
Anin menatap bangunan mewah di depan nya dengan satu tangan yang menyentuh air di dalam kolam renang itu.
“Bagaimana cara nya agar aku bisa masuk.” Gumam Anin sambil memainkan air yang menyentuh telapak tanganya. Ia tetap pada posisinya yang duduk di tepi kolam renang.
Sudah jelas dia tidak bisa masuk kedalam vila itu karena setiap sudutnya di jaga oleh beberapa pria berpakaian serba hitam, Anin pun merasakan teriknya matahari yang sangat panas.
“Rasanya aku ingin tenggelam di dalam air ini agar tubuhku tidak kepanasan!” Pekiknya aga sedikit kesal karena sampai satu jam ini dia di biarkan begitu saja.
Sementara di dalam rumah Barra senang mengintip Anin dari balik jendela, dia tidak rela jika Anin sampai mengeluarkan keringat akibat kepanasan. Namun dia juga tidak bisa membiarkan Anin masuk kedalam vila, Barra tidak ingin gadis itu meninggalkan nya jika dia tau.
Namun kaki dan tangan nya sudah sangat gatal ingin berjalan ke arahnya dan memeluk tubuh gadis itu. Barra yang masih lemas karena pengaruh obat pun tetap berdiri di balik jendela hanya untuk memantau sang istri.
Jarak mereka tidak terlalu jauh namun jendela yang berearna hitam itu tidak bisa memberi tahu keberadaan Barra pada Anin, karena dari luar tidak bisa menampakan isi di balik jendela itu.
Byurrr..
__ADS_1
“Anin!” Teriak Barra saat melihat istrinya terjatuh kedalam kolam, pria itu dengan sigap berlari ke arah kolam renang dan langsung meloncat masuk kedalam nya hanya untuk menyelamatkan istrinya.
“Anin!! Anin!! Bangun!” Teriak Barra saat gadis itu berhasil ia tangkap, Anin tidak menjawab dengan mata yang terpejam.
Para pengawal di sana berusaha menyelamatkan Barra dan Anin yang masih ada di dalam kolam renang, akhirnya keduanya naik kedaratan dengan bantuan mereka.
“Biar saya yang mengangkat nya pak.” Ucap salah satu pengawal itu.
“Tidak! Jangan sentuh dia, biar aku yang membawanya masuk kedalam.” Ucap Barra dengan tubuh yang sama-sama basah, Barra pun berjalan masuk dengan di iringi beberapa suster yang merawatnya mereka ikut berlri saat melihat kejadian itu.
Anin merasakan tubuhnya mendarat di ranjang empuk, setidaknya dirinya sudah mulai tenang karena semua orang akan meninggalkanya.
“Anin sayang?” Panggil Barra dengan wajah hawatirnya. “Panggilkan Frans untuk memeriksanya Ed.”
“Dan beli pakaian wanita untuk istriku,” ucap Barra karena memang di vila ini tidak ada pakian wanita.
__ADS_1
“Baik tuan Dr.Frans sedang di panggil, sebelum pakian sampai. Lebih baik anda menggantinya dengan handuk kimono ini agar Nona Anin tidak terkena flu.” Ucap Edwin sambil menyodorkan kimono itu.
Barra meraih handuk kimono itu, “keluarlah kalian.”
“Tapi Tuan, anda juga basah kuyup. Anda harus segera mengganti pakian.” Ucap Edwin yang terlihat sangat hawatir.
“Aku harus menggantikan pakaian istriku, apa kalian disini untuk melihat istriku berganyi pakaian!” Pekik Barra dengan kesal mana sempat ia memperdulikan keadaanya sendiri jika sang istri masih tergeletak tidak sadarkan diri.
“Tidak!” Teriak Anin sambil bangun dan terduduk di atas ranjang yang sejak tadi ia tiduri. Semua orang menatap kearahnya dengan kaget.
“Biar aku saja yang mengganti pakianku sendiri.” Ucap Anin dengan wajah polosnya, dia tidak ingin jika suaminya yang menggantikan pakian untuknya apalagi jika semua orang melihat tubuhnya.
.
.
__ADS_1
To be continued…