
Anin mendorong Barra dengan cepat, dia tidak mau dirinya semakin terbuai dengan sentuhan Barra. Karena jujur Anin belum sangat siap untuk melakuakn hal lebih dari ini, "maaf Kak, ini sudah waktunya jam pelajaran mu di mulai. Aku pergi duluan," pamitnya lalu Anin meraih tas miliknya dan lari keluar sambil membenarkan kancing pakaianya.
Sementara Barra yang melihat sikap Anin yang lucu pun tersenyum namun tidak lama kemudian kembali mendengus kesal, Karena bagaimana pun wanita yang sangat ingin dia lindungi itu sudah ternodai oleh Adiknya.
Barra juga sangat ingin membuat Anin gelisah dengan sentuhan-sentuhanya karena gadis itu selalu bersikap sok polos di depanya, Barra meraih laptop dan buku tebalnya dia lalu berjalan dengan santai menyusul Anin menuju kelasnya.
"Anin cepat kesini!" teriak Rose saat melihat Anin memasuki kelas, "Kamu membuatku hawatir, lama sekali bertemu kekasihmu. Apa kamu tidak takut dapat hukuman dari pak Barra jika kamu telat masuk kelas!" cerocos Rose panjang lebar karena merasa hawatir jika sahabatnya itu akan dapat masalah.
"Iya, karena itu aku sudah dapat hukumanya." lirih Anin pelan sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas miliknya.
"Apa? kamu ngomong apa Anin?" tanya Rose karena Anin berbicara sangat pelan, namun pandangan Rose langsung teralihkan ketika pria tampan bertubuh atletis berjalan dengan gagahnya memasuki kelas. Pria sempurna bak Dewa Yunani itu langsung membuat pusat perhatian seluruh mahasiswi di kelas itu, kemeja lengan yang di gulung asal membuat para wanita ngiler melihat otot dengan tonjolan urat-urat di lenganya.
"Ya ampun, pujaan hati ku hari ini kenapa terlihat sangat segar." ucapnya dengan wajah menganga membuat Anin mengikuti arah tatapan Rose. "Lihat otot lenganya, bagaimana rasanya saat lengan itu merangkul tubuh kita Anin?" tanya nya dengan senyum dan antusiasnya setiap kali membicarakan Dosen bernama Barra itu.
Anin mengingat bagaimana rasanya saat dirinya di rangkul oleh Barra karena pertanyaan konyol sahabatnya itu, "jari-jarinya sangat besar, aku sangat ingin merasakan saat jari-jari itu menyentuh dadaku. Aahh jantungku pasti akan meledak, Lihat bibir nya Anin. Sangat sehat dan berwarna merah, aku ingin mencium aromanya dari jarak dekat dan mencium bibir ranum itu." Rose terus berfantasi dengan apa yang dia lihat di diri Barra membuat Anin mengingat kembali sentuhan pria itu dan membuat wajahnya merona.
__ADS_1
"Sudah cukup, pelajaran akan di mulai Rose! sadarlah bukankah kamu bilang jika pria itu adalah balok es?" tanya Anin berusaha mengalihkan dirinya sendiri agar tidak mengingat lagi kejadian itu.
"Ya ampun Anin, semua wanita di sini selalu berfantasy tentangnya nya kamu saja yang tidak karena terlalu setia kepada satu pria. Ingat pria yang selalu baik di depan kita, belum tentu sifat aslinya sama percis seperti yang kamu bayangkan." ucap Rose dengan asal namun mampu membuat Anin terdiam.
"Bagaimana kamu tau?" tanya Anin namun karena Rose tidak peka dengan kondisi Anin saat ini, dia menjawab dengan asal.
"Banyak pria bejad di luar sana yang terlihat sangat baik Anin, Jadi aku lebih suka dengan pak Barra yang seperti Balok es, tegas , galak namun tentu saja itu untuk kebaikan kita." jawabnya karena Barra selalu mendisiplinkan semua anak didiknya.
"Anin! Rose! sampai kapan kalian akan sibuk dengan percakapan kalian? Kerjakan soal ini cepat!" titah Barra yang sadar jika mahasiswinya sejak dia datang terus saja berbisik, Barra mengacungkan spidol agar mereka datang dan mengerjakan soal yang ada di dalam papan tulis.
"Anin aku tidak mengerti soal itu, kamu saja yang maju." ujar nya sambil mendorong gadis yang masih bingung dengan situasinya sekarang. "Anin akan maju pak!" teriak Rose lalu menyembunyikan wajahnya di balik buku.
"Jawab dengan benar, jika salah kau harus bertelanjang di depanku semalaman." ancam Barra sambil berbisik.
Soal yang mudah bagi Anin karena otaknya yang cerdas, tiba-tiba mendadak soal itu terasa sangat susah karena sekarang otaknya tidak bisa konsentrasi akibat ancaman Barra yang membuat jantungnya kembali berdebar.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu sangat kesulitan mengerjakan soal ini?" sindir Barra "Saya sudah pernah bilang, jika jam pelajaran di mulai kalian tidak boleh mengobrol di dalam kelasku!" tegas nya pada semua orang yang ada di dalam kelas itu.
Barra kembali mendekati Anin yang dia mematung menatap papan tulis itu sambil berbisik membuat Anin semakin tidak bisa pokus. "Aku lupa bilang, saat nanti kita bercinta. Kamu harus diam mematung dan jangan mengeluarkan suara sedikitpun saat aku menyentuh tubuhmu dan memainkan bagian tubuhmu yang lain." bisiknya sambil tersenyum menatap papan tulis.
Anin mulai menbuka spidol dan menempelkan nya di papan tulis untuk mulai menjawab soal, "Ah,, tentang tadi aku sangat suka dengan ukuran mu yang sekarang. Tapi aku suka size yang lebih besar, mungkin kau harus sering memainkanya seperti tadi agar bertambah besar." bisiknya lagi.
Anin menunduk dan menggeleng membuat para mahasiswa lainya heran karena Anin salah satu murid yang pintar, dia terlihat sangat kesusahan menjawab soal itu dan membuat Rose merasa tidak enak dan gelisah.
Dengan cepat Anin menghilangkan bayangan-bayangan kotor yang melintas di otaknya dan kembali pokus dengan soal yang di kerjakanya, Raut wajah Barra terlihat kesal karena Anin berhasil menyelesaikan soal itu.
"Yah, sayang sekali aku masih ingin membuatnya kesulitan." gumamnya dalam hati. "Tapi aku lupa jika dia murid yang sangat pintar," gumamnya masih dalam hati.
"Oke kamu boleh duduk," ucap Barra lalu melanjutkan pelajaranya dengan seluruh perhatian berpusat kepadanya.
.
__ADS_1
.
to be continued..