
“maafin Ulfa ayah, kali ini aja Ulfa gak nurut sama ayah ya”
Ulfa bergumam sebelum meninggalkan teras rumahnya dan pergi ketempat yang Beni pinta.
Tapi saat sampai disana ia melihat sesuatu yang tidak asing. Seorang gadis sedang berdiri dengan pria yang ia kenal, mereka terlihat sangat dekat. Untuk memperjelas penglihatannya, Ulfa mendorong kursi roda nya untuk mendekat.
“Beni”
Dugaannya benar, lelaki yang berdiri disana adalah Beni kekasihnya, dan wanita itu tidak lain adalah Vina temannya sendiri. Apa yang sedang ia lihat saat ini adalah nyata.
“k-kamu ngapain disini sama Vina ?”
“Ulfa, kayaknya kita harus udahin hubungan ini”
“apa maksud kamu ?”
“itu udah jelas karna Beni lebih milih gue dibanding lo”
“apa... lo… dasar cewek gak tau malu, beraninya lo ?”
Saat ini Ulfa berada diluar kendali, ia langsung menarik lengan Vina supaya mendekat dan menarik rambutnya sekuat mungkin.
Beni yang melihat hal itu berusaha untuk melepaskan tangan Ulfa dari kepala Vina. Sangat jelas bahwa Beni lebih membela Vina daripada gadis itu.
Setelah tangan Ulfa terlepas, Beni memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Ulfa sendirian.
Ulfa menangis dan berteriak untuk menghentikan Beni, tapi lelaki itu tetap tidak berhenti. Mereka berlari menerobos hujan lebat malam itu, dan meninggalkan Ulfa sendirian di halte bis.
Tepat disaat itu om Farhan datang membawa payung untuk menjemput anaknya. Beliau merasakan sakit saat melihat anaknya seperti saat ini.
Sedangkan Ulfa yang telah menyadari kedatangan ayahnya hanya bisa menangis sambil memeluk sang ayah.
Malam itu adalah malam paling buruk yang pernah Ulfa rasakan. Bukan hanya dirinya tapi juga bagi om Farhan. Anak yang sangat ia sayangi telah disakiti oleh seorang pria asing yang sama sekali tidak pantas untuk putrinya.
Sejak kejadian itu, Ulfa mulai menjaga jarak dari Beni. Dan mulai menuruti perkataan ayah juga ibunya. Hubungan antara ibu dan anak yang selama ini renggang akhirnya kian membaik berkat keputusan Ulfa menjauh dari lelaki itu.
Tapi, hal itu hanya bertahan beberapa hari saja, karena Beni kembali menghubungi Ulfa dan memintanya untuk menemuinya untuk suatu alasan.
Hati Ulfa yang memang masih sangat mencintai lelaki itu tak bisa menolak permintaannya. Gadis itu memutuskan untuk pergi menemuinya.
Ulfa langsung meminta izin pada ayahnya untuk pergi menemui Beni. Tapi dengan tegas om Farhan tidak memberinya izin. Dan dengan keras kepala juga gadis itu tetap pergi dari rumah untuk menemui laki-laki yang ia cintai.
__ADS_1
Dan tepat saat Ulfa pergi, om Farhan merasakan nyeri yang amat sangat didadanya. Karena memang beliau mempunyai riwayat jantung selama ini, dan kejadian barusan membuatnya sedikit terkejut yang memicunya terkena serangan jantung.
Tante Sarah yang berniat pergi ke puskesmas sore itu terkejut melihat suaminya sudah tergelatak dilantai sambil memegangi dadanya.
“astaghfirullah ayah, kita kerumah sakit sekarang ya”
Om Farhan langsung dilarikan kerumah sakit setelah ambulans datang. Beliau langsung mendapatkan pertolongan dari dokter, dan harus segera dilakukan operasi karena jantungnya mengalami kebocoran.
Operasi berlangsung selama kurang lebih empat jam, tante Sarah terus menunggu diluar dengan gusar. Kiki yang duduk disana berusaha menahan tangisnya dan menenangkan sang ibu. Sedangkan Ulfa masih belum kembali.
“bunda, ayah bakal baik-baik aja kan didalem sana”
“iya sayang”
“bunda harus tenang yah”
Dokter keluar ruangan dengan raut wajah yang murung, sepertinya kejadian buruk telah terjadi selama operasi. Tante Sarah dan Kiki langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi om Farhan.
“bagaimana keadaan suami saya dok ?”
“a-apa dok”
“suami ibu mengalami komplikasi kronik pada jantung dan tidak bisa diselamatkan”
“dokter ayah saya baik-baik aja kan”
“kami turut berduka cita atas meninggalnya suami anda bu, kami permisi”
Mendengar berita duka yang disampaikan oleh dokter membuat tante Sarah terdiam, lututnya mulai melemas dan ia ambruk karena tidak bisa menopang keseimbangan tubuhnya lagi.
Ulfa yang saat itu baru sampai didepan ruang operasi langsung berlari kearah sang ibu. Ia mengetahui bahwa ayahnya masuk rumah sakit dari adiknya, Kiki.
“bunda, ayah dimana bun ?”
“teh, ayah teh”
“ayah kenapa dek, ayah baik-baik aja kan ?”
“ayah meninggal kak”
__ADS_1
“a-apa, gak… gak mungkin… ayah”
Ulfa histeris ketika melihat jenazah om Farhan dibawa keluar dari ruang operasi. Ia berdiri dan membuka kain putih yang menutupi wajah ayahnya berharap jika berita kematian yang ia dengar adalah bohong. Tapi saat ia melihat wajah pucat ayahnya, Ulfa lagi-lagi berteriak tidak percaya.
“ayah… ayah jangan pergi, maafin Ulfa ayah”
Mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat ayahnya bersikeras melarang dirinya untuk pergi menemui Beni. Ia sangat menyesalinya, bahkan saat sampai ditempat Beni pun ia hanya mendapatkan luka, karena Beni memanggilnya hanya untuk menceritakan bahwa lelaki itu sedang putus asa karena Vina meninggalkannya.
Dan sekarang, ayahnya telah pergi dari sisi Ulfa untuk selamanya.
****
[Bandung, 02 Januari 2014]
“seandainya dulu Ulfa dengerin perkataan ayah, mungkin sekarang ayah yang ada disamping Ulfa”
“kak Ris, udah deh jangan ngejek aku terus, ntar aku marah nih”
“haha… emang kamu bisa marah apa, coba kakak mau liat”
“ikh, tuh kan kak Ul, kak Ris itu emang nyebelin tau ah aku marah”
“marah kok bilang-bilang”
“tapi Ulfa bersyukur yah, karena mereka berdua ada disini untuk ngehibur Ulfa sama seperti yang ayah lakuin dulu, Ulfa bahagia karna mereka berdua hadir di hidup Ulfa”
“kak Ris, mending sekarang kita kekamar dek Kiki aja yuk ajak kak Ul”
“bener juga kamu dek, Ul kita kekamar dek Kiki yuk”
“kak Ul, kenapa ngelamun ayok”
“ah iya iya”
Ulfa kembali kedalam rumah sakit untuk menemui adik dan juga ibunya, ia ingin meminta maaf karena tidak bisa menjaga Kiki dengan benar. Sedangkan Risaka juga Ayu menunggu diluar, membiarkan ibu dan anak itu mengobrol.
****
‘bersyukur adalah cara termudah menikmati hidup yang lebih baik. Ulfa.’
__ADS_1