Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 17


__ADS_3

Barra dan Bram menatap ke arah Anin yang ternyata sedang mendengar percakapan keduanya, Bram terlihat merasa tidak enak pada Barra karena dia lah Anin jadi mengetahui apa yang selama ini Barra sembunyikan dari gadis itu.


"Apa maksud dari ucapanmu pak?" tanya Anin dengan serius menatap Bram. Sementara yang di tanya malah balik menatap Barra seolah meminta bantuan, Anin pun menatap Barra dengan penuh tanya. "Kak, katakan dimana Kak Dylan? dia sedang berpesta apa dengan para wanita?" tanya Anin yang memang penasaran.


"Sudahlah ayo kita berangkat Anin," ajak Barra meraih lengan gadis itu, namun dengan cepat Anin menepisnya.


"Jika kakak tidak mau memberi tahuku, aku akan mencari tahunya sendiri." ucap Anin langsung melangkah meninggalakan kedua orang itu.


"Nona Anin," panggil Edwin membuat Anin menghentikan langkahnya. "Biar saya yang mengantar anda pada Tuan Dylan," ajak Edwin membuat Barra langsung tidak menyetujui tindakan Edwin.


"Ed! apa yang kau lakukan!" sentak Barra.


"Maaf tuan Barra, seperti nya Nona Anin harus mengetahui kenyataan jika--" ucapnya terhenti karena Barra langsung membentaknya.


"Edwin!" sentaknya dengan sorot mata tajam.


"Kak, aku mohon bawa aku menemuinya." mohon Anin agar suaminya itu tidak lagi menutupi apa yang harusnya dirinya tau, Anin belum tau apa yang terjadi namun hatinya sudah terasa perih dan sakit entah karena apa, namun saat mendengar kata wanita itu saja membuat dirinya lemas.


"Kau yakin tidak akan menangis?" tanya Barra membuat jantung Anin semakin terasa terisris. Anin menganggukan kepalanya tanja setuju dengan ucapan Barra.


Barra langsung berjalan menuju mobil tanpa sepatah katapun, dan Anin langsunh mengikutinya walau dirinya tidak tau akan di bawa kemana.


Di dalam mobil keduanya tidak bergeming mereka sibuk dengan pemikiranya masing-masing, jika Barra memikirkan kondisi Anin ketika mengetahui fakta jika Dylan adalah pria bejad, lain hal nya dengan Anin yang memikirkan banyak hal negatif yang berusaha ia tepis.


"Apartement Kak Dylan?" tanya Anin saat mobil yang di tumpanginya masuk kedalam halaman Apartement. "Bukanya dia sedang berpesta?" tanya Anin lalu dia terdiam saat mengingat Apartemen mewah itu bisa saja di buat tempat pesta karena luas dan mewahnya Apartemen milik Dylan.


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu yakin ingin melihatnya?" tanya Barra untuk meyakinkan Anin sebelum mereka melangkah masuk kedalam Apartement itu.

__ADS_1


"Iya, aku yakin." jawab Anin walau sekarang isi otak dan hatinya sedang berisik akibat suasana hati yang tidak membaik.


"Ayo," ajak Barra dia pun keluar dari mobil dan di ikuti Anin, sepanjang perjalanan menuju lantai dimana Apartement Dylan berada mereka sama sekali tidak berbicara hingga akhirnya samoai di depan pintu itu.


Dari luar, pintu itu nampak sepi dengan lorong yang hening tanpa ada orang lain yang berlalu lalang. Anin dengan berani menekan paswerd pintu dan membukanya, suara keras dari dalam Apartement itu langsung masuk di telinga Barra dan Anin. Di Apartemen gelap yang hanya di hiasi lampu redup berwarna warni dan suara musik yang keras nanyak orang yang sedang berjoged berpasangan di dalamnya.


Anin memegang lengan Barra tanpa mengalihkan pandanganya dari orang-orqng yang sama sekali tidak menyadari keberadaanya, sementara Barra yang terus memperhatikan Anin dia hanya mengikuti apa ayang akan di lakukan wanitanya.


Anin pun masuk dengan berpegangan di tangan Barra seolah mencari keamanan dari pria itu, Barra menutup pintunya dan mengikuti arah jalan Anin.


Tujuan utama Anin adalah pergi ke kamar Dylan, karena dia yakin jika dirinya tidak melihat Dylan di ruang utama itu, jantungnya terus berdebar. "Sejak kapan Kak Dylan punya hobby berpesta seperti ini?" tanya Anin dalam hatinya. Karena selama Anin sering bolak-balik kedalam Apartemenya dia tidak pernah melihat ada satu pun teman Dylan yang datang.


Langkah Barra terhenti saat wanita di depanya berhenti mendadak, Barra menatap Anin yang sama sekali tidak mengedipkan matanya. Barra langsung menutup mata Anin dengan sebelah tanganya saat tau apa yang sedang di lihat wanitanya.


"Jangan melihatnya Anin," ucap Barra dengan mata tajam melihat ke arah kamar dimana Dylan sedang bercumbu dengan dua wanita sekaligus.


Barra menggelengkan kepalanya, "aku mohon jangan melihatnya." pinta Barra dengan sangat lembut. Jujur saja pria itu ikuf terluka melihat Anin yang terluka, dia juga terluka sebagai kakak karena tidak bisa mendidik adiknya dengan benar.


"Aku, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kak." pinta Anin dengan air mata yang sudah mulai menetes dan membasahi lengan Barra yang menutup matanya.


Barra memeluknya dari belakang karena posisinya yang ada di belakangnya, dia pun melepaskan lengan yang mebutupi mata Anin. Walau tidak ingin Anin terluka, tapi dia lebih tidak ingin jika membohongi Anin dan membuatnya masuk kelubang yang sama.


"Maafkan aku Anin," ucap Barra dengan rasa sakitnya saat melepas lenganya.


Sementara Anin yang melihat adegan gila yang belum pernah ia lihat dari seorang Dylan membuat tubuhnya langsung ambruk di atas lantai dan dengan sigap Barra menahanya.


Sementara ketiga orang yang ada di dalam kamar itu menatap ke arah pintu saat mendengar suara, Dylan langsung terkejut melihat Barra sedang menahan seorang gadis yang terjatuh dan dia lebih terkejut jika gadis itu adalah Anin.

__ADS_1


Dengan cepat dia mendorong kedua tubuh wanita yang sedang mencumbunya, dan memakai celana nya.


"Anin, kenapa kamu ada di sini?" tanya Dylan langsung mendekati gadis itu.


Bukan tatapan marah yang Dylan dapatkan dari Anin namun tatapan kecewa dari gadis kecilnya itu membuat dadanya ikut terluka, rasa sakit yang ia rasakan lebih sakit saat mendengar kabar jika Anin dan Barra menikah.


Tatapan penuh cinta yang selalu Anin berikan kepadanya itu menghilang begitu saja itu membuat Dylan terluka, "Anin maafkan aku," ucap Dylan dan langsung akan di bentak Barra danum Anin lebih dulu menepis lengan Dylwn yang ingin menyentuh wajahnya.


"Aku tidak tau jika kelakuanmu selama ini seperti ini, kak!" ucap Anin yang sudah menyeka air matanya dengan kasar.


"Bukan begitu Anin," elak Dylan berusaha meraih lengan Anin namun untuk yang kedua kali nya Anin menepis lengan itu.


"Aku bersyukur menikah dengan Kak Barra, saat tau jika kamu adalah pria bajingan!" sentak Anin sambil memukul-mukul dada pria yang pernah ia cintai.


"Anin maafkan aku, sayang." ucap Dylan langsung memeluk Anin berusaha menenangkan gadisnya namun Barra dengan sigap mendorong Dylan hingga terjatuh ke lantai dan membuat kedua wanita yang kini sufah memakai pakaian langsung berteriak kaget dan menolong Dylan.


"Jangan sentuh istriku!" sentak Barra langsung menarik Anin yang sedang menangis masuk kedalam pelukanya.


"Kak, aku ingin kita melakukanya sekarang." pinta Anin yang ada di dalam pelukan Barra sambil mendongak menatap Barra yang lebih tinggi darinya.


Barra mengerutkan keningnya mentap Anin, "melakukan apa Anin?" tanya Barra.


"Melanjutkan malam pertama yang sempat tertunda," pinta Anin sambil menyeka air matanya dengan tekad yang sudah bulat dia ingin membuat Dylan juga merasakan apa yang sedang ia rasakan saat melihat pria itu sedang bercumbu dengan dua wanita sekaligus.


.


.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2