Tri Angel

Tri Angel
23. Akankah ini nyata


__ADS_3


[Bandung, 02 Februari 2014]


Hari ini Rian terlihat sedang sibuk memersiapkan acara spesialnya untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya dihadapan Ayu.


Ia melukis sesuatu dikertas dan menempelkannya disebuah Drone dilengkapi dengan hiasan balon kecil dengan bentuk hati secantik mungkin. Terlihat konyol dan kekanakan memang, tapi penyampaiannya seperti ia bersungguh-sungguh, bukan.


“dimana gadis itu ?”


Setelah persiapan selesai, kini saat nya ia mencari Ayu terlebih dahulu, dan mengajaknya ke taman supaya gadis itu melihat usahanya. Tapi dari tadi Rian mencari, Ayu belum juga ia temukan. 


 



Ditempat lain, ada Karin dan teman-temannya yang sedang mengajak seorang gadis dengan paksa kearah samping gedung kampus, tepatnya Gudang.


Gadis itu di dorong dengan kuat sampai lengannya terhantuk ke sudut dinding cukup keras. 


“aarrgghh”


Sempat terdengar rintihan dari gadis itu, tapi sepertinya Karin justru senang mendengarnya. Bahkan ia mengancam akan melakukan hal yang lebih sakit dari hal itu.


“kenapa, sakit yah”


“mau lo apa sih ?”


“jangan nyolot deh lo”


“gue gak ngomong sama lo, Lala”


“lo...”


“eits... kalem girls”


“dia udah kepojok aja masih bisa-bisanya teriak sama kita”


“hh...”


“Ayuningtiyash,  lo udah gak punya pilihan sekarang”


Dan yah, gadis yang tadi dibawa paksa oleh Karin, Lala dan Sintia ke gudang yang ada disamping kampus adalah Ayu.


Mereka merasa muak dengan sikap Ayu yang selalu menganggap remeh ancaman mereka. Mereka selalu saja melihat Ayu sedang bersama dengan Rian, dan hal itu yang membuat mereka marah.


Karin memang seorang gadis yang tergila-gila pada Rian, sayangnya Rian tidak pernah menyukainya, pemuda itu lebih tertarik pada gadis yang sedang kesakitan didepan Karin saat ini.


“sebenernya apa sih masalah lo sama gue ?”


“lo itu pura-pura bego atau emang bego sih. Udah berapa kali gue ingetin sama lo untuk jauhin Rian”

__ADS_1


“Rian ?”


“dia itu punya Karin”


“dia juga gak pantes buat lo”


“mereka bener, Rian itu cocoknya sama gue. Tapi entah apa yang udah lo lakuin sama dia sampe-sampe dia lebih suka sama lo daripada gue”


“hah… jadi cuma karna masalah itu lo sampe bawa gue kesini ?”


“cuma, kata lo ?”


“denger yah nyonya Karin, jelas lah Rian lebih milih gue karna gue lebih cantik berpuluh-puluh kali lipat dibanding lo. Tapi sayangnya gue gak tertarik sama sekali untuk urusan cinta, jadi lepasin gue sekarang”


“lo... berani-beraninya lo ngomong gitu sama gue, dasar cewek murahan !”


Karin berniat menampar Ayu lagi, tapi sepertinya Ayu tidak bisa mengelak kali ini karena kedua tangannya dipegang erat oleh Lala dan Sintia, jadi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk melawan Karin.


Saat Karin ingin melayangkan tamparannya, lagi-lagi ada tangan lain yang menghalangi tangannya.


“jangan pernah coba-coba lo ngancem dia”


“siapa sih lo, jangan ikut campur urusan gue”


Seorang gadis yang satu tahun lebih tua dari mereka datang dan mencegah tangan Karin melakukan aksinya. Setelah itu ia menghempaskan tangan tersebut dengan kuat.


Melihat Karin mundur beberapa langkah akibat hempasan itu, lantas Lala dan Sintia melepaskan tangan Ayu dan berlari untuk mencegah Karin jatuh.


“gue gak apa-apa”


“ini jelas urusan gue, karena yang berhak ngancem dia cuma gue ‘Adista Putri’, dan kalian... mendingan kalian pergi deh dari sini, sebelum gue laporin kalian ke rektor, bisa-bisa kalian dikeluarin dari kampus, mau”


“argh... cabut”


Setelah kepergian mereka, gadis yang bernama Adista pun langsung menghampiri Ayu dan memakinya.


“kenapa lo diem aja sih digituin sama mereka?, kayanya Tiyash yang dulu gue kenal gak lemah kaya gini deh”


“hah... lo gak liat, tangan gue dibegal sama mereka. Lagian tangan kanan gue juga gak bisa digerakin, gimana gue mau ngelawan”


“kalo gue gak dateng tepat waktu, muka lo udah babak belur kali di tampar sama cewek kasar itu”


“kok lo bisa ada disini ?”


“gue ada urusan disini, gak sengaja gue liat lo diseret sama mereka, awalnya gue gak yakin itu lo, tapi pas gue ikutin ternyata bener”


“tapi makasih lo udah nolongin gue dari nenek lampir itu”


“it’s okay, tapi tangan lo. Mending diperiksain deh takutnya dislokasi (cedera pada sendi)”


Masih ingat dengan kakak kelas yang dulu pernah dijahili oleh Ayu menggunakan permen karet, yah itulah dia Adista Putri.

__ADS_1


Dia memang bukan mahasiswi kampus itu, ia datang ke sana sebagai perwakilan dari Universitas Indonesia yang ikut serta dalam Olimpiade Sastra Indo di Singapura bersama dengan salah satu mahasiswa dikampus Ayu.


Saat ia sedang melihat-lihat lingkungan kampus, Adista melihat Ayu sedang diseret oleh tiga orang gadis, sepertinya itu sebuah masalah.


Jadi dia mengikutinya diam-diam, dan tepat saat Ayu membutuhkannya ia bisa mencegah sesuatu yang buruk terjadi.


Setelah menyelesaikan perdebatan kecil diantara mereka, Adista mencoba untuk membantu Ayu berjalan, namun ditolak oleh gadis itu.


Tapi seorang Adista mempunyai watak keras kepala, dan akhirnya Ayu mengalah. Dijalan menuju parkiran mereka bertemu dengan Rian.


“loh Ay, lo kenapa kok dituntun segala sama cewek ini”


“Rian ?”


“oh jadi lo yang direbutin sama cewek tadi sampe mereka nyiksa Tiyash kaya gini, lumayan sih wajar lah kalo lo jadi rebutan, tapi cowok kaya dia yang lo taksir, Yash?, astaga!”


“diem deh lo, Dis”


“maksud lo apa ?”


“gak ada maksud apa-apa, mending sekarang lo anter dia ke rumah sakit, kayanya lengan kanannya keseleo deh”


“hah… Ay, kita kerumah sakit sekarang yah”


“ok kalo gitu gue permisi dulu”


“gak usah lebay deh, gue gak kenapa-napa”


Rian panik bukan main mendengar kondisi lengan Ayu, ia langsung mengambil tubuh Ayu dari Adista dan merangkulnya, mencoba untuk membantunya berjalan sama seperti yang dilakukan Adista sebelumnya.


Tapi saat Adista sudah pergi Ayu tersadar jika saat ini secara tidak langsung ia dirangkul oleh Rian, padahal sebelumnya ia tidak pernah mengizinkan pamuda itu menyentuh tangannya sedikitpun.


“udah ah, gue bisa sendiri kok”


“lo gak denger kalo tangan lo keseleo, itu bisa aja dislokasi, udah deh diem aja kenapa sih”


“mending sekarang lo telfon pak Kus, dan lepasin gue. Gue bisa pulang sendiri, Rian”


“lo bisa liat gak kalo gue khawatir sama lo, Ay”


“tapi khawatir lo berlebihan sama gue, udah ah gue pulang naek angkot aja, lepas”


“Ay, GUE SUKA SAMA LO”


Ayu menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar apa yang baru saja diteriakkan oleh Rian ditempat parkir.


Banyak mahasiswa yang memerhatikan mereka, Ayu merasa sangat malu kali ini, tapi tidak dengan Rian.


Rencananya mengatakan hal tersebut dengan romantis gagal ia wujudkan, justru dengan cara seperti ini ia bisa mengatakannya dengan sangat lantang.


__ADS_1


‘seperti inikah rasanya menjadi spesial sama seperti ditodongkan sebuah pisau tepat didepan mata, gugup dan tidak berbuat apa-apa. Ayu.’


__ADS_2