
[Bandung, 07 Agustus 2014]
Setelah mengalami beberapa kejadian yang sangat menguras waktu serta tenaga, kini saatnya kembali sekali lagi pada rutinitas yang tak kalah melelahkan tapi harus tetap dijalani karena dengan beginilah keadaan kembali normal seperti sedia kala.
Pagi ini Ayu berniat berangkat ke kampus bersama dengan pak Kus setelah menyelesaikan sarapan bersama orangtuanya, mbok Lastri juga pak Kus.
Tapi om Feri mengatakan bahwa pak Kus harus menjadi supirnya kembali mulai hari ini.
“loh ayah, trus aku berangkat ke kampus gimana kalo pak Kus nganter ayah ?”
“kamu udah selesai sarapan belum ?”
“udah”
“ikut sama ayah sebentar”
“mau kemana, nanti aku telat kekampus, ayah. Bu liat ayah deh”
“udah ikut aja sana”
Tante Mira dan mbok Lastri hanya tersenyum melihat tingkah Ayu pagi ini. Sedangkan pak Kus sudah berada diluar untuk memanaskan mobil milik om Feri. Om Feri sendiri mengajak putrinya itu menuju kegarasi mobil.
“ayah mau nganterin aku ke kampus ?”
“enggak”
“trus ngapain kita ke garasi, aku bisa telat ayah”
“gak akan, sekarang kamu buka tirai itu”
“loh, sejak kapan ada tirai disana ?”
“aish... kamu ternyata lebih bawel sekarang, udah cepet buka aja katanya takut telat”
“iya...iya, bawel”
“ayah denger loh”
“hehe...”
Ayu hanya memasang cengiran kuda saat ayahnya mengatakan hal itu. Ia lantas menuruti perintah dari bos besarnya, dan berjalan mendekati tirai lalu membukanya.
Terlihat sebuah mobil Honda Jazz warna merah persis seperti milik Ayu sebelumnya.
“wow… ayah ini buat aku ?”
“loh, ini emang punya kamu, kamu lupa ayah udah kasih kamu mobil ini dari umur kamu sepuluh tahun”
__ADS_1
“um… soal mobil itu, Tiyash minta maaf karna udah ngejualnya, ayah”
“ternyata kamu emang gak sayang sama ayah”
“eh, gak gitu ayah... masalahnya, kak Ris lagi butuhin uang, satu-satunya cara supaya aku dapet uang yah dengan jual mobil dari ayah”
“no... no... bukan itu permasalahannya sekarang”
“terus apa ?”
“kalo kamu sayang sama ayah, trus sayang sama mobil kamu, masa kamu gak bisa ngenalin yang mana mobil kamu dulu dan mana mobil yang baru”
“maksud ayah ?”
Om Feri memang memberikan mobil yang sama pada putrinya dengan mobil yang pernah Ayu jual dipelelangan dulu.
Om Feri sangat mengetahui betapa berharganya mobil itu bagi putrinya, oleh karena itu saat mengetahui bahwa mobilnya telah dijual, beliau langsung menghubungi pihak pelelangan dan mencari tahu siapa yang membeli mobil milik putrinya itu.
**
[7 bulan yang lalu]
“hallo, selamat malam, dengan bapak Putra”
“benar sekali, anda siapa ?”
“oh mobil itu, itu memang mobil yang bagus, tapi maaf mobil itu sudah terjual kemarin”
“siapa yang membelinya ?”
“seseorang yang cukup kaya”
“bisa kau dapatkan kembali mobil itu, saya akan membayarnya dua kali lipat”
“baiklah, bisa diatur”
**
Tentu saja, om Feri rela menghabiskan semua uangnya demi melihat putrinya bahagia. Dan hal itu terbukti pagi ini.
“tapi... tapi gimana bisa yah ?”
“bukan ayah namanya kalo gak bisa buat putri ayah bahagia”
“aaahh... Tiyash sayang banget sama ayah”
“jadi sama ayah aja nih, ibu juga ikut bujuk ayah loh supaya cari mobil kamu”
“hehe... Tiyash juga sayang sama ibu, love you more, more, and more”
__ADS_1
“ahaha... liat kelakuan anak gadismu tuh, ayah. Kalo lagi seneng aja cium pipi ibunya”
“hehe...”
“yaudah kalo gitu, cepet berangkat nanti telat”
“okay, aku berangkat dulu ya. Dah ibu, dah ayah”
“dah sayang”
Jadi begitulah ceritanya bagaimana Ayu bisa mendapatkan kembali mobilnya.
Dan saat ini, Ayu sedang bersama dengan Rian setelah kelas pagi usai. Tapi sepertinya nasib Rian akan selalu diganggu oleh Delon tiap kali ia sedang berdua dengan Ayu, seperti sebelumnya.
“hay, Ay”
“astaga, lo lagi, lo lagi. Bisa gak sih lo gak nongol disaat gue lagi berduaan sama Ay !”
“haha... sorry bro, tapi ini demi cinta. Ay, bisa ikut gue ?”
“gak bisa, Ay mau makan siang sama gue sekarang”
“kalo gitu, gue traktir lo makan siang yah Ay, tapi lo ikut gue”
“gue bilang gak bisa, maksa banget sih lo”
“gue itu nanya Ay, bukan lo dasar Virus”
“heh, harusnya yang ngomong gitu gue, kamvret”
“udah ah, yuk Ay”
“um... Rian, gue ikut sama kak Delon dulu yah, kita makan siang lain kali aja, okay”
“eh... tapi Ay lo kan udah janji sama gue, Ay. Aishhh”
Meskipun Rian sudah mengetahui jika Ayu bukanlah gadis yang Delon incar, tapi tetap saja bagaimana bisa Ayu lebih memilih pergi bersama laki-laki itu daripada bersamanya, terlebih ia sudah berjanji.
Pertengkaran kecil antara Rian dan Delon tadi, Ayu memerhatikannya.
Sebenarnya setelah kejadian beberapa bulan belakangan ini, Ayu lebih sering memikirkan Rian dari biasanya, sepertinya perasaan yang dulu tertutup kini telah terbuka bagi seseorang, dan benar itu adalah Rian.
Hanya menunggu waktu yang tepat sampai Rian menyatakan perasaannya kembali seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Tapi kali ini, Ayu tak akan menghindarinya, justru ia akan berlari kearah lelaki itu dan memeluknya erat tanpa ia bisa melepasnya.
Tapi sebelum waktunya tiba, Ayu sangat senang menggodanya seperti tadi. Ia sangat suka melihat wajah pria yang ia sayangi menjadi begitu sangat kesal saat ada laki-laki lain yang pergi membawanya.
__ADS_1