
***
“aku pulang”
Seperti biasa, dirumah selalu sepi seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Meskipun rumahnya cukup besar, memiliki cukup banyak pelayan, tapi tetap saja Tiyash merasa sendiri.
“non, baru pulang. Makan dulu yah non, mbok sudah masakin makanan kesukaan non”
“ok mbok, tapi aku mandi dulu yah, gerah”
“kalau gitu mbok siapkan dulu yah”
“iya mbok, aku keatas dulu yah”
Mbok Lastri, kepala pelayan serta pengasuh Tiyash sejak kecil, sampai ia sebesar ini. Sepertinya hanya mbok Lastri-lah yang mengerti keinginan Tiyash selama ini. Beliau sudah seperti ibu Tiyash sendiri. Karena Tiyash memang sangat bergantung padanya.
“kok non Tiyash pake gaun yah mbok ?”
“sudah kamu jangan usil, cepet siapin makanan buat non Tiyash”
“saya kan cuma nanya aja mbok, iya-iya ini mau saya siapin”
Mimin salah satu pelayan dirumah itu merasa heran dengan gaun yang dipakai oleh nona mudanya. Wajar memang, karena seharusnya Tiyash memakai seragam sekolah bukannya gaun.
Didalam rumah yang cukup luas itu terdapat banyak bingkai foto kecil diatas meja dan sebuah foto keluarga cukup besar didinding ruang tengah, berbagai penghargaan pun tak lupa diletakkan di lemari kaca yang tersedia. Berbagai piagam juga tertempel didinding.
Ada banyak pencapaian yang telah diraih oleh orangtua Tiyash maupun gadis itu. Mulai dari penghargaan pengusaha sukses milik orangtuanya ataupun penghargaan saat ia di taman kanak-kanak hingga saat ini. Lomba melukis, mewarnai, berhitung, olimpiade Sains dan Matematika juga taekwondo. Semua diraihnya dengan kerja keras.
Meskipun dari luar ia terlihat seperti gadis nakal yang tak peduli pada pelajaran, namun sebenarnya ia sangat rajin. Sejarah mungkin pelajaran yang sangat dihindarinya, tapi jika jadwal Sains serta Matematika ia tak akan pernah absen sekalipun, meski saat itu ia sedang sakit, gadis itu akan tetap masuk sekolah.
Kegilaannya pada kedua bidang itu memang sudah berada dalam dirinya sejak kecil. Ia akan menjadi sangat pendiam jika sudah berada di Museum Sains, tempat penelitian dilakukan serta berbagai penemuan disimpan.
Ia pernah diajak ke pusat penelitian Sains dan Teknologi di Inggris oleh ayahnya, saat ia masih dibangku sekolah dasar. Dan sejak saat itu, ia menjadi sangat antusias dengan apapun yang berbau Sains.
***
“ada surat dari sekolah untuk ayah”
__ADS_1
“taruh diatas meja nanti ayah baca, ayah ada telfon sebentar”
“baiklah”
Sebenarnya Tiyash enggan untuk memberikan surat tersebut pada orangtuanya, tapi saat ia memikirkannya sebaiknya ia beritahukan pada mereka. Lantas ia menghampiri sang ayah yang sedang berada di ruang keluarga. Setelah menyerahkan surat dari guru BK yang didapatnya hari ini, Tiyash langsung masuk kamar dan segera pergi tidur.
“ayah, surat apa ini ?”
“ayah juga gak tau bu, tadi Tiyash yang ngasih, tapi belum ayah baca”
“yaudah, ibu aja yang baca”
Setelah membaca surat dari anaknya, tante Mira terkejut karena itu adalah surat panggilan untuk orangtua Tiyash agar mereka bisa meluangkan waktu untuk datang kesekolah besok pagi.
“Ayah, ini surat panggilan”
“maksud Ibu ?”
“liat ini, Ayah”
Keesokan pagi nya, Tiyash sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah dan saat ini ia sedang sarapan bersama kedua orangtuanya.
“kamu berangkat duluan aja dianter pak Kus, nanti Ayah nyusul”
“aku bisa berangkat sendiri”
“hari ini kamu dianter pak Kus, jangan bawa mobil sendiri”
“tapi, Ayah”
“gak ada tapi-tapian”
“pak Kus, ayo berangkat”
“loh sayang, sarapan kamu belum habis”
“udah kenyang”
__ADS_1
Sepertinya pagi ini suasana hati Tiyash tidak begitu enak, lantaran ia tidak diperbolehkan membawa mobilnya sendiri, dan harus diantar oleh pak Kus, supir keluarga Tiyash.
Jika memang tujuan mereka sama-sama ke sekolah, dan Tiyash tidak diperbolehkan membawa mobil sendiri kenapa harus meminta pak Kus untuk mengantarnya. Itulah yang dipikirkan oleh Tiyash sampai kesal seperti ini.
***
[Jakarta, 21 Desember 2008]
Terlihat Tiyash sedang berjalan ditrotoar seorang diri. Menendang apapun yang ia temui dijalan, entah itu dedaunan maupun ranting pohon yang jatuh.
Siang ini dia terlihat sangat kesal bahkan saat ini pun ia tidak pulang bersama pak Kus. Gadis itu teringat akan perkataan ayahnya pagi tadi.
'Tiyash, Ayah ngerti apa yang kamu lakuin, maafin Ayah sama Ibu tapi kami juga punya tanggung jawab yang harus kami urus'
“emangnya cuma mereka yang bisa bertindak semaunya sendiri, tanpa mikirin perasaan gue hah”
'mulai sekarang, kamu gak boleh bawa mobil sendiri, pak Kus akan nganterin kamu kemanapun kamu pergi'
“emangnya gue anak kecil yang harus terus diawasin, mereka itu sebenernya siapa sih, orangtua atau majikan gue, bisanya nyuruh-nyuruh tanpa tau apa yang gue rasain”
Tiyash terlihat mengoceh tidak jelas pada dirinya sendiri, bahkan tanpa ia sadari orang-orang yang lewat disebelahnya selalu melihat kearahnya dengan tatapan penasaran tentang apa yang sedang ia lakukan.
Mungkin mereka berpikir jika gadis itu sudah tidak waras.
Merasa diperhatikan, Tiyash bersikap seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan terus melanjutkan langkahnya pasti. Ia melihat sebuah kaleng kosong bekas minuman soda tergeletak sembarangan.
Tanpa pikir panjang ia langsung menendang kaleng tersebut kesembarang arah dengan keras mencoba untuk melampiaskan emosinya pada kaleng tersebut.
“ouch.. siapa itu!”
Sepertinya, tendangan Tiyash kali ini membuat orang lain kesusahan. Mendengar jeritan orang tersebut, Tiyash langsung sembunyi dibalik rerumputan di sepanjang trotoar itu.
Tapi saat ia sembunyi, Tiyash melihat seorang gadis sedang di kelilingi oleh tiga laki-laki yang lebih dewasa darinya. Sepertinya gadis itu sedang di palak.
****
‘kesederhanaan adalah titik awal untuk kita merasa bersyukur atas apa yang kita miliki.
__ADS_1
Tiyash.’