
"Tiyash, kamu udah makan malam, sayang"
Terdengar suara yang tidak asing dari arah ruang tamu. Dan ternyata benar, itu adalah suara tante Mira. Beliau pulang bersama dengan om Feri tepat setelah Ayu menyelesaikan makan malamnya.
Mbok Lastri yang melihat hal itu langsung meninggalkan mereka. Ayu yang ingin menaiki tangga kelantai atas mengurungkan niatnya dan berhenti sejenak.
“Tiyash, maafin ibu ya, ibu lupa kalau acara lomba itu hari ini”
“kalian emang gak pernah inget sama aku”
“sayang, kamu jangan bilang begitu. Ayah pikir lomba itu besok, jadi ayah berusaha selesaikan pekerjaan ayah hari ini”
“bahkan kalian pun ngelanggar janji kalian untuk yang kesekian kalinya”
“nak, maafin ibu Tiyash”
“aku gak butuh maaf kalian. Kalo kalian emang gak sanggup untuk nepatin janji, tolong, jangan janjiin apapun sama aku. Kalian gak tau berapa lama aku nunggu, berapa keras usaha aku buat menangin lomba itu cuma buat bikin kalian bangga liat aku berdiri disana sambil pegang piala. Tapi aku salah, mau seberapa keras aku berusaha gak akan pernah bisa ngalahin kesibukkan kalian”
“Tiyash bukan begitu maksud kami”
“udah lah ayah, ayah bilang aku anak kesayangan ayah kan, bahkan seorang anak kesayangan ayah pun dinomor dua-kan setelah pekerjaan”
“ayah ngelakuin itu semua demi kamu sayang”
“demi aku, apa yang demi aku”
“Tiyash, ibu sama ayah kerja keras supaya kamu bisa hidup nyaman gak kekurangan apapun”
“uang, uang, uang. Yang kalian pikirin selama ini cuma uang, kalian gak pernah mikirin perasaan aku. Aku gak butuh uang kalian, bahkan aku rela hidup miskin asalkan aku bisa dapetin perhatian kalian. Tapi yang kalian kasih cuma uang. Aku benci sama ayah, aku benci sama ibu, aku benci kalian semua”
“Tiyash, Tiyash”
“sayang, maafin ibu, Tiyash”
Setelah mengatakan semua perasaan yang selama ini Ayu simpan dengan berteriak, ia langsung berlari kekamar dan membanting pintunya dengan keras hingga terdengar dentuman sampai kebawah.
“bu, biarin Tiyash sendiri, dia butuh waktu. Besok pagi baru kita coba bicara sama dia”
“tapi ayah”
“bu, percaya sama ayah, besok kalo dia udah tenang, dia pasti mau dengerin kata-kata ibu, sekarang lebih baik ibu istirahat”
__ADS_1
Tante Mira ingin menyusul anaknya yang sedang marah itu kekamarnya, namun ditahan oleh om Feri.
Mereka memutuskan untuk memberi Ayu waktu untuk menenangkan diri malam itu.
Mbok Lastri yang mendengar keributan tersebut merasa sangat sedih melihat Ayu. Gadis itu sangat terluka kali ini. Itu sebabnya ia meluapkan segala amarahnya dengan berteriak pada orangtuanya sendiri.
Malam itu Ayu kembali menangis dikamarnya. Ada perasaan menyesal karena telah berani meneriaki orangtuanya seperti tadi.
Tapi, perasaan marah dan kecewa juga bercampur menjadi satu dalam hatinya saat ini. Ayu menghabiskan malam itu dengan isak tangis hingga ia tertidur dan terbangun keesokan harinya.
[Bandung, 21 Maret 2014]
“non, mau sarapan apa ?”
“roti aja mbok”
“yaudah mbok buatin dulu yah”
“kamu udah bangun sayang”
“mbok rotinya udah siap belum ?”
“pak Kus, ayok berangkat”
“Tiyash, sarapan dulu baru berangkat, nak”
Hari ini Ayu berangkat lebih pagi kekampus, untuk mengejar kelas dipagi hari supaya tidak terlambat.
Bahkan ia mengurungkan niat untuk sarapan dirumah saat melihat ibunya dan lebih memilih sarapan di mobil dengan sehelai roti lapis isi selai kacang kesukaannya.
Tante Mira merasa sangat menyesal atas kejadian kemarin, ia telah membuat kesalahan yang sangat fatal sampai-sampai putrinya sendiri tidak mau bicara dengannya.
Mbok Lastri yang mengerti perasaan tante Mira pun hanya mampu memberikan semangat pada majikannya itu.
Saat sampai dikampus, Ayu mengikuti kelas pagi dengan kurang baik, karena pikirannya memang sedang kalut saat ini.
Tapi ia tetap mencoba untuk fokus pada materi dihadapannya. Rian terus memerhatikan Ayu dari belakang. Ia sangat ingin menghampiri dan menenangkan gadis itu saat ini juga.
Tapi saat kelas selesai, justru ia tidak bisa menemui Ayu karena ada rapat mengenai persiapan praktek yang akan dilaksanakan lusa, tentu saja ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya demi masalah pribadi. Sedangkan Ayu langsung menuju ke kebun belakang kampus seperti biasanya.
__ADS_1
Saat sampai disana ia duduk direrumputan sambil memejamkan mata dan kepala menengadah keatas.
Cukup lama ia melakukan itu, sampai ia terkejut saat membuka mata, ada mata lain yang melihatnya dengan tatapan intimidasi.
“kamu gak bilang kalo ada disini ?”
“kita udah nyariin kamu kemana-mana tau, malah ada disini”
“mata kamu bengkak, kamu abis nangis yah dek ?”
“enggak kok”
“huahaha... mata kamu persis kaya panda deh dek, liat nih”
“ikh kak Ris enggak tau, cantikan aku dari panda”
“cantik dari mananya”
“kak Ul kok jadi ikut-ikutan sih. Aku kan emang cantik”
“aku upload ah”
“kak Ris, jangan iseng deh. Apus gak”
“Ul ambil hp ku, trus upload foto dek Ay tadi”
“siap”
“jangan kak Ul”
“yah... udah berhasil, kamu telat sih ngomongnya”
“ah kalian jahat deh, muka ku kan jelek banget di foto itu”
“ngaku dia Ris kalo jelek”
“haha...”
Setidaknya bersama mereka Ayu bisa melupakan kekesalannya sejenak. Rasanya ia tidak ingin hari ini berakhir.
Ayu ingin jika ia benar-benar melupakan kejadian kemarin bukan hanya sejenak. Tapi jika ia melihat wajah orangtuanya lagi, maka kemarahannya akan kembali.
__ADS_1