Tri Angel

Tri Angel
25. Salah sangka


__ADS_3


[Bandung, 03 Februari 2014]


Hari ini Ayu tetap memaksa untuk pergi kekampus meski kondisi tangannya masih belum membaik.


Untung saja ia ada kelas siang hari jadi ia bisa beristirahat dipagi hari. Mbok Lastri sudah melarangnya untuk pergi, namun Ayu adalah gadis yang sangat keras kepala.


Ia berpikir tangannya tidak membutuhkan banyak pergerakan, karena dikampus nanti ia hanya akan mendengarkan dosen bicara dan memasukkan semuanya ke otak.


Karena tangannya tidak bisa digunakan untuk sementara waktu, ia bisa meminjam catatan dari temannya nanti. Begitulah pemikirannya.


“pak Kus ayok berangkat, ntar aku telat”


“minum jus ini dijalan yah non”


“iyah mbok, pak Kus ayok”


“hari ini lo berangkat sama gue”


“Rian, ngapain lo dirumah gue ?”


“menurut lo. Ya jemput lo lah”


“tapi gue kan gak minta”


“tapi gue mau, gimana dong? udah ayok, ntar telat. Mbok kita berangkat dulu yah”


“i-iya den hati-hati den”


Ayu agak sedikit terkejut melihat keberadaan Rian dirumahnya. Berusaha sekeras mungkin untuk menolak ajakannya, tapi tetap saja keinginan Rian lebih keras dari usaha penolakan Ayu. Mereka akhirnya berangkat ke kampus bersama.


Risaka dan Ulfa ada kelas dipagi sampai sore hari, karena itu mereka tidak datang kerumah Ayu untuk menjenguknya.


Sampai dikampus, Ayu lebih dulu keluar dari mobil dan meninggalkan Rian dibelakang, dengan cepat Rian menyamakan langkahnya dengan Ayu.


“bisa gak, gak usah ngikutin gue”


“tujuan kita kan sama”


Dan saat itu Ayu merasa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, jelas-jelas jika mereka berada dalam kelas yang sama.


Dengan terpaksa Ayu harus berjalan beriringan dengan Rian. Dan seperti biasa disaat mereka sedang bersama, Delon selalu datang untuk mengajak Ayu bicara.


“hey Ay, bisa ngobrol sebentar gak ?”


“gak bisa, Ayu ada kelas sekarang. Ayok Ay”


“nanti sore aja kak, gue duluan yah”


Belum sempat Ayu menjawab ajakan Delon, Rian sudah lebih dulu menjawabnya. Sepertinya ia sangat kesal karena Delon selalu saja mengganggu acaranya bersama Ayu.


Dan kali ini Ayu harus ikut bersama dengannya karena kelas mereka sebentar lagi dimulai.


“lo gak sopan tau, kak Delon kan ngomong sama gue malah lo yang jawab”


“dia yang gak punya sopan santun, selalu aja bawa lo pergi dari gue”


“dia kan emang ada urusan sama gue”


“sepenting apa sampe-sampe lo ninggalin gue”


“apaan deh, Yan”


“udah mending lo duduk diem disini”


Dan skak mat, Ayu tidak bisa melakukan apapun untuk melawan Rian. Semua yang dikatakan Rian memang benar.


Selama ini ia lebih memilih untuk mendengarkan curhatan Delon dibandingkan dengan lelaki itu. Ayu sempat merasa bersalah atas sikapnya yang kasar pada Rian.


Empat jam berlalu, tanda kelas Ayu sudah selesai kini. Ia membereskan peralatannya menggunakan tangan kiri dan memasukkan semuanya kedalam tas dengan susah payah. Lalu beranjak ingin meninggalkan kelas, disusul oleh Rian lagi disampingnya.


“bisa gak sih, lo gak usah ngikutin gue ?”


“gak bisa”

__ADS_1


“kali ini apa lagi alesan lo ?”


“kan lo tanggung jawab gue, jadi gue yang nganterin lo pulang dengan selamet sampe rumah”


“no, thanks. Gue bisa minta jemput sama pak Kus, okay”


“eits... no... no... karna gue yang udah jemput lo jadi harus gue juga yang nganter lo”


“plis deh Yan, gue bukan anak kecil”


“tapi lo lagi cedera sekarang”


“itu bukan alesan...”


“Ay”


“lo lagi, kenapa sih lo selalu gangguin gue sama Ay”


“gue ada urusan sama dia, masalah buat lo ?”


“jelas masalah lah, gue lagi ngobrol sama dia sekarang”


“ada apa kak ?”


“bisa ngobrol sebentar gak ?”


“gak bisa”


“hm... bisa kok, dimana ?”


“Ay”


“di cafe depan aja deh, kuliah lo udah selesai kan ?”


“udah kok”


“Ay...Ayu. Aishh... dasar Delon brengsek”


Dan untuk kesekian kalinya lagi dan lagi, Ayu lebih memilih pergi bersama dengan Delon dibandingkan untuk tetap bersama dengan Rian.


“heh... kenapa lo”


“siapa yang lo bilang brengsek”


“cowok yang barusan pergi sama Ay”


“dek Ay, pergi lagi”


“kemana ?”


“gak bisa dibiarin kali ini. Gue pergi dulu”


“eh... Rian kasih tau dulu dek Ay pergi kemana ?”


“ada apa sih sebenernya sama mereka ?”


“berantem lagi mungkin, dek Ay kan emang selalu ribut sama Rian, kaya kamu gak tau mereka aja, Ul”


“tapi kayanya masalah ini lain deh, Ris”


“kita tunggu dirumah dek Ay aja deh, yuk”


“yaudah deh”


Mereka memutuskan untuk pergi kerumah Ayu dan menunggunya pulang, jadi nanti mereka bisa memarahi adiknya itu dengan puas.


Bagaimana bisa ia menghilang dan tidak menceritakan apapun pada kedua kakaknya saat tangannya menjadi korban.


Sedangkan Rian segera menyusul Ayu dan Delon. Ia tahu kemana mereka akan pergi, karena tadi Delon sempat menyebutkan tempatnya.


Sampai dicafe Rian langsung mencari keberadaan Ayu dan Delon, setelah ketemu ia segera duduk tak jauh dari tempat duduk mereka. Setidaknya dari tempatnya ini, ia bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka saat ini.


“apa !”


“emang tampang gue gak meyakinkan yah, buat punya cafe kaya gini ?”

__ADS_1


“bu-bukan itu, tapi setau gue yang punya cafe ini itu kak Andi. Bahkan kak Ris sendiri yang bilang ke gue sama kak Ul waktu itu”


“hm... Andi emang ngomong gitu kesemua cewek, biar dia bisa deketin mereka”


“hah... jadi selama ini kak Andi bohong sama kak Ris dong”


“kenapa lo nanya soal Andi ?”


“emang kakak gak tau kalo kak Ris udah jadian sama kak Andi ?”


“what!, kapan ?”


“dari awal tahun”


“hah... kok gue bisa gak tau sih”


“itu yang tadi gue tanyain sama kakak”


“jadi Ris jadian sama Andi karna dia pikir Andi yang punya cafe ini ?”


“bukan gitu, kak Ris emang udah lama suka sama kak Andi, tapi dia juga gak tau kalo kak Andi itu playboy dan pembohong besar. Malah kak Ris sempet minder untuk bisa suka sama kak Andi pas tau dia punya cafe ini”


“trus kenapa dia bisa jadian sama Andi ?”


“bukannya kakak sendiri yang bilang kalo kak Andi itu playboy, ya udah jelas lah kak Andi ngasih perhatian lebih ke kak Ris, trus mereka jadian”


“lo kenapa gak pernah bilang soal ini sama gue sebelumnya”


“lah mana gue tau kalo kak Andi itu penipu”


Rian heran dengan yang mereka bicarakan saat ini, untuk apa mereka membahas mengenai Risaka saat mereka sedang bersama.


Bukankah Delon itu menyukai Ayu, lalu apa hubungannya dengan Risaka. Sudah pasti tidak ada kecuali prasangka Rian selama ini salah.


“jadi lo suka sama kak Risaka bukan Ayu ?”


Pertanyaan Rian membuat kedua orang yang tengah berdebat itu terkejut, dan memertanyakan sedang apa Rian berada disini, sejak kapan. Apa ia mendengar semua yang dibicarakan mereka.


“Rian, ngapain lo disini ?”


“s-sejak kapan lo disini ?”


“cukup buat denger perdebatan kalian”


“lo nguping yah”


“niatnya sih mata-matain, tapi malah gue dapet hoki”


“Yan, Yan, plis jangan kasih tau Risaka soal ini yah”


“duh lo tenang aja, gue gak akan ngurusin hal yang bukan urusan gue”


“trus ngapain lo disini ?”


“gue kira kalian ada main dibelakang gue, abisan si brengsek satu ini selalu aja gangguin waktu gue lagi sama lo”


“jadi lo ngira kalo gue nge-date sama Ay ?”


“iyalah”


“haha... astaga Rian lo tenang aja, Ay aman sama gue. Lagian gue suka sama Risaka bukan Ay, kalo Ay mah udah kaya adek gue kali”


“jadi bener nih, lo ga ada apa-apa sama Ay ?”


“heh... bikin malu deh lo”


Merasa dipermalukan dengan sikap kekanak-kanakan Rian didepan umum, Ayu memutuskan untuk pergi dari sana meninggalkan dua lelaki yang sedang tertawa.


Pak Kus sudah menjemputnya didepan cafe, ia langsung meninggalkan pelataran cafe itu dengan kesal. Sampai dirumah ia dikejutkan dengan keberadaan kedua kakaknya di kamar Ayu.


Mereka sudah siap memarahi adiknya itu karena tidak ada kabar. Ayu minta maaf dan tertawa bersama mereka sore itu. Malam hari mereka pulang diantar oleh pak Kus.


Orangtua Ayu memang sedang berada diluar kota, lusa baru mereka pulang. Sepertinya kehidupan Ayu kembali seperti semula, sendiri dan kesepian.


Dirumah sebesar ini ia hanya bisa mendengar suara jangkrik dimalam hari.

__ADS_1



__ADS_2