Tri Angel

Tri Angel
10. Anak Tidak Berguna


__ADS_3

****



Disisi lain, terlihat Risaka sedang duduk ditaman kota, seperti menunggu kedatangan seseorang. Tak lama ia melihat Andi-seniornya.



Senyum langsung menghiasi wajah cantiknya saat lelaki itu berjalan mendekatinya.



“hey, udah lama nunggu yah. Maaf yah gue telat”



“gak kok kak, aku juga baru sampe”



“nih buat lo, gue tau lo haus”



“makasih kak”



“ya sama-sama”



“um.. kakak ada perlu apa nyuruh aku dateng kesini ?”



“ada yang perlu gue omongin sama lo, Ka”



“mau ngomong soal apa ?”



“sebenernya, udah lama gue mau bilang ini sama lo, tapi gue baru berani bilang sekarang”



“kakak mau bilang apa ?”



“gue gak tau harus mulai dari mana, tapi yang pasti lo cantik hari ini Risaka”



“eh... m-makasih pujiannya kak”



“um... Risaka lo mau gak jadi pacar gue ?”



Risaka tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi sebelumnya. Ia justru menduga jika Andi ingin menemuinya untuk memberi peringatan supaya jangan memerhatikannya lagi dan menjauhinya, tapi yang terjadi malah sebaliknya.



Gugup sekaligus senang dirasakan Risaka dalam satu waktu secara bersamaan. Bingung ingin memberikan jawaban apa. Harusnya ini lebih mudah, karena memang Risaka juga menyukai Andi sejak lama. Tapi kenapa mulutnya seperti terkunci.



“jadi gimana, lo mau gak nerima cinta gue ?”



Sekali lagi Andi menanyakan pertanyaan yang sama padanya, dan baru saja Risaka akan menjawab, tapi deringan ponsel miliknya telah lebih dulu berbunyi.



“bentar yah kak”



“ok”



“hallo kenapa, dek ?”



“kak, buruan kerumah sakit gawat. Nanti aku jelasin disana”



“ha... eh ada apa dek”



Tak ada penjelasan hanya perintah. Adiknya yang satu itu memang aneh sekaligus unik. Bisa-bisanya ia memberi interupsi pada kakaknya sendiri dengan cara begitu.



Tapi, terdengar dari nada suaranya memang sedang ada yang gawat.



“duh kak, aku harus pergi sekarang. Maaf yah”



“loh, ada apa Ris ?”


__ADS_1


“ada yang penting kak, maaf yah”



“tapi jawabannya gimana ?”



“iya aku terima, dah kak”



Risaka pergi dengan terburu-buru akibat panggilan darurat dari Ayu. Begitu juga ia memberikan jawabannya pada Andi dengan cepat dan tepat.



Senyum samar terlihat diwajah Andi sebelum ia melihat Risaka benar-benar menghilang dari pandangannya.



***



Sampai dirumah sakit, Kiki langsung dibawa masuk ke IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Ulfa tak berhenti untuk menangis, sedangkan Ayu berusaha untuk menenangkannya.



Tak lama, Risaka datang dan segera berlari menghampiri mereka.



“dek, ada apa”



“Kiki kecelakaan kak, kakak tolong tenangin kak Ul dulu yah, aku mau bicara sama orang lain dulu”



“eh dek, kamu mau kemana ?”



Ayu langsung pergi untuk menemui pengendara motor yang menabrak Kiki tadi, sedangkan Risaka menemui Ulfa dan berusaha untuk menenangkannya. Terlihat pengendara motor itu sedang kebingungan di koridor IGD.



“permisi pak”



“eh neng, gimana keadaan Kiki neng ?”



“bapak kenal sama Kiki ?”




“Kiki lagi ditanganin sama dokter sekarang pak”



“oh syukurlah, ada apa neng kemari bukannya neng Ulfa sendirian”



“kak Ul udah ada yang nemenin, saya kesini mau tanya gimana kejadian yang sebenernya pak, kenapa bisa sampe Kiki ketabrak ?”



Pengendara motor yang diketahui bernama pak Sudi pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Ayu. Ayu menangkap bahwa kejadian tersebut bukanlah kesengajaan, ini jelas sebuah kecelakaan.



Kiki hanya berusaha menyelamatkan kakaknya dari bahaya, dan pak Sudi juga bersalah karena mengendarai motor dengan kecepatan tinggi ditikungan seperti itu, terlebih jalan tersebut adalah jalan desa.



Dan dengan niat baik, pak Sudi akan bertanggung jawab membiayai semua pengobatan Kiki sampai sembuh. Beliau sendiri memang merasa bersalah atas kejadian pagi ini. Setelah menemui pak Sudi, Ayu kembali ke koridor untuk menemani Ulfa.



Terlihat Ulfa sedang menghubungi seseorang disana. Risaka yang ada disampingnya menatapnya dengan khawatir. Ayu langsung menghampiri mereka.



Sedangkan pak Sudi tetap berada di koridor untuk berjaga-jaga.



“bunda, maafin Ulfa, bun”



“……………”



“dek Kiki kecelakaan dan sekarang ada dirumah sakit”



“……………”



“bunda cepetan kesini yah”



Setelah menutup telfonnya. Ulfa terus saja menyalahkan dirinya sendiri akibat kejadian itu. Risaka yang sedari tadi berusaha menenangkannya pun belum juga berhasil.

__ADS_1



Ayu mengetahui kode yang diberikan Risaka padanya. Ia langsung menyejajarkan posisinya dihadapan Ulfa.



“kak, ini semua bukan salah kakak”



“kalo aja aku gak ada ditengah jalan itu, pasti dek Kiki gak akan sampe disini sekarang”



“hey, ini udah jadi ketentuan Allah buat Kiki, kakak gak boleh nyalahin diri sendiri kaya gini”



“apa yang dek Ay bilang bener, Ul. Kamu gak boleh terus-terusan nyalahin diri kaya gini”



“tapi gimana keadaan dek Kiki sekarang, Ris. Dia pasti kesakitan didalem sana”



“mending sekarang kita doain Kiki yah, kak”



Setelah Ulfa merasa tenang, mereka tetap menunggu Kiki ditangani. Sudah 15 menit berlalu tapi dokter belum juga memberikan pemberitahuan pada mereka.



Sampai tante Sarah sampai di IGD.



“Ulfa, gimana keadaan adek kamu ?”



“bunda! Do-dokter masih meriksa dek Kiki di dalem, bun”



“gimana kejadiannya, sampe Kiki bisa kecelakaan begini”



“b-bunda tenang dulu yah. Nanti Ayu bakal ceritain semuanya”



“bunda sekarang minum dulu yah, biar lebih tenang”



Risaka benar, disaat seperti ini air putih sangatlah efektif untuk menenangkan seseorang supaya tidak panik, dan tubuh mereka jadi lebih rileks.



Setelah lebih tenang, Ayu mulai menceritakan kejadiannya dari awal persis seperti yang ia dengar dari pak Sudi tadi.



“pak Sudi ?”



“iya bunda, jadi pak Sudi ini gak sengaja nabrak Kiki sampe terluka”



“tapi ngapain Kiki sampe ada ditengah jalan gitu ?”



“harusnya Ulfa yang ada disana bukannya Kiki, bun”



“apa maksud kamu ?”



“Kiki berusaha nyelametin Ulfa dari tabrakan itu, tapi justru malah Kiki yang ketabrak”



“kamu keterlaluan Ulfa, seharusnya kamu ngelindungin Kiki supaya dia gak terluka. Kamu memang gak bisa dipercaya”



“bunda... bunda... ini bukan salah Ulfa”



“sudah jelas, ini semua salah dia. Dasar anak tidak berguna”



“maafin Ulfa bunda”



“bunda...”



Belum sempat Risaka menyelesaikan ucapannya, dokter lebih dulu keluar dari ruangan dan ingin memberitahu keadaan Kiki saat ini. Tante Sarah langsung menghampiri dokter tersebut. Sedangkan Ulfa hanya bisa berdiam ditemani Risaka disana.



****

__ADS_1



__ADS_2