
[Jakarta, 15 Juli 2008]
Hari ini adalah awal tahun ajaran baru untuk seluruh jenjang pendidikan ditahun 2008. Tepat dihari ini pula seluruh sekolah dipenuhi dengan warna seragam dari tiap sekolah. Tak heran jika parkiran penuh dengan berbagai macam kendaran, baik itu sepeda motor maupun mobil.
Karena ini merupakan awal ajaran baru, maka mulai dari SMP sampai SMA/ SMK digelar kegiatan bernama MOS (Masa Orientasi Siswa) yang artinya, semua siswa baru diharapkan mendapatkan pelajaran awal dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah, sebelum mereka benar-benar menerima semua pelajaran baru nantinya.
Beberapa diisi dengan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, games, maupun kegiatan menarik lainnya. Seragam mereka pun bisa dibedakan, karena siswa baru diharuskan membuat kostum seunik mungkin menggunakan kantong plastik loreng besar lengkap dengan topi serta tasnya dari bahan dasar karton maupun kardus.
Ada berbagai macam bentuk dari beberapa siswa, ada pula yang bentuknya sama. Ini merupakan salah satu kegiatan pengembangan dari imajinasi mereka, mungkin dari sini pihak sekolah bisa mengetahui bakat dan kemampuan mereka yang sebenarnya.
Karena diakhir acara, akan ada pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang nantinya akan menjadi kegiatan rutinitas mereka saat mulai aktif belajar, dan akan diselenggarakan setiap akhir pekan sebelum mereka libur sekolah.
Saat ini semua siswa baru sedang berbaris dilapangan ditengah teriknya matahari untuk mengikuti MOS. Kegiatan ini secara serentak diselenggarakan pada hari ini, termasuk juga SMA N 1 Jakarta Selatan. Tempat dimana seorang gadis cantik ini menuntut ilmu. Sampai sebuah pertengkaran terjadi disana.
“heh anak baru sini lo”
“kenapa ?”
“kenapa lo keluar barisan tanpa izin dari kita ?”
“apa kalian gak liat, cewek tadi hampir pingsan karna kepanasan, gue kan cuma nolong dia”
“alesan itu gak bisa lo pake buat pergi tanpa seizin kita, kita ini pengurus OSIS jadi lo harus nurut”
“kita disini buat pengenalan lingkungan sekolah, bukan buat dijadiin budak kalian”
“lo berani ngelawan senior disini”
“gue gak akan ngelawan kalo kalian ngelakuin tugas kalian dengan baik”
“jadi maksud lo, kita gak bisa ngatur siswa baru kaya lo !”
“kalo emang kalian mampu, gak akan mungkin ada korban disini”
“maksud lo apa ngomong kaya gitu, lo itu cuma siswi baru disini, jadi jangan sok ngajarin gue deh”
“gue emang baru disini, tapi bukan berarti gue harus ngebiarin kalian bertindak semau kalian”
“lo cari gara-gara yah sama gue”
“sorry, gue gak punya waktu buat berurusan sama kalian, gue harus balik ke lapangan”
__ADS_1
“Dis, ini gak bisa dibiarin masa iya ada anak baru berani sama lo”
“harus gue kasih pelajaran tuh anak, liat aja nanti”
Setelah gadis yang sempat membuat kebisingan itu meninggalkan anggota OSIS yang bernama Adista, ia langsung kembali berbaris dilapangan.
Keributan yang terjadi barusan adalah salah satu bentuk pembelaan seorang gadis terhadap ketidak-adilan seorang senior terhadap siswa baru.
Bagaimana bisa seorang anggota OSIS membiarkan siswa baru yang sudah hampir pingsan untuk terus berdiri ditengah lapangan tepat dibawah teriknya matahari seperti itu. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung membantu temannya ke UKS supaya dia bisa berisitirahat.
Tapi Adista dan temannya yang tadi sedang memberi pengarahan dilapangan tidak terima dengan sikap gadis itu yang dianggap telah melanggar perintah.
Apakah dibenarkan jika kita membiarkan seseorang pingsan bahkan setelah tahu kondisinya. Dan melanggar perintah demi membantu teman yang sedang memerlukan pertolongan adalah salah.
“Ayuningtiyash, keluar dari barisan sekarang juga”
Merasa namanya terpanggil, gadis itu segera keluar dari barisan dan berdiri diluar lapangan sampai beberapa gadis yang tadi sempat berdebat dengannya mendekat dan memberikan perintah padanya atau lebih tepatnya sebuah hukuman.
“pergi ke toilet cewek, bersihin sampe kinclong ngerti !”
“kenapa gue harus kesana ?”
“hh.. kalian pikir bisa berlaku seenaknya dengan bawa-bawa nama OSIS”
“jangan berpikir gue bales dendam karna lo udah ngelawan sama gue tadi, tapi sorry ini peraturan sekolah. Apa kau sudah mengerti adikku, Ayuningtiyash”
“ck..”
Peraturan tetaplah peraturan dan harus diikuti selama gadis yang kerap dipanggil Tiyash itu mencuri ilmu disekolah ini. Sepertinya memang ini adalah tindakan balas dendam yang dilakukan beberapa gadis tadi padanya.
“biar tau rasa tuh anak, dia pikir bisa ngelawan Adista disini”
“haha.. lo liat ekspresinya gak tadi, Bi. Sumpah pengen ketawa gue”
“haha.. bener-bener lo, Chel”
“udah yuk cabut, masih banyak kerjaan”
Dengan perasaan terpaksa ia melakukan apa yang dipinta oleh gadis-gadis tadi, sebelum hukuman yang lebih parah menghampirinya lagi. Dan Tiyash hanya bisa berdecak sebal tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
****
[Jakarta, 20 Desember 2008]
Ayuningtiyash, sebuah nama yang tidak memiliki arti spesial malah terkesan sangat sederhana namun anggun. Tapi, sepertinya hal itu sangat berbanding terbalik dengan sikapnya. Sudah beberapa bulan setelah kejadian melawan perintah dilapangan tempo hari, rasanya tidak pernah bosan bagi gadis ini untuk berurusan dengan seniornya.
“Tiyash, keluar lo sekarang. Lo gak pernah kapok cari masalah sama gue yah”
“eh cewek cupu keluar lo”
“sampe ketemu habis lo”
Saat ini, Tiyash sedang bersembunyi dibelakang gerobak mie ayam pak Somat dikantin, sementara Adista dan teman-temannya sedang mencari gadis itu sejak tadi. Pasalnya Tiyash sudah mengerjai Adista, Bianka dan Chelsea dengan menempelkan permen karet dibangku mereka.
“kayaknya dia gak ada disini deh, Dis”
“awas aja sampe gue liat tuh anak”
“kita cari ditempat lain aja”
“cabut”
Mereka merasa sangat kesal pada gadis itu, merasa dia tidak bisa menemukannya dikantin. Adista memutuskan untuk pergi dan mencari gadis itu ditempat lain. Sementara Tiyash yang merasa dirinya sudah aman langsung pergi meninggalkan kantin dan menuju tempat kesukaannya.
Disinilah dia sekarang, diatap gedung sekolahnya. Tempat dimana ia bisa merileksasikan pikiran juga hatinya setelah lelah dengan beribu materi dalam kelas. Mungkin sepulang sekolah nanti ia akan dipanggil oleh guru BK karena tindakannya hari ini.
Hal itu sudah tidak lagi membuat gadis itu pusing, karena memang ini bukan pertama kalinya ia bertindak nakal seperti itu. Selalu ada alasan disetiap tindakan yang dilakukannya.
Hari ini Tiyash melihat Adista dan teman-temannya sedang menyuruh adik kelasnya untuk membersihkan sepatu yang sebelumnya basah karna sirup yang dibawa anak tersebut.
Karena merasa tindakannya tidak pantas maka Tiyash mencoba untuk membalas perbuatannya tadi dengan menempeli bangku mereka dengan permen karet.
Bel sekolah berbunyi, pertanda jam terakhir sudah dimulai, tapi gadis itu tetap tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Sepertinya kali ini ia akan melewatkan jam terakhirnya lagi. Sejarah, adalah pelajaran yang selalu dibenci oleh Tiyash.
Menurutnya, pelajaran itu sangat membosankan. Untuk apa membahas kejadian dimasa lalu yang sudah tertulis dalam buku, bukankah kita hanya harus membacanya saja, untuk apa dipelajari. Toh kejadian itu terjadi saat peperangan zaman dahulu, untuk apa membahas masa lalu sementara saat ini saja sdah mengasyikan. Itulah yang selalu ada dipikiran gadis itu.
****
__ADS_1