
[Bandung, 12 Januari 2014]
Keadaan telah kembali normal seperti semula. Kegiatan mereka pun tidak banyak karena memang masih dalam suasana libur. Tanggal 15 nanti mereka baru mulai masuk kuliah.
Jadi, mereka bisa bebas kemanapun sebelum nantinya disibukkan oleh tugas kampus.
Ayu masih sering bolak-balik kerumah Risaka dan juga Ulfa sekedar hanya bermain. Karena memang diantara mereka, gadis itulah yang paling tidak punya pekerjaan. Ulfa sendiri sibuk dengan hobi barunya, yaitu belajar memasak.
Sedangkan Risaka, banyak yang harus ia kerjakan, karena jika ia hanya berdiam maka hutang keluarganya tidak akan terbayar.
Saat ini bekerjalah yang menjadi fokus utamanya. Karena hutang keluarganya terus saja bertambah, meskipun ia sudah bekerja sangat keras untuk membayarnya.
Hal itu dikarenakan ayah Risaka meminjamnya dari seorang rentenir atau lintah darat. Beliau lalu kabur setelah tidak mampu membayarnya.
Sejak saat itu kondisi keuangan keluarga Risaka memburuk bahkan meskipun ibunya juga bekerja, hutang itu tak kunjung habis.
Selama ini ia dan ibunya hanya membayar bunganya saja yang kian hari kian bertambah. Ia sudah sangat frustasi dengan hal itu, ia sudah melakukan ini selama tujuh tahun terakhir sejak ayahnya meninggalkannya dulu.
“kakak”
Lamunan Risaka bubar setelah mendengar panggilan dari Ayu. Sore ini Risaka memang sedang duduk melamun didepan teras rumahnya. Ia lelah setelah seharian bekerja dipabrik, sedangkan Ayu kesini hanya untuk sekedar mengganggu kakaknya itu.
“kak Ris”
“dek Ay, kok kesini gak bilang-bilang dulu ?”
“gak bilang gimana. Aku dari tadi udah nelponin kakak, tapi gak ada jawaban”
“masa iya ?”
“liat aja notif di hp kakak”
Risaka langsung memeriksa notif di ponsel miliknya, dan benar saja ada Sembilan panggilan tak terjawab dari Ayu.
Sepertinya ia tidak mendengar ponselnya berdering karena lamunannya tadi. Ris tidak ingin jika Ayu menyadari bahwa ia sedang melamun tadi, karena itu Risaka berusaha mengalihkan pembicaraan.
“kamu bawa apa ?”
“oh iya hampir lupa, aku bawa bahan buat bikin soto. Aku lagi pengen makan soto buatan mamah”
“yaudah masuk yuk”
“mah, ada Ayu nih. Kakak ke kamar bentar yah”
“ok. Mamah, anak cantik mamah datang”
“cantikan aku tau”
“Fatin, kapan kamu pulang dari puncak ?”
“dari kemaren sih, kakak kenapa baru kesini ?”
“um... kemaren kakak kerumah Kiki hehe”
“oh iya gimana Kiki, kak Ay ?”
“dia udah baikan kok”
“hm... terus kakak bawa apa ?”
“eh ada anak gadis mamah dateng, bawa apa kamu nak”
“hehe... aku bawa bahan buat bikin soto, aku pengen makan soto buatan mamah, boleh yah”
“jelas boleh dong”
__ADS_1
“kak Ayu”
“eh... hay Rel”
“kakak bawa apa ?”
“aduh kakak capek jawabnya, kamu tanya sama Fatin aja sekalian bantuin dia sama mamah didapur, gih”
“ok”
“mah, kali ini aku gak bantuin yah, capek banget”
“yaudah kamu kekamar Risaka aja istirahat sana”
“huh dasar, bilang aja males”
“adek ikh, gak boleh gitu ah”
“emang aku kamu, bleee”
Ayuningtiyash, memang gadis yang sangat mudah beradaptasi dimanapun ia berada. Bahkan ia begitu dekat dengan keluarga Risaka juga Ulfa.
Ia juga sudah dianggap seperti anak mereka sendiri. Panggilan Ayu pun disamakan dengan cara Risaka dan Ulfa memanggil orangtua mereka.
Kali ini Ayu kembali merasakan ada yang tidak beres dengan Risaka.
Pasalnya tidak biasanya ia menghiraukan panggilan dari Ayu, bahkan sebanyak Sembilan kali. Dalam masalah ini, Ayu memang salah satu gadis yang paling peka.
Ia langsung menghampiri Risaka dikamarnya. Dan saat ia masuk kedalam kamar, terlihat Risaka sedang duduk dimeja belajar dengan memegang pena juga kalkulator dihadapannya. Ayu tetap masuk dan duduk dipinggiran kasur sambil terus memerhatikan Ris.
“belum nemu juga jalan keluarnya ?”
“astagfirullah, kamu ngagetin kakak aja dek”
“emang kakak lagi ngapain sih, sampe aku masuk aja gak tau. Kakak lagi banyak pikiran yah ?”
“hm...”
“kakak lagi pusing sama hutang kakak, dek ?”
“hutang?, bukannya selama ini kakak udah bayar, emang masih belum lunas juga ?”
“makin nambah iya”
“kok bisa ?”
“jadi, kakak itu berurusan sama rentenir bukan bank, dan selama ini yang kakak bayar itu cuma bunga nya aja, hutang sebenernya masih belum disentuh”
“sebanyak itu ?”
“hmm...”
Bukankah selama tujuh tahun terakhir Risaka sudah bekerja terlalu keras sampai hampir mengorbankan pendidikannya. Bagaimana bisa hutangnya belum juga lunas. Seperti itulah pikiran Ayu saat ini.
Dari kecil sampai sekarang, hidup Ayu memang serba berkecukupan bahkan tak ada yang kurang sedikitpun. Tapi hal itu berbeda dari kehidupan Risaka. Wajar saja jika Ayu tidak mengerti cara pinjam meminjam dengan rentenir.
Bukannya mengurang justru bertambah banyak, bukankah ini sama saja mempermainkan keluarga mereka.
Ayu harus melakukan sesuatu untuk membantu keluarga Risaka keluar dari masalah mereka.
“emang berapa sih total hutang kakak”
“50 juta”
“kalo ditambah bunga jadi berapa ?”
“85 juta”
__ADS_1
“ha..!”
Pantas saja jika Risaka selalu bekerja sangat keras selama ini, ternyata hutangnya juga tidak bisa dibilang sedikit. Ayu berpikir untuk meminjam uang pada ayahnya dan memberikannya pada Risaka, tapi itu tidak benar. Risaka bisa tersinggung nantinya, tapi bagaimana.
“kak ikut aku yuk”
“mau kemana ?”
“udah ikut aja dulu”
“iya tapi kemana ?”
“mah, aku sama kak Ris keluar dulu yah”
“soto nya bentar lagi mateng loh”
“bentar aja kok”
“yaudah, hati-hati yah”
“siap bos”
Setelah pamitan dengan tante Laila, Ayu langsung mengemudikan mobilnya menuju tempat pelelangan. Tidak terlalu jauh dari rumah Risaka, hanya berjarak sekitar 15 menit. Tapi, Risaka bingung untuk apa Ayu mengajaknya ke tempat itu.
“kita ngapain kesini ?”
“aku mau lelang mobil”
“mobil siapa ?”
“ini”
“loh kenapa di lelang ?”
“aku butuh uang ?”
“uang?, buat apa kamu butuh uang ?”
“buat bantu kakak”
“apa ?”
“udah ikut aja yok”
“tapi ini gak bener, dek. Gak seharusnya kamu jual mobil kamu. Ini kan mobil kesayangan kamu”
“aku lebih sayang sama kakak daripada mobil aku”
“tapi gimana kalo orangtua kamu tau”
“mereka gak akan marah, lagian mereka udah kasih mobil ini ke aku, jadi aku bebas buat apain mobil ini”
“dek, tapi tetep aja ini gak bener”
“kak... udah yah ikut aja”
Risaka masuk bersama Ayu kedalam pelelangan tersebut. Ayu segera mendaftarkan mobilnya untuk diikut sertakan dalam pelelangan. Dan tak butuh waktu lama untuknya bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membayar hutang keluarga Risaka.
“nah ini dia uangnya. Pake uang ini buat bayar semua hutang kakak ke rentenir itu. Dan jangan pernah lagi berurusan sama orang kaya gitu yah kak”
“gak, kakak gak mau terima uang ini”
“mobil aku udah laku, masa kakak tetep gak mau terima uang ini. Trus harus aku apain dong uangnya, gak mungkin aku nebus mobil lagi kan, jadi ambil kak”
“dek Ay”
“It’s okay”
__ADS_1