
Setelah menerima pesan masuk dari Louis Barra segera berdiri dan berusaha membuka pintu itu, namun sayang Edwin dengan berani sudah mengunci dirinya lebih dulu di dalam ruang kerjanya.
"Ed! cepat buka pintunya!" teriak Barra dari dalam ruangan, Edwin yang ada di luar tidak memperdulikan ucapan Tuanya itu dia lebih asyik dengan musik di telinganya.
"Ed! cepat atau kau tau sendiri akibatnya!" sentak Barra lagi sambil menggedor pintu.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak mendengarmu." teriak Edwin yang jelas-jelas mendengar ucapan Barra karena dia sendiri menjawab ucapan Barra.
"Astaga, dia sekertaris siapa sih sebenarnya!" gerutunya kesal karena Edwin selalu saja membuat nya jengkel jika berurusan dengan nama kakak sepupunya itu.
Barra memekik pelan lalu kembali berjalan menuju tempat duduknya, dia menyenderkan tubuhnya di senderan kursi menghela napasnya pelan. Lalu dia pun melirik ke arah laptop dan menatap vidio yang sedang di jeda itu.
Barra mengetuk-ngetukan telunjuknya di atas meja, seolah sedang menimang-nimang sesuatu. Dengan dagu yang di topang oleh sebelah tangan lainya.
__ADS_1
"Baiklah kita lihat," ucap Barra sambil mengklik vidio itu untuk kembali memulai.
Entah mengapa belum sampai satu menit bahkan dia baru melihat adegan ciuman saja sudah membuatnya gelisah lebih dulu, saat pakaian kedua pemain di dalam vidio itu di buka Barra pun dengan cepat menutup wajahnya sendiri dengan telapakntanganya.
"Ah, aku tidak mau lihat." gumamnya dengan pipi yang sudah memerah, namun tiba-tiba dia teringat rencana yang di buat Louis untuknya saat keempat pria itu berbincang di rumah sakit.
Barra harus belajar bersikap lembut saat berada di atas ranjang, dia lalu mengintip dari selah-selah jari jemarinya. Tiba-tiba matanya membelalak sempurna solah mata itu ingin keluar saat melihat si pria tengah menjilat bagian inti wanita itu, Barra menelan susah salivanya.
“Astaga apa itu tidak terlalu ekstreem?” Tanya nya pada diri sendiri. Barra membenarkan posisi duduknya merasa tidak nyaman dan menjauhkan telapak tanganya untuk lebih pokus menonton film itu.
“Kalau di ingat-ingat Anin juga melenguh dan berkali-kali menggeliat seperti wanita itu.” Tunjuknya pada wania yang ada di dalam Vidio itu.
“Apa Anin juga menikmati malam pertama kita?” Gumamnya saat yakin jika hari itu Barra melihat reaksi Anin yang sama percis seperti wanita yang ada di dalam film itu.
__ADS_1
Barra berdiri ingin segera pulang dan menemui Anin untuk mempertanyakan itu, namun dia melihat gerakan lain yang membuatnya syok itu pun dia duduk perlahan kembali di atas kursinya.
“Astaga posisi seperti ini aga aneh, tapi—.” Ucapanya terjeda saat pria itu menepan susah salivanya. Barra mengusap kasar wajahnya karena merasakan seauatu yang sudah sangat menegang dan meronta minta di lepaskan.
“Aku butuh Anin,” gumamnya dengan cepat mengambil ponsel dan jas nya lalu berjalan ke arah pintu.
“Edwin! Buka sekarang atau—“ ucapnya terhenti saat Edwin tanpa basa-basi membuka pintu itu. Barra bergegas pergi meninggalkan Edwin yang sedang berbicara kepadanya.
“Ih dia tidak menjawab!” Ketusnya karena ucapanya sama sekali tidak di dengar Tuanya. “Jadi dia udah nonton apa belum?” Gerutu nya sambil berjalan menuju meja kerja itu. Edwin langaung tersenyum saat melihat Vidio yang ada di layar laptop.
“Missi selesai,” gumamnya sambil mengirim penas pada Louis. Edwin yang berniat mematikan laptop itu tidak jadi ia matikan karena matanya sama sekali tidak bisa berkedip melihat kedua orang itu yang sedang bergerak maju mundur.
.
__ADS_1
.
To be continued…