
“hidup itu harus penuh dengan kepercayaan diri”
“ah ya, ya kamu menang”
“aku menang, beneran? mana hadiahku”
“astaga, aku bener-bener suka sama kamu dek”
DEG...!
Ada perasaan aneh sesaat yang menjalar dihati Tiyash, saat mendengar kata ‘dek’ keluar dari mulut Risaka.
Ini bukan kali pertama ia dipanggil seperti itu, tapi sepertinya ada makna lain yang terkandung dalam kata ‘dek’ milik Risaka.
“ada apa ?”
“eh mm.. gak, gak ada apa-apa”
“kamu manggil aku kakak, jadi aku boleh kan manggil kamu dek ?”
“tentu... kakak bebas panggil aku apa aja”
“nama panggilan kamu siapa ?”
“Tiyash”
“Tiyash, uhm terlalu sempurna. Apa aku boleh panggil kamu Ayu ?”
“bukannya tadi aku udah bilang, kakak bebas panggil aku apa aja”
“ok..”
Tengah asyik berbincang, Tiyash yang duduk menghadap langsung ke IGD melihat sebuah kejanggalan.
Dia melihat seorang gadis sedang duduk dikursi roda sambil menundukan kepalanya.
Tidak aneh memang, tapi saat diperhatikan dari arah koridor sebuah brankar pasien tengah melaju diikuti beberapa perawat juga dokter disana, sepertinya mereka sedang menangani pasien gawat darurat.
Lalu gadis itu..
“kamu lihat apa ?”
“kak, itu...”
“ya Allah, hey awas”
Risaka langsung berlari ketempat dimana gadis yang duduk dikursi roda itu berada. Tiyash yang agak kesusahan dengan tiang infus hanya bisa setengah berlari.
Risaka terus saja berteriak pada gadis itu, namun sepertinya ia tidak mendengar atau memang tidak mengacuhkannya.
Untung saja, Risaka memegang kendali kursi roda itu tepat waktu dan ia langsung mengarahkannya ketempat lain sesegera mungkin, jika tidak maka gadis ini akan terjatuh akibat tertabrak oleh brankar pasien. Itu bukanlah sesuatu yang lucu, bukan.
“astaghfirullah”
“hey, apa kamu gak denger dari tadi aku teriak-teriak”
“kakak, kamu gak apa-apa?, Ya ampun kalo aja tadi kak Ris gak lari mungkin aku udah liat berita di-TV, seorang gadis kursi roda terjatuh akibat bertabrakan dengan brankar pasien, WAHH”
“dek ikh”
“e-eh, ada apa ?”
“kamu gak liat barusan ada pasien darurat yang lewat pake brankar, kalo aku gak cepet mindahin kursi roda ini kamu bisa ketabrak tadi, bahkan aku udah teriak-teriak kamu gak denger ?”
__ADS_1
“kakak kursi roda mungkin gak denger, jangan marahin dia kenapa sih”
“eh.. apa katamu ?”
“kakak kursi roda gak apa-apa kan, ada yang luka gak ?”
“i-iya aku baik-baik aja”
“kita duduk disana yah”
Gadis yang duduk dikursi roda itu terlihat syok untuk beberapa saat, terlihat dari raut wajahnya yang nampak kebingungan dengan apa yang barusan terjadi padanya.
Risaka mengajaknya ketempat yang lebih aman, untuk membuatnya lebih rileks.
“kamu bener gak kenapa-napa ?”
“i-iya bener”
“kakak tadi kenapa ada ditengah jalan?, kakak lagi nungguin siapa ?”
“hey bocah, satu-satu nanya-nya. Dia bisa bingung nanti”
“ok ok, kakak tadi lagi ngapain disana ?”
“kamu kesasar atau lagi nyari apa ?”
“tadi aku yang disuruh nanya satu-satu, sekarang kakak yang lebih banyak nanya dari aku”
Bukannya menjawab salah satu dari pertanyaan kedua gadis dihadapannya saat ini, justru gadis itu malah tersenyum melihat pertengkaran kecil mereka.
Baginya ini adalah pemandangan langka yang bisa menaikkan suasana hatinya.
Mendadak terkejut dengan perkataan Tiyash, membuat senyum dibibir gadis itu memudar seketika.
“eh kok malah balik datar lagi, senyum aja lebih cantik tau”
“jangan dengerin dia, kamu belum jawab pertanyaan kita, tadi kamu ngapain disana ?”
“oh iya, aku lagi nungguin ayah ngambil hasil rontgen”
“rontgen ?”
“kakak sakit ?”
“enggak kok, cuma periksa rutin aja”
“oh gitu”
“nama kamu siapa ?”
“Ulfa Abdi Raya”
“kakak lahir di bulan Agustus yah ?”
“kok kamu tau ?”
“nebak aja sih, tau nya bener”
“kamu nih ada-ada aja deh, dek”
“kamu sakit ?”
__ADS_1
“aku. Ah enggak, aku cuma lagi syuting aja disini”
“dek, jangan becanda deh”
“kakak nih terlalu serius ntar cepet tua baru tau rasa loh”
“eh nih bocah pake ngatain aku lagi”
“emang bener”
“kalian lucu deh”
Bukannya melerai justru gadis yang bernama Ulfa ini malah menganggapnya sebagai hiburan. Dia terus tersenyum tanpa disadarinya.
Namun, hal ini telah lebih dulu disadari oleh Tiyash. Gadis yang satu ini selalu saja bisa mengetahui situasi terlebih dahulu.
“ah ya kakak kursi roda sudah makan ?”
“dek, dia itu punya nama, kenapa manggilnya begitu terus ?”
“ah ya maaf, kak Ul udah makan belum ?”
“kak Ul ?”
“nama kakak kepanjangan, aku gak suka manggil nama lebih dari dua suku kata, jadi aku coba buat nyingkat aja, boleh kan ?”
“bo-boleh kok, panggil aja sesuka kamu”
“ok”
“tapi ngomong-ngomong, berapa umur kamu ?”
“17 tahun”
“kamu seumuran sama aku kok. Aku Risaka, ini adek ku, Ayu”
“adek kamu ?”
“bukan kandung, kakak pasti mikir kalo kita gak mirip kan ?”
“ah iya, hehe”
“entah kenapa aku ngenalin dia adek aku yah, padahal dari tadi kita gak akur, belum lama kenal juga sih hehe”
“kalian baru ketemu ?”
“enggak, kita udah pernah ketemu sebelumnya. Tapi baru tadi sempet ngobrol banyak, gak lama ketemu kamu”
“gara-gara brankar yah”
“haha.. kamu bener”
“kita jadi sahabat yah”
Kata-kata terakhir yang keluar dari bibir manis Tiyash membuat mereka terikat satu sama lain mulai hari itu. Tak banyak yang mereka ceritakan, hanya bertukar kontak dan berbagi alamat masing-masing.
Bersenda gurau seadanya, sampai satu persatu dari mereka mulai pergi, karena mbok Lastri sudah pusing mencari keberadaan Tiyash yang menghilang setelah tes darah, disusul oleh ayah Ulfa yang menyusulnya untuk mengajak pulang, juga Risaka yang kembali ke sekolah setelah mendapatkan obatnya.
****
‘merekalah pembentuk lengkuk senyum diwajahku yang pucat, selain alm. Ayahku tentunya.
Ulfa.’
__ADS_1