Tolong Sentuh Aku

Tolong Sentuh Aku
Episode 22


__ADS_3

Akhirnya merekapun selesai mnyusin misi tinggal menunggu Barra menjalankan misi itu dan menunggu hasil dari kerja keras keempat orang itu, Barra pun tidak ingin berlama-lama di sana karena sejak tadi dia terus di tahan oleh Louis.


"Sudahlah, aku harus menemui istriku." Barra menyudahi obrolan mereka.


"Ayo," ajak Louis yang langsung berdiri mengajak sepupunya itu.


"Mau kemana?" tanya Barra.


"Menemui istrimu," jaeabnya singkat karena dia juga berniat menyapa istri dari sepupunya itu berhubung dirinya sudah ada di rumah sakit karena dia salah mendapat informasi, dia pikir Barra lah yang terlula hingga membuat dirinya buru-buru datang kesini.


"Hanya aku, Kak Louis tidak perlu ikut." ujar Barra dia tidak ingin Anin.merasa malu karena dia terluka seperti ini karena percintaanya.


"Hei! kau berani melarangku!" teriak Louis pada Barra yang sudah lebih dulu meninggalkanya, Louis yang tak terima langsung ingin mengejar dan memukul sepupunya itu namun langsung di tahan oleh Edwin dan Frans mereka langsung mmebujuk kembali pria pemarah itu.


Yakinlah jika tidak ada Frans dan Edwin mungkin kedua orang itu akan bertengkar sejak mereka bertemu, karena Barra yang selalu menjawabnya dengan ketus dan Louis yang selalu tidak mau kalah dan ingin menang sendiri.


Mereka berdua tidak pernah cocok, namun pertengkaran kedua nya tidak pernah bertahan lama. Tidak seperdi Barra kepada adiknya dan Louis dengan adiknya saat bertengkar pasti memerlukan waktu yang lama untuk kembali berbaikan.


"Aku hawatir pada adik ku itu," ucap Louis tiba-tiba saat pikiran nya sudah reda dia menatap pintu yang sudah tertutup sejak tadi.


"Tenanglah, Barra tidak selemah yang kita bayangkan. Buktinya dia bisa merebut Anin dan menjadikan wanita itu istrinya." jawab Edwin dengan bangga karena dia menyaksikan sendiri betapa berusahanya Barra mendapatkan wanita itu.


"Maksudku, aku takut jika istrinya sampe akhir tidak membalas cintanya." lanjut Louis membenarkan ucapanya membuat Edwin tanpa sadar menjawab sesuatu yang menyinggung Louis.


"Lebih baik kakak memikirkan diri sendiri, karena sampai umur 30 tahun kamu belum mendapatkan pendamping." jawab Edwin sambil tersenyum membayangkan jika setidak nya Barra sudah mempunyai pendamping di banding Louis.

__ADS_1


"Apa kau bilang!" sentak Louis dengan tatapan tajamnya, detik itu oun Edwin langsung sadar jika dirinya sudah berani berkata tidak sopan. Dan pertengkaranpun kembali membuat Frans yang lagi-lagi hatus betusaha memisahkan mereka.


Di dalam ruang inap VVIP Barra menghampiri gadis yang sedang tertidur pulas, lebih tepat nya sedang berpura-pura tidur. Karena kini Anin tidak sanggup untuk menatap wajah Barra karena sejujurnya dia sangat malu dan sadar 100 % jika kemarin bukan dirinya lah yang meminta Barra untuk menyentuhnya.


"Aku yakin itu bukan aku, arrghh bisa gila aku sangat malu." pekik Anin dalam hatinya terus berusaha menenangkan dirinya jika bukan dia lah yang merayu Narra lebih dulu namun setan yang ada di dalam tubuhnya.


Barra membelai rambut Anin pelan, pria itu kini duduk di atas kursi di samping ranjang yang Anin tiduri.


"Maaf," gumamnya pelan.


Membuat wanita yang sedang pura-pura tertidur itu berpikir untuk apa suaminya meminta maaf, apa dia melakukan kesalahan? pertanyaan demi pertanyaan menyelimuti otanya dan tak mampu ia tanyakan langsung.


Yang dia tau jika dirinyalah yang merasa bersalah dan malu karena dia sudah berani mengajak Barra bercinta lebuh dulu, dan lebih parahnya mereka melakukanya di kamar orang lain.


"Saat itu aku benar-benar marah sama Kak Dylan, jadi aku memanfaatkan mu kak harusnya aku yang meminta maaf." jawabnya dalam hati.


Jujur saja sekelibat Anin mengingat kejadian dimana dirinya terus menerus menggeliat dan melenguh mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya saat tubuhnya di bawah kungkungan suaminya itu.


Entah mengapa itu membuatnya malu dan membuat jantungnya kembali bergemuruh hebat.


"Maafkan aku, aku tidak akan melukaimu lagi seperti tadi." ucap Barra membuat Anin hampir saja mengerutkan keningnya bingung namun dengan sadar Anin menetralkan kembali raut wajahnya yang sedang pura-pura tidur.


Cup.


Satu kecupan menempel di bibir Anin membuat gadis itu melotot sempurna, saat sadar jika Barra sedang mengecupnya dengan mata terpejam Anin pun kembali buru-buru memejamkan matanya agar tidak ketauan joka dirinya sedang berpura-pura tidur.

__ADS_1


"Istirahatlah aku akan kembali," ucap Barra sambil mengelus rambut Anin. Dia snagat ingin berada di samping Anin, namun ada hal yang lebih penting yang hatus dia lakukan terlebih dulu.


Anin membuka matanya saat suara pintu tertutup dia duduk dan memegang dadanya yang terus bergemuruh, "astaga kenapa jantungku berdebar." gumamnya dengan wajah panasnya dia mengibas-ngibas tanganya seolah akan merasa sejuk dengan apa yang dia lakukan.


Anin menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan bayangan-bayangan yang terus muncul di otak kecilnya, bayangan dimana dirinya dan Barra tidak memakai pakaian dan saling beradu lenguhan.


"Ya ampun, panas sekali ruangan ini." ucapnya sambil kembali mengecilkan suhu Ac itu agar lebuh dingin lagi, padahal ruangan itu sudah dingin.


"Untung dia pergi, kalau engga aku ga akan membuka mataku." pikirnya seolah di otaknya hanya ada masalah tentang dirinya yang sangat malu berpenampilan polos tampa sehelai benang pun di depan Barra dan melupakan hal paling penting yang sudah membuatnya kecewa dan sakit hati secara bersamaan.


Ya, Anin lebih sibuk mengatur ekpresinya di depan Barra ketimang sakit hatinya kepada Dylan. Hanya dengan percintaan itu Anin bisa sampai melupakan sakit hati yang sedang ia rasakan saat ini. Padahal beberapa saat lalu dirinya masih menangis mengingat betapa kejamnya Dylan yang selama ini selalu bermain perempuan di belakangnya.


"Huh, tapi kemana dia pergi?" gumam Anin menatap pintu yang tertutup itu. Aninpun dengan cepat menjatuhkan tubuhnya sat melihat pintu itu terbuka, entah siapa yang datang namun saat ini dia belum siap bertemu siapapun termasuk Barra.


Pria yang sudah bercinta dengan nya beberapa saat lalu, walau awalnya sakit namun Anin tetap menikmati percintaan yang sudah mereka lakukan di beberapa menit setelah Barra menerobos dinding sucinya. Makanya wanita ini sekarang tidak ingin bertemu pandang dengan Barra karena sangat malu.


"Anin bangunlah, aku melihatmu tadi sudah bangun." ucap Barra membawa beberapa Cake, makanan dan juga buket bunga di tanganya lalu di letakanya Cake dan Makanan itu di atas meja.


Lalu menghampiri Anin yang sekarang pura-pura baru terbangun, "Ambilah hadiah dariku." ucap Barra sambil menyodorkan buket bunga mawar merah itu dengan wajah datarnya.


Anin terkejut karena besar nya buket itu, dia sebelumnya tidak pernah menerima bunga bahkan sebanyak dan sebesar ini pikirnya membuat dia sangat terkejut melihatnya.


"Terimakasih," ucap Barra masih dengan wajah datarnya saat Anin mengambil buket itu. Anin bingung bukanya dia yang harus nya berterimakasih karena sudah di beri bunga, apa pria ini sedang menyindirinya agar mengucapkan terimakasih atau bagaimana? pikirnya bingung membuat Anin terus bertanya-tanya di dalam hatinya.


.

__ADS_1


.


to be continued...


__ADS_2