
Ayu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk merileksasikan tubuhnya, dan segera memulai presentasi.
‘kita semua telah menyaksikan presentasi dari peserta lain sebelum saya’
‘mereka semua membahas mengenai kondisi alam diberbagai daerah diseluruh negeri ini’
‘mereka semua benar dan jujur mengatakan hal tersebut, tapi... yang perlu kita lakukan sebelum menyelesaikan masalah diseluruh penjuru negeri ini adalah memperbaiki dahulu apa yang ada disekitar kita’
‘seperti yang kita lihat disekitar kampus ini, masih banyak lahan kosong dengan tanahnya yang mengering serta tumbuhan yang mati, apakah kita akan diam saja melihat fakta tersebut’
‘memang benar kita harus mengadakan kegiatan reboisasi besar-besaran pada seluruh pelosok negeri, tapi bagaimana kita bisa mempromosikan hal tersebut jika lingkungan sekitar kita saja tidak diperdulikan’
‘maka dari itu, saya mengajak seluruh mahasiswa, para dosen dan juga penghuni kampus untuk bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman, bersih juga nyaman untuk kita semua’
‘sekian presentasi dari saya, bila ada salah kata saya meminta maaf yang sebesar-besarnya’
Setelah menutup presentasinya, Ayu mendengar berbagai sorakan dan juga tepuk tangan dari semua yang hadir di aula, termasuk dosen dan juga rektor.
Tapi dari sekian banyak penonton disana, ia masih saja tidak bisa menemukan keberadaan orangtuanya diantara keramaian.
Ayu sudah menunggu kedatangan kedua orangtuanya sejak acara dimulai, bahkan sampai ia melakukan presentasi sebagai peserta terakhir.
Dan saat ini adalah puncak acara, yaitu pengumuman siapa pemenang dalam ajang adu presentasi kali ini.
Pembawa acara tengah sibuk memanggil peserta yang telah berhasil keatas panggung, dimulai dari juara tiga. Seorang perwakilan dari fakultas ilmu Sosial mendapat kesempatan untuk bersalaman dengan rektor sebagai juara ketiga.
Jantung Ayu berdegup kencang kala menantikan siapakah juara kedua, selain itu dia juga sibuk mencari dimana ayah juga ibunya sekarang.
Pembawa acara sudah mengumumkan juara kedua, seorang laki-laki yang mewakili fakultas pertanian itu sedang berdiri diatas panggung sambil menerima hadiah dan berfoto bersama dengan rektor.
Harapan Ayu mulai mengecil, ia tidak bisa mengharapkan apapun lagi, presentasinya tidak cukup bagus jika dibandingkan dengan hasil presentasi dari fakultas pertanian. Memang fakultas pertanian mengirimkan dua perwakilan dalam lomba ini.
Sepertinya ia tidak ingin mendengar nama yang akan disebutkan oleh pembawa acara sebagai pemenang acara kali ini.
Ia menjadi pesimis saat tak kunjung menemukan keberadaan ayah dan ibunya disana.
Tapi, saat ia akan meninggalkan kursi teman-temannya menahan dan menyuruhnya untuk tetap tinggal sebentar lagi sampai mereka mengetahui siapa pemenang yang pertama.
Ayu dengan lesu menuruti kedua temannya itu. dan kembali duduk dikursinya.
Saat pembawa acara menyebutkan namanya, semua penonton berteriak gembira terutama mahasiswa dari fakultas kedokteran, karena yang keluar sebagai juara pertama adalah Ayu.
Mendengar namanya disebutkan Ayu langsung naik keatas panggung dan menerima buket bunga serta berbagai hadiah dari ketua yayasan.
Setelah acara pembagian hadiah selesai, para juara mendapatkan banyak ucapan selamat dari mahasiswa.
Risaka, Ulfa dan Delon terlihat bahagia, tapi Rian yang selalu memerhatikan Ayu melihat bahwa gadis itu sedang tidak bahagia.
__ADS_1
“selamat yah Ay”
“ah iya makasih kak Delon”
“minggir lo jangan deket-deket Ay”
“apaan sih, Ian”
“Ay, lo kan berhasil jadi juara pertama, masa muka lo asem gitu”
“dek, kamu kenapa ?”
“kamu gak seneng ?”
“gak kok bukan gitu, aku seneng, seneng banget malah”
‘saking senengnya sampe mau marah’
Ayu mengucapkan kalimat terakhir dengan perlahan supaya tidak terdengar oleh teman-temannya. Tapi sepertinya Rian mendengarnya meski samar.
“marah, lo marah kenapa ?”
“apaan sih, udah ah gue mau balik, awas lo ngikut-ngikut”
“loh dek, kok pulang ?”
“dek, hey”
“dek Ay kenapa yah Ris ?”
“kayanya dia kecewa deh, ayah sama ibu kan gak dateng”
“kamu bener juga, Ris”
“gue susulin Ay dulu deh kalo gitu”
“e-eh lo mau kemana, udah biarin dia sendiri. Kalo lo nyusul dia yang ada lo ditelen idup-idup”
Rian berniat ingin menghibur Ayu saat ini, tapi segera Risaka menahannya. Karena yang dibutuhkan Ayu saat ini adalah waktu untuk menyendiri, jika nanti ia sudah lebih tenang maka gadis itu akan datang dengan sendirinya.
*“kalo ayah sih pasti dateng, soalnya anak kesayangan ayah ikut partisipasi”
“wah... beneran ya, ayah sama ibu janji kan mau dateng”
“iya janji sayang”
“ok, aku janji bakalan menang biar nanti ayah sama ibu bisa liat aku pegang piala dipanggung”
__ADS_1
“ibu yakin kamu pasti menang”
“jelas dong, siapa dulu anak ayah”*
Ayu pulang naik bus, karena ia tak sempat meminta pak Kus untuk menjemputnya.
Rasanya saat ini ia ingin berteriak meluapkan kemarahannya. Tapi yang bisa ia lakukan hanya diam dan meneteskan air mata mengingat janji orangtuanya minggu lalu.
“tega-teganya ayah sama ibu bohongin aku, hiks”
Sampai dirumah, Ayu langsung masuk ke kamarnya dan berteriak meluapkan emosinya, membanting semua benda yang ia lihat.
Setelah puas ia duduk bersender ditepi kasur dan menangis sambil terus memegang piagam yang ia dapatkan tadi.
“non, non kenapa. Buka pintunya non, si mbok khawatir sama non”
Mbok Lastri yang mendengarnya, merasa khawatir jika saja nona mudanya itu melukai dirinya sendiri saat sedang marah.
Beliau sudah berusaha membujuk Ayu supaya membuka pintu dan membiarkan mbok Lastri masuk namun masih tidak ada jawaban.
Mbok Lastri hanya mendengar tangisan serta teriakan sesekali dari dalam kamar.
Setelah mengingat sesuatu, mbok Lastri mengerti jika Ayu sedang merasa kecewa karena orangtuanya tidak bisa hadir dalam acara hari ini.
Mbok Lastri segera menghubungi om Feri dan juga tante Mira supaya segera kembali kerumah, namun hal itu tidak terjadi.
Orangtua Ayu tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka begitu saja, mereka juga sedang berada di Jakarta saat ini.
Didalam kamar, terlihat Ayu sedang tertidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, sepertinya ia ketiduran saat lelah menangis sejak pulang dari kampus.
Mendengar tidak ada suara didalam kamar, mbok Lastri lantas pergi kedapur menyiapkan makan malam untuk Ayu.
Karena nanti saat Ayu terbangun, ia akan mencari makanan didapur. Hal itu sudah pernah terjadi saat mereka tinggal di Jakarta dulu.
Dan benar saja, malam itu Ayu terbangun dengan perut lapar, lantas ia pergi kedapur dan mengambil makanan.
“makanan nya sudah si mbok panaskan non”
“makasih yah mbok”
Ayu langsung melahap semua makanannya sampai habis tak tersisa. Konyol memang, disaat ia sedang merasa kecewa, dan berusaha mengunci diri justru perutnya sangat lapar.
Memikirkan makanan disaat seperti ini memang terdengar lucu.
“Tiyash, kamu udah makan malam sayang ?”
__ADS_1