakin syok.


"Sudahlah kau tidak perlu menangis! terima kenyataan mu sekarang Anin." ucap bara dengan sangat serius, pria yang barusan memeluknya dengan hangat tiba-tiba berubah kembali tegas padanya dengan sorot mata tajam dan penuh amarah. Entah mengapa Anin merasa jika Barra kadang baik dan kadang membuatnya emosi karena sikap tegas dan kasarnya, sangat berbeda dengan Dylan yang selalu lembut kepadanya.


"Sentuh aku!" titah Barra dengan nada tinggi nya, Anin mendongakan wajahnya dan menatap pria yang baru saja menyuruh untuk menyentuhnya. "Sentuh aku, Anin! dan cium aku!" sentak nya lagi sambil menarik lengan Anin kasar dan menyimpan telapak tangan Anin di pipinya.


Jantung Anin terasa tersayat rasanya sangat sakit, pria yang di kira baik ini tidak lebih dari seorang bajingan. Barra menarik dan mencengkram dagu Anin karena gadis itu hanya diam saja dan tidak menuruti keinginanya.


"Ingat, aku bisa membuat Ayahmu menjebloskan nya kedalam penjara jika kamu tidak melaksanakan tugas mu sebagai seorang istri!" ucap Barra di samping telinga Anin dengan suara rendah dan tegas namun dapat membuatnya merinding.


"Tidak! jangan lakukan itu kak!" ucap Anin dengan terburu-buru karena walau bagaimana pun pria yang sudah menjualnya itu adalah keluarga satu-satunya.


"Kalau begitu menurutlah! Dan cium aku sekarang!" ucapnya dengan senyum tipis di bibirnya walau hatinya masih merasa panas saat melihat photo Anin yang tidak mengenakan pakaian sedang bergelantung manja di leher Adiknya. "Aku tau jika kamu sering melakukanya! lalu kenapa kamu bersikap seperti wanita polos!" dengus nya namun di dalam hatinya dengan lengan yang mengepal menahan amarah.

__ADS_1


Anin mendekatkan wajahnya dengan jantung yang sangat berdebar, ini kali kedua mereka berciuman setelah ciuman pertamanya bersama Barra yang penuh paksa. Kali ini dirinya yang akan memulai nya lebih dulu, namun dadanya terus berdebar entah karena rasa sakit yang ia rasakan karena sikap pria ini atau karena hal lain.


Aroma kedua nafas pria yang memiliki bibir ranum dan tebal itu menyapu wajah cantik Anin hingga membuat gadis itu memejamkan matanya dan menikmati aroma Mint pria itu, seperti terhipnotis tanpa sadar Anin pun menempelkan bibir nya di bibir Barra.


Namun karena tidak ada pergerakan, Barra pun menggigit bibir bawah Anin dan menerobos masuk saat gadis itu meringis nyeri akibat gigitan di bibirnya. Sesaat Anin terbuai dengan permainan Barra yang sangat lihai memainkan lidahnya di dalam rongga mulut gadis itu, karena rasanya sangat berbeda dengan ciuman pertamanya.


Barra langsung melepas ciuman itu dan tersenyum tipis kearah gadis yang terlihat kaget karena ciumanya berhenti mendadak, "kita harus melanjutkanya nanti saat sudah pulang ke Mansion." ujarnya dengan kepala yang di topang lengan kanan nya yang berada di atas senderan sofa.


Barra menarik Anin saat hendak bangkit dari atas pahanya. "Mau kemana buru-buru sekali?" tanya nya dengan seringai tipis di bibirnya, Barra berniat membuat Anin menderita karena gadis ini selain menciumnya dia tidak menyentuhnya seperti apa yang dia minta.


"Kenapa Kak? bukanya kamu bilang jika kita akan melanjutkanya di Mansion." ucapnya bingung karena Anin kira ini waktunya untuk pergi.


Anin yang sedang duduk di atas paha Barra pun mengangguk walau dia gidak tau apa yang akan mereka diskusikan.


"Pertama kamu harus terbiasa menyentuhku!" ujarnya sambil melingkarkan kedua lenganya di leher Barra sama percis seperti posisi photo yang di kirim Dylan. "Kedua, kamu harus melayaniku kapan pun dan di manapun." titahnya membuat Anin melotot sempurna karena syok.


"Dimana pun dan kapan pun? apa maksud nya itu kak?" tanya Anin berharap tebakan dalam pikiran kotornya itu salah.


Barra langsung menyunggingkan sebelah bibirnya. "Kau berpura-pura polos rupanya." ucapnya dalam hati membuat Barra semakin ingin mempermainkan Anin.

__ADS_1


"Iya, tentu saja seperti apa yang kamu pikirkan." bisiknya lalu lengan barra menggerayangi bagian Dada kenyal Anin dan membuat gadis itu terperanjat kaget. "Ada apa? bukankah ini hal yang wajar di lakukan sepasang suami istri?" tanya Barra lalu membuka kancing atas kemeja yang di kenakan Anin.


"Tidak, jangan sekarang Kak. Ini di kampus bagaimana jika ada yang melihat?" Anin berusaha mencegah agar dirinya bisa lolos.


"Tidak akan ada yang berani masuk Anin! Dan ingat! Dimana pun dan kapanpun!" tegasnya lagi mengingatkan Anin pada syaratnya. Barra lalu kembali membuka satu kancing Anin lagi lalu menenggelamkan wajahnya di kedua belah Dada Anin dan menghirupnya dalam-dalam.


"Seperti ini, aroma tubuhnya." lirihnya dalam hati karena aroma yang membuatnya merasa sangat nyaman, berbeda dengan Anin yang merasa gelisah, geli dan merasakan sesuatu yang sangat aneh pada tubuhnya.


"Tidak buruk, ini sangat pas di lenganku." ucap Barra sambil menatap gadis itu dengan senyuman karena lengan Barra saat ini sudah menyusup masuk kedalam balik pakaian Anin dan mulai mengukur Dada milik gadis itu.


Wajah Anin merona karena malu, dia ingin menolak namun tidak bisa. apalagi dirinya sudah merasakan sensasi aneh yang menjalar di tububnya, "Bagaimana rasanya?" tanya Barra. "Jangan tegang, karena setelah ini lenganku akan memainkan bagian lain dari tubuhmu Anin." ujarnya membuat Anin semakin gelisah dengan lengan yang sudah aktif meremas bagian kenyal miliknya.


Barra yang juga menginginkan hal lebih dia menarik tengkuk leher gadis itu agar memperdalam ciuman keduanya, tentu saja Barra sangat bahagia saat ini berbeda dengan Anin yang merasakan sensasi lain di bawah sana.


.


.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2