
[Bandung, 14 Agustus 2014]
"hallo, assalammualaikum teh"
"waalaikumsalam, neng. Kumaha damang ?"
"Alhamdulillah damang, teteh sendiri apa kabar ?"
"baik alhamdulillah, kunaon atuh tiba-tiba nelepon, pasti ada yang penting"
"neng sekarang lagi bingung teh"
"bingung kunaon ?"
"si Ulfa, masih belum setuju sama perjodohannya sampe sekarang, neng jadi bingung gimana lagi atuh ngerayu si Ulfa"
"mungkin emang dia belum siap untuk nikah, jangan terlalu dipaksain atuh, kan kesian juga sama neng Ulfa"
"bukan maksud neng, mau maksa dia atuh teh, neng kan cuma khawatir sama Ulfa. Dia terus-terusan mikirin si ayah, sejak kejadian itu dia jadi gak peduli sama sekitarnya, mungkin kalo dia menikah, Ulfa bisa jadi agak sibuk biar gak terlalu mikirin ayahnya"
"niat kamu memang baik, tapi jangan lupa sama perasaan anak kamu juga, neng"
"apa neng salah ya teh, karna udah terlalu maksain Ulfa ?"
"kamu seorang ibu neng, pasti tau mana yang terbaik buat anak, apalagi anak gadis"
"yaudah atuh teh kalo begitu, neng tutup dulu telfonnya assalammualaikum"
"waalaikumsalam"
Ulfa sepertinya tidak sengaja mendengarkan percakapan antara ibunya dengan bibinya yang ada di Solo saat ini.
Ia tidak menyangka jika ibunya memikirkan tentang kebahagiaannya.
Karena awalnya ia mengira bahwa tante Sarah memaksanya menikah hanya karena beliau lelah dengan sifat anaknya yang keras kepala.
Melihat sang ibu sudah menutup telfonnya, Ulfa lantas mendekati dan menyapa ibunya untuk membicarakan sesuatu.
"bunda"
"loh teteh, ada apa ?"
"aku mau bicara sama bunda, bisa ?"
"mau ngomong apa ?"
"Ulfa... Ulfa setuju sama perjodohan itu, bunda"
"apa ! m-maksud bunda kamu beneran setuju, kamu nerima lamaran itu ?"
**
(4 tahun yang lalu)
"Ulfa jangan pergi kemana-mana yah, diluar lagi hujan lebat"
__ADS_1
"tapi, Ulfa udah ada janji sama temen yah"
"kamu telfon temen kamu, ketemunya lain kali aja jangan malem ini"
"tapi ayah, ini kan cuma hujan air, lagian nanti juga Ulfa pake payung kok"
"bukannya Ulfa selalu nurutin perkataan ayah"
"tapi yah, kali ini aja ya, Ulfa janji deh bakal nurutin semua perintah ayah apapun itu, tapi jangan malem ini, Ulfa mohon"
"ayah juga mohon sama kamu, okay"
"hm... iya okay"
"yaudah, ayah mau kekamar dulu, kamu jangan begadang lagi. Kebiasaan buruk kamu selalu begadang sampe pagi"
"hehe... iya ayah"
Malam ini, om Farhan tidak mengizinkan putrinya untuk keluar rumah sama sekali.
Bukan karena tidak percaya dengan putrinya melainkan cuaca diluar sedang tidak memungkinkan bagi seorang Ulfa untuk keluar rumah.
Meskipun ayahnya telah mengajarkan pada gadis itu supaya tidak melanggar janji sekecil apapun, tapi malam itu beliau justru yang melakukannya, dan menyuruh anaknya membatalkan janji dengan temannya.
Tapi sepertinya, kali ini Ulfa tidak mendengarkan perintah ayahnya. Meski sudah dilarang, ia tetap keluar rumah secara diam-diam untuk menemui seorang teman. Lebih tepatnya, kekasihnya.
"Beni"
"U-Ulfa"
"a-aku..."
"lo gak liat gue sama Beni lagi neduh disini ?"
"gue gak lagi ngomong sama lo"
"Ulfa, kayaknya kita harus udahin hubungan ini"
"apa maksud kamu ?"
"aku mau kita putus"
"apa... tapi kenapa ?"
"itu udah jelas karna Beni lebih milih gue dibandingkan lo"
"lo... dasar cewek gak tau malu, beraninya lo..."
Ulfa merasa sangat tersakiti karena keputusan Beni malam itu. Ia mendorong kursi rodanya mendekat pada gadis yang dipanggil Vina, lalu menarik rambutnya dengan sekuat tenaga yang ia punya.
Terjadilah keributan disebuah halte bis saat itu, Beni berusaha melepaskan tangan Ulfa pada rambut Vina. Terlihat dengan jelas bahwa Beni lebih membela Vina dibandingkan Ulfa.
"Ulfa cukup. Ini keputusan aku, dan ini juga yang terbaik buat kita. Ayo Vina"
"Beni, tunggu... kamu mau kemana. Beni"
__ADS_1
Malam itu Ulfa menangis karena seseorang yang ia cintai pergi meninggalkannya, lagi.
Seakan seluruh atmosfer sudah tercemar, ia merasa sesak. Menangis tanpa suara, tapi berteriak dalam hati.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangan dihadapan wajah Ulfa yang sedang menunduk.
"ayah"
"bukannya ayah udah bilang untuk jangan keluar, sejak kapan kamu gak nurut sama ayah ?"
"dia pergi ayah, dia pergi tanpa aku"
"tapi ayah gak akan pernah ninggalin kamu"
"hiks..."
"berhenti nangis, sekarang kita pulang yah"
Kata orang, semua pria itu akan selalu sama pada hakekatnya, menyakiti seorang wanita yang sudah memberikan sepenuh hatinya pada mereka.
Dari jutaan pria didunia, hanya akan ada satu yang akan melindungi wanita. Dia adalah seorang ayah yang tidak ingin melihat putrinya menangis.
Tapi bagaimanapun seorang ayah berusaha melindungi putrinya, justru sang putri lebih memilih untuk berlari kearah pria lain saat mereka dewasa nantinya. Yah, itulah yang terjadi.
"apa kamu mau pergi ?"
"ayah, dia lagi terluka sekarang, Ulfa harus nemuin dia"
"inget apa yang udah dia lakuin kekamu, nak"
"itu cuma kesalahan ayah, dia udah sadar sekarang"
"kalo ayah minta kamu tetep disini sama ayah, apa kamu mau ?"
"ayah bisa terus liat aku dirumah ini, tapi dia enggak. Aku pergi dulu yah"
Hari itu Ulfa meninggalkan rumah dan pergi menghampiri Beni yang sedang putus asa karena Vina meninggalkannya.
Beni hanya ingin menceritakan apa yang terjadi dengannya pada Ulfa.
Lelaki itu dengan jelas mengatakan bahwa ia sangat mencintai Vina, bagaimana mungkin gadisnya itu pergi meninggalkannya demi laki-laki lain.
Lagi-lagi, air mata Ulfa mengalir dari pelupuk matanya dan jatuh tepat ditangan Beni.
Lelaki itu terlalu mabuk untuk menyadari betapa sakitnya seorang Ulfa kala itu. setelah selesai dengan Beni, Ulfa kembali kerumah dengan penuh rasa sakit.
Tapi kemudian ia menerima kabar dari Kiki bahwa ayahnya masuk rumah sakit akibat serangan jantung.
Tanpa pikir panjang, ia langsung mencari taksi dan menuju rumah sakit yang dikatakan oleh ibunya untuk menemui sang ayah.
Tapi ternyata, takdir ayahnya memang sudah ditentukan, beliau meninggal hari itu juga sebelum sempat bertemu putri kesayangannya.
Beliau hanya bisa menuliskan sebuah surat untuk Ulfa.
'tetaplah jadi wanita yang kuat, jangan pernah menangis, karna suatu hari nanti seorang laki-laki akan datang dengan penuh cinta untuk melamarmu'
__ADS_1