Tri Angel

Tri Angel
9. Kecelakaan


__ADS_3

[Bandung, 02 Januari 2014]



Satu hari terlewati setelah momen malam tahun baru lalu begitu indah, berkat adanya Risaka dan juga Ayu disampingnya.



Malam itu Ayu dan Risaka memang sengaja datang kerumah Ulfa membawa beberapa potong ayam juga jagung untuk menghabiskan malam pergantian tahun.



Karena mereka tahu bahwa Ulfa tidak boleh keluar lebih dari jam delapan malam, karena itulah jika Ulfa tidak bisa pergi maka mereka yang akan datang.



Mereka memang sudah mengenal keluarga masing-masing dengan baik.



Oleh sebab itu, ibu Ulfa mengizinkan mereka bertamu dan membuat acara malam tahun baruan dirumahnya. Dan dengan senang hati ibunya menyiapkan berbagai bahan dan alat untuk memasak ayam juga jagung itu.



Tak hanya ibunya, adik Ulfa ‘Kiki’ pun ikut bergabung bersama mereka. Disaat mereka saling mengejek lagi seperti biasanya, ibu Ulfa hanya memerhatikan betapa bahagia anak sulungnya saat bersama dengan teman-temannya.



Tak hanya diam, Kiki pun ikut bergabung untuk mengejek sikap dingin kakaknya pada semua orang.



Tentu saja hal itu tidak disiakan oleh Tiyash, karna ia sudah menyiapkan beribu kalimat untuk membully Ulfa malam itu.



Dan akhirnya, malam itu berakhir dengan bahagia, mereka menghabiskan semua jagung bakarnya sedangkan ayamnya masih tersisa karena rasa kantuk sudah mendatangi tubuh masing-masing sebelum bisa menghabiskan semua ayamnya.



Setelah membereskan semuanya, mereka segera bersih-bersih dan tidur. Risaka dan Ayu memang memutuskan untuk menginap dirumah Ulfa malam itu. Tidak mungkin juga mereka pulang dini hari seperti itu.



Keseruan mereka tidak berakhir sampai disana. Keesokan harinya mereka pergi ke villa milik keluarga Ayu yang ada di puncak, menghabiskan banyak waktu disana. 



“kalian tau gak, mbok Lastri sama pak Kus ini kaya Romeo dan Juliet nya aku loh”



“wah... hehe kamu bener dek”



“kalian serasi banget loh pak Kus sama mbok hehe”



“non, ini ada-ada aja deh, mbok sama pak Kus kan udah tua masa dibilang Romeo sama Juliet sih, gak pantes ah”



“haha.. mereka malu kak”

__ADS_1



Tingkah lucu Ayu dalam mencairkan suasana memang sangat efektif untuk membuat lengkung senyum Ulfa seperti saat ini. Ulfa sedang berada diteras rumahnya sambil terus memandang kedepan.



Membayangkan kejadian kemarin yang mampu membuatnya tertawa lepas. Sudah sejak lama rasanya senyum itu hilang dari dirinya.



Setelah puas melamun, Ulfa memerhatikan sekitar, tak jauh dari rumahnya ia melihat beberapa anak-anak sedang berkumpul, sepertinya sedang bermain.



Lantas ia melihat buah rambutan yang sudah berbuah, kebetulan yang luar biasa bahwa rambutan itu telah matang sempurna ditandai dengan warnanya yang merah merata pada seluruh permukaannya.



Mata Ulfa tak bisa lepas dari buah itu, ia langsung mengarahkan kursi rodanya kebawah pohon tersebut. Mengambil batu yang dekat dengannya lalu menimpukkan kearah buah tersebut.



Tapi lemparannya selalu meleset dan mengenai batang lain bukan buahnya.



“ah, kenapa susah banget sih, gue kan cuma mau makan rambutan”



Dan hanya itu yang bisa ia lakukan, mengomel pada diri sendiri. Ia merasa kesal pada dirinya, hanya mengambil buah rambutan itu tidaklah sulit, tapi apa yang ia lakukan sekarang. Tak lama, satu tangkai buah rambutan itu jatuh tepat dipangkuannya.




Ulfa merasa senang sekaligus heran bagaimana bisa buah rambutan jatuh begitu saja. Apa mungkin Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginannya. Tidak mungkin.



“masa iya buah ini jatoh dari langit, kan gak mungkin”



“ya iyalah gak mungkin”



“adek”



“iya ini aku. Kalo teteh mau rambutan, kenapa gak manggil aku, malah duduk dibawah pohonnya, berharap buahnya jatoh sendiri gitu”



“gak gitu juga”



“terus, ngapain teteh disitu sendirian ?”



“teteh tadi lagi nimpukkin rambutan pake batu tapi gak kena-kena”

__ADS_1



“ah... teteh emang gak pakar nimpuk, liat aku tuh. Langsung jatoh banyak kan dipangkuan teteh”



“jadi kamu yang jatohin rambutan ini ?”



“ya iyalah, emang teteh pikir setan gitu ?”



“haha... tapi emang mirip sih”



“enak aja, aku ini malaikat penolong tau”



Sedang asyik bercanda dengan adik kesayangannya. Sebuah motor tanpa diduga melaju kencang kearah mereka. Masalahnya jalan itu adalah tikungan dan ada banyak pohon disebelahnya. Sepertinya pengendara itu, tidak sadar jika ada orang disana.



Ulfa tidak menyadari hal itu, tapi tidak dengan adiknya. Kiki berlari dari teras untuk menyelamatkan kakaknya dari bahaya, tapi justru dirinya yang berada dalam bahaya.



Ulfa terhempas ke seberang jalan sedangkan Kiki tidak sempat menghindar, dan akhirnya tertabrak oleh sepeda motor tadi.



Pengendara motor itu merasa terkejut, dan segera menghentikan sepeda motornya. Kiki sendiri terjatuh dengan darah keluar dari mulutnya, tubuhnya banyak luka lecet akibat benturan dengan jalan yang dilapis oleh batako.



Melihat adiknya terjatuh, Ulfa langsung mengarahkan kursi rodanya ke tempat Kiki, ia berteriak histeris melihat Kiki. Pengendara itu langsung berlari kearah mereka. Ia bingung harus melakukan apa, tidak mungkin ia membawa Kiki kerumah sakit menggunakan sepeda motor.



Dan tepat saat itu, Ayu datang menggunakan mobil miliknya. Ia melihat Ulfa sedang menangis, sedangkan Kiki tergeletak ditanah tidak sadarkan diri. Dengan cepat Ayu langsung keluar dan membawa Kiki kerumah sakit.



Saat itu ibunya sedang tidak ada dirumah, beliau sedang ada di puskesmas, karena ada yang ingin melahirkan. Benar, ibu Ulfa adalah seorang bidan di desanya.



Sepanjang perjalanan Ulfa terus saja menangis, khawatir melihat kondisi adiknya, ia tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Kiki.



Pengendara motor itupun ikut ke rumah sakit bersama mereka.



Diperjalanan Ayu segera menghubungi Risaka agar datang ke rumah sakit dengan segera. Karena ia tidak mungkin bisa menenangkan Ulfa seorang diri jika situasinya sedang gawat begini.



****


__ADS_1


__ADS_2