
“Ris, ada siapa dilu-ar”
Saat ini terlihat Risaka, om Indra dan tante Laila diteras rumah sedang beradu tatap. Tante Laila yang baru saja keluar dari dalam rumah merasa terkejut dengan kedatangan suaminya, terlebih ada Risaka yang baru saja pulang kuliah.
Tatapan amarah dan penuh dengan kebencian keluar dari kedua mata Risaka, kekecewaan yang ia rasakan karena memiliki seorang ayah yang pengecut, yang tega meninggalkan keluarganya dengan hutang.
Tante Laila sendiri juga bingung harus melakukan apa, beliau takut jika Risaka emosi dan berteriak pada suaminya. Beliau tidak ingin terjadi keributan saat ini. Tante Laila mencoba untuk berjalan mendekati Risaka.
“mah, bilang sama orang ini kita gak terima tamu”
“Ris, tunggu sayang”
Setelah mengucapkan apa yang ada dipikirannya, Risaka masuk kedalam rumah melewati pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya. Tante Laila berusaha untuk mengerti perasaan anaknya. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan suaminya yang selama ini pergi telah datang dan berdiri tepat dihadapannya.
“bagaimana kabar neng ?”
“mau apa akang datang kesini ?”
“akang hanya ingin meminta maaf dan menebus semua kesalahan akang”
“menebus… dengan cara apa ?”
“akang akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari kalian”
“kami sudah hidup bahagia tanpa kehadiran akang”
Sementara tante Laila dan om Indra berdebat diluar rumah. Farel yang ada didalam kamar merasa terganggu dan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
“p-papah”
“Farel”
“mau apa papah kesini ?”
“gimana kabar kamu, nak”
“untuk apa papah nanya kabar aku, bukannya papah gak peduli sama kita”
“papah minta maaf nak”
__ADS_1
Risaka yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi terlihat gusar dikamarnya. Ia membanting tas juga buku yang tadi ia bawa.
Fatin yang baru saja melewati kamar kakaknya merasa terkejut dan langsung masuk kekamar Risaka.
“kakak kenapa ?”
“ah… gak kok gak kenapa-napa”
“trus kenapa buku sama tas kakak ada dilantai ?”
“tadi kakak kesandung”
“kakak gak luka kan ?”
“gak kok”
“kak, diluar ada siapa sih kok kayanya ribut banget ?”
“bukan siapa-siapa kok, cuma tamu salah alamat”
“tapi tadi aku denger kak Farel teriak”
“aku ikut yah”
“Fatin disini aja ok”
“iya”
Setelah melarang adik bungsunya untuk keluar, Risaka segera kedepan untuk menghentikan keributan yang terjadi.
“udah cukup, Farel mendingan kamu masuk kekamar sekarang”
“tapi kak”
“kakak bilang masuk”
Dengan berat hati Farel mengikuti perintah kakaknya. Risaka mungkin penyayang, tapi jika ia sedang emosi seperti ini, maka ia bisa berubah menjadi gadis tak berperasaan.
Setelah melihat Farel masuk kedalam kamarnya, ia lantas melihat kearah om Farhan masih dengan tatapan kebencian.
__ADS_1
“mau apa anda datang kesini ?”
“Risaka, aku masih papahmu”
“papah. Orangtua macam apa yang meninggalkan tanggung jawab keluarganya dan pergi begitu saja dengan banyak hutang. Apa masih pantas disebut papah !”
“maafin papah nak, papah sadar kalo selama ini papah banyak salah sama kalian”
“kenapa baru sekarang, disaat kami mulai terbiasa hidup tanpa anda, kenapa gak dari dulu saat kami butuh anda, kenapa ?”
Sementara Risaka meluapkan emosinya, tante Laila hanya bisa terdiam menyaksikan amarah putri sulungnya yang selama ini ia simpan sendiri.
Tante Laila meneteskan air mata melihat kepedihan yang ada dimata Risaka. Gadis itu sangat terluka dengan sikap ayahnya, tapi ia juga merindukan sosok ayah yang bisa melindunginya disaat ia rapuh.
“selama tujuh tahun aku kerja keras sama mamah untuk bisa bertahan, bayar hutang-hutang yang anda tinggalin sampe terancam putus sekolah, aku gak tau dosa apa yang udah aku lakuin sampe kehidupan aku berantakan kaya gini”
Om Indra juga tidak mengeluarkan satu patah katapun setelah mendengar kalimat Risaka. Beliau membiarkan putrinya itu mengeluarkan semua amarahnya pada beliau. Meskipun dengan cara berteriak didepannya.
“tapi aku tetep bersyukur karna Allah udah ngasih aku kekuatan untuk bisa bertahan dan keluar dari masalah yang udah anda sebab-in. Kami udah hidup tenang tanpa anda selama ini, dan sekarang buat apa anda datang kesini, mau buat kacau kehidupan kami lagi !”
“bukan begitu maksud papah, Ris. Papah minta maaf karna dulu papah udah buat kesalahan besar, tapi…”
“tapi apa, sekarang anda udah gak punya uang lagi makanya anda datang kesini, berharap bisa nipu kami kaya dulu, gak akan. Mending sekarang anda pergi dari rumah ini, kami udah gak butuh orang seperti anda, pergi !”
“Risaka tolong dengerin papah dulu, papah bisa jelaskan semuanya nak”
“kang mendingan akang pergi dulu sekarang, neng gak mau Risaka tambah marah karna akang masih ada disini”
“baiklah, papah pergi sekarang, tapi besok papah akan datang lagi untuk menjelaskan semuanya sama kalian”
“gak perlu, sekarang pergi !”
Om Indra akhirnya pergi meninggalkan rumahnya karena ia tidak ingin jika Risaka semakin membencinya.
Beliau tahu kalau saat ini putri sulungnya sangat kecewa atas apa yang sudah ia lakukan dulu. Dan beliau berjanji bahwa besok akan kembali untuk menjelaskan semuanya.
Sepeninggal om Indra, Risaka jatuh terduduk sambil terisak karena telah melampiaskan seluruh amarahnya yang selama ini ia simpan tanpa bisa ia luapkan.
Tante Laila langsung memeluk anaknya itu dengan erat berharap Risaka bisa lebih tenang.
__ADS_1