
Malam itu mbok Lastri menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Ada rasa bahagia saat melihat Risaka, Ulfa dan juga Rian yang setia menemani Ayu disaat seperti ini. Tapi beliau juga merasa sangat sedih melihat keadaan nona mudanya saat ini.
“non Risaka, non Ulfa, den Rian, sebaiknya makan malam dulu si mbok sudah siapkan buat kalian”
“mbok sama pak Kus duluan aja, aku masih mau disini jagain dek Ayu”
“kak Ul sama kak Ris makan duluan aja, nanti kalo kalian ikutan sakit karena gak makan gue malah tambah repot harus ngurus kalian juga”
“lo nih, masih aja sempet becanda”
“hehe...”
“lo sendiri gimana ?”
“gue bisa makan nanti, kalian duluan aja”
“yaudah kita kebawah dulu yah”
"Hm..."
Ternyata mbok Lastri menyiapkan makanan diruang keluarga tak jauh dari kamar Ayu, mbok Lastri tidak ingin merepotkan Ulfa yang sedikit kesulitan menaiki tangga dan kursi rodanya harus dibawa oleh pak Kus naik turun.
“mbok sama pak Kus, ayo sini makan sama kita”
“si mbok nanti saja didapur, non”
“eh kok didapur, makan disini sama aku sama Ul, biasanya juga kalian makan sama Ayu sama ayah ibu juga kan”
“ayo pak Kus”
Mereka makan bersama seperti sebuah keluarga yang hangat, sedangkan didalam kamar, Rian terus memerhatikan wajah gadis yang ia cintai sedang begitu lemah terbaring dihadapannya.
Bibir yang selalu mengeluarkan kata-kata kasar untuk memakinya kini berubah pucat pasi dan tertutup rapat.
Ia sangat menginginkan keceriaan yang ada dalam diri gadisnya itu kembali. Karena melihatnya terluka seperti tadi sangat tidak ia sukai. Justru ia akan merasa lebih terluka darinya.
Rian terus mengganti kompres didahinya setiap satu menit. Tangannya bergerak menyentuh pipi kiri Ayu yang terasa panas akibat demamnya.
‘lo harus kuat Ay, gue janji akan selalu ada buat lo, kapanpun itu’
Ulfa yang telah lebih dulu menyelesaikan makan malamnya melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Rian meski dengan lirih.
Ia berharap semoga Rian bisa membuat adiknya itu menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Karena sebelumnya, Ulfa belum pernah melihat Ayu menjadi gadis yang sangat lemah seperti saat ini. Ia selalu terlihat ceria dihadapannya.
Jika ia terluka, maka ia akan tetap tersenyum untuk membuat seseorang disekelilingnya tidak merasa khawatir dan takut.
Tapi hari ini, gadis itu terbaring begitu lemah dengan banyak rasa sakit yang ia sembunyikan.
Hari ini gadis itu sedang tidak sadarkan diri dihadapannya.
__ADS_1
Hari ini gadis itu sudah berteriak dan memberontak dihadapannya.
Dan hari ini juga ia melihat luka yang begitu mendalam yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri.
“kelihatannya Rian begitu mencintai adik kita, Ul”
“sepertinya begitu”
“apa kamu cemburu, ngeliat ada orang lain yang lebih menyayanginya lebih dari kita ?”
“hm... sedikit, tapi aku seneng”
[Bandung, 01 April 2014]
Sudah dua hari sejak kejadian jatuhnya pesawat, namun masih banyak korban yang sampai saat ini belum bisa ditemukan, termasuk tante Mira dan om Feri.
Keadaan Ayu pun tak kunjung membaik, justru semakin drop. Rian memaksanya untuk pergi kerumah sakit, tapi Ayu tidak ingin pergi kemanapun, ia masih terus menunggu jika saja orangtuanya pulang ia tidak berada dirumah saat itu.
Dan akhirnya siang ini kabar baik datang padanya, orangtua Ayu sudah berhasil ditemukan oleh tim SAR, namun kondisinya sangat kritis.
Ayu langsung meminta Rian untuk mengantarnya ke rumah sakit tempat dimana kedua orangtuanya dirawat.
Dan siang itu juga, mereka berangkat ke Jakarta. Karena sebagian besar korban memang di alihkan kerumah sakit Jakarta, disebabkan oleh luka mereka yang cukup berat, dan rumah sakit disekitar lokasi jatuhnya pesawat tidak mempunyai cukup alat yang memadai.
Malam hari saat sampai dirumah sakit, Ayu langsung berlari untuk mencari informasi mengenai kedua orangtuanya.
“dok, gimana keadaan ayah sama ibu saya ?”
“apakah anda keluarga korban ?”
“iya saya anaknya”
“sebaiknya kita bicara diruangan saya”
“mereka baik-baik aja kan dok ?”
“Ay, Ay, kita ikut ke ruangan dokter dulu yah, nanti baru kita tau kondisi om dan tante, okay”
Sementara, Ayu dan Rian pergi keruangan dokter. Risaka dan Ulfa menunggu didepan ICU setelah melihat kondisi orangtua Ayu.
Mereka sangat sedih dan khawatir saat nanti Ayu melihat kondisi om Feri dan juga tante Mira saat ini.
Berbagai alat dan perban ada disekitar tubuh mereka, bahkan sistem pernafasan mereka pun dibantu oleh alat.
Ayu berjalan seperti tidak mengetahui arah saat keluar dari ruangan dokter bersama Rian. Jika saja lelaki itu tidak membantunya berjalan mungkin sekarang Ayu sudah jatuh kelantai.
Tatapan gadis itu kosong, mengingat apa yang dikatakan dokter barusan.
“ayah anda tidak mengalami luka yang cukup serius, beliau hanya memiliki cedera dilengan kanannya akibat benturan karena kami menemukan luka memar disana, itu sebabnya kami memberinya gips”
“tapi kenapa anda bilang mereka koma saat ini, dok ?”
__ADS_1
“karena kejadian tersebut begitu tiba-tiba hingga tubuhnya mengalami syok, dan itu menyebabkan kesadarannya menurun sampai berada dalam keadaan koma”
“a-apa!”
“lalu, apa yang terjadi dengan tante Mira dok ?”
“lukanya cukup serius dibandingkan suaminya”
“apa maksud dokter, ibu saya kenapa dok ?”
“ibu anda mengalami cedera di kepala yang menyebabkan pendarahan yang cukup banyak. Kami sudah melakukan operasi untuk menghentikan pendarahannya, tapi...”
“tapi apa dok ?”
“kami takut akan terjadi penggumpalan pada otaknya akibat pendarahan tersebut”
“bukannya dokter bilang sudah menghentikan pendarahannya saat operasi ?”
“hal yang tidak terduga bisa saja terjadi setelah operasi, dan hal yang kami takutkan bahwa ibu anda akan kehilangan sebagian besar ingatannya”
“maksud dokter ibu saya amnesia ?”
“kami masih belum bisa memastikan hal itu sebelum beliau sadar”
“lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, dok ?”
“kita hanya bisa menunggu”
“apa maksud dokter, kita cuma bisa nunggu. Enggak, dokter harus lakuin sesuatu buat selametin ibu saya”
“Ay, Ay, lo harus tenang, dokter pasti ngelakuin semuanya buat nyelametin tante, lo tenang dulu”
“sebaiknya anda tenang dalam menghadapi situasi ini”
“kalau begitu, saya permisi dulu dokter”
“baik silahkan”
“ayok Ay”
“gue mau liat ayah sama ibu sekarang, Ian. Anterin gue kesana Ian”
“iya iya gue anterin lo kesana, tapi lo harus tenang yah”
Seberapapun kerasnya Ayu untuk menjaga ketenangannya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi tetap tidak bisa ia lakukan.
Ia menjadi histeris saat melihat kondisi om Feri dan tante Mira saat ini.
Bagaimana mungkin, saat ini ia sedang melihat orangtuanya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan berbagai alat dimana-mana, sedangkan beberapa hari lalu mereka dalam kondisi baik-baik saja.
__ADS_1