Tri Angel

Tri Angel
27. Perlombaan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan perdebatannya dengan sang ibu, disinilah Ulfa sekarang. Duduk berhadapan dengan lelaki yang akan dijodohkan oleh ibunya.


Terasa canggung memang, karena ini pertama kalinya mereka bertemu. Belum mengenal satu sama lain secara mendalam.


Lelaki itu terlihat bingung dan gelisah, sepertinya ia sedang mencari kata-kata yang pas untuk memulai sebuah pembicaraan.


Setelah bimbang cukup lama akhirnya ia mengeluarkan kata pertama nya, tapi justru sangat membosankan.


“Ulfa sudah makan ?”


Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki dihadapannya ini, membuat Ulfa memutarkan bola mata jengah.


Entah apa yang dipikirkan sang ibu hingga ia sampai dijodohkan dengan pria membosankan ini. Tak ada jawaban yang ingin Ulfa berikan pada lelaki itu, hanya terdengar eluhan nafas panjang dari Ulfa.


Sesaat sebelumnya. Ulfa berdebat hebat dengan sang ibu, tapi diakhir perdebatan, tante Sarah menyuruh anak sulungnya itu untuk keluar menemani tamu, sedangkan dirinya sibuk didapur.


Melihat Ulfa yang sudah keluar, lantas orangtua lelaki itupun izin masuk menemui yang empunya rumah didapur. Niatnya agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa.


Sedangkan Risaka dan juga Ayu yang tadi sempat duduk menemani tamu, segera beranjak dari kursi dan pindah ketempat lain memersilahkan Ulfa untuk bisa mengobrol dengan calon suaminya.


**


“bunda, Risaka sama Ay pamit pulang dulu yah”


“eh… kalian mau kemana ?”


“kita gak mau ganggu waktu kalian, jadi tenang aja okay. Yuk kak Ris”


“e-eh. Masa kalian mau ninggalin aku, lagian kan rencana awalnya gak gini”


“have fun yah kak Irsyan”


“jangan galak-galak yah Ul, have fun”


**


Ulfa merasa kesal jika mengingat apa yang terakhir kali mereka katakan padanya sebelum pergi.


Have fun, bagaimana bisa jika lelaki yang ada dihadapannya ini begitu kaku. Dan untuk menyikapinya Ulfa justru bersikap tak acuh dan sangat dingin pada Irsyan.



“haha... kebayang muka kak Ul sekarang, pasti kesel banget sama kita”


“haha... kamu bener dek, tadi kamu liat gak sih, mukanya udah merah kaya udang rebus”


“haha...”


Risaka dan Ayu sedang tertawa puas setelah berhasil menggoda Ulfa tadi. Rencananya ingin menikmati seblak menjadi gagal total karena datangnya tamu tak diduga yang sudah mendahului mereka.


Tapi berkat tamu itu pula mereka berdua bisa mendapat kesempatan untuk menggoda Ulfa habis-habisan.


Pak Kus yang tak tahu apa-apa hanya diam dan fokus menyetir, sambil tersenyum sesekali melihat Ayu dan Risaka terlihat bahagia.


Ayu kembali kerumah bersama pak Kus setelah mengantarkan Risaka terlebih dahulu. Tapi diperjalanan rasa ingin makan sesuatu timbul lagi. Akhirnya Ayu kembali memasuki sebuah minimarket dan membeli sesuatu disana.


“mbok... mbok... mbok”


Setelah sampai dirumah, Ayu langsung masuk dengan semangat ’45 sambil membawa kantong belanjaan ditangannya.


Ia berteriak memanggil mbok Lastri yang cukup lama tak muncul.


“iyah ada apa non, si mbok disini jangan teriak-teriak gitu ah”


“hehe... abisnya mbok lama, aku kan udah gak sabar”


“non mau apa ?”


“mbok bisa buat seblak kan ?”


“bisa, kenapa toh. Non mau seblak ?”

__ADS_1


“iyah mbok, Tiyash lagi pengen banget makan seblak, buatin yah. Nih Tiyash udah beliin bahan-bahannya, yah, yah”


“hm... udah niat banget sampe nyiapin bahannya, padahal didapur kan juga lengkap, non tinggal bilang sama si mbok”


“ah udah gak apa-apa, mbok buatin dulu, aku mau mandi okay”


“iyah non”


Setelah memberikan semua kantong belanjaan pada mbok Lastri, Ayu langsung pergi ke kamarnya lalu kembali keruang makan untuk menyantap seblak buatan mbok Lastri bersama pak Kus juga mbok Lastri.



[Bandung, 13 Maret 2014]


Sebulan telah berlalu masih tidak banyak yang berubah dari Ulfa. Ia masih belum memberikan persetujuannya atas perjodohan yang dilakukan sang ibu tempo hari.


Sedangkan Risaka dan Ayu masih senantiasa menggodanya. Hal itu membuat Ulfa merasa kesal, tiap kali mereka bertemu. 


“udah deh kalian gak usah ngeledekin aku terus, nanti aku pergi dicariin”


“haha... ok, ok kakak cantik jangan ngambek yah, kita gak akan godain lagi”


“hehe, dek Ay bener kita gak akan bahas kejadian itu lagi okay”


“um, tapi ngomong-ngomong kak aku jadi pengen seblak lagi deh”


“tapi kali ini harus jadi dek, jangan gagal kaya dulu”


“Risaka”


“bener-bener, bunda masih ada tamu gak yah”


“dek Ay”


“haha...”


“kalian nyebelin ah, aku pergi aja”


“tau ikh mainnya ngambekkan”


“biarin”


Risaka memang tidak kalah dalam hal membully dari Ayu, apalagi untuk menggoda Ulfa, bahkan semangka dan seblak kini digunakannya dalam kegiatan (menggoda Ulfa) tersebut.


“tapi tunggu deh kak”


“kali ini apa lagi ?”


“bukannya minggu depan ada acara adu presentasi tentang upaya reboisasi alam Indonesia, iya kan ?”


“iya, trus kenapa ?”


“kamu mau ikutan dek ?”


“itu acara kampus kan, dan siapa aja boleh ikut, aku bener kan ?”


“iyah”


“kamu beneran mau ikutan ?”


“ini kan kesempatan buat aku nunjukin prestasi aku sama ayah sama ibu, kak. Kalo aku menang mereka pasti bangga”


Saat itu, Ulfa dan juga Risaka mengerti maksud Ayu. Gadis itu ingin mencari perhatian dari orangtuanya melalui prestasinya di kampus.


Dan tentu saja mereka mendukung keinginan adiknya, apalagi acara tersebut memang bertujuan baik, jadi tidak ada salahnya.


Setelah memantapkan diri, mereka bertiga langsung pergi kebagian pendaftaraan untuk menemani Ayu mencalonkan diri sebagai peserta lomba. Ada waktu selama satu minggu untuk memersiapkannya. 


**


“ayah, ibu, minggu depan kalian luangin waktu sebentar yah”

__ADS_1


“memang ada apa, sayang ?”


“ada lomba adu presentasi dikampus, Tiyash ikutan jadi ayah sama ibu harus nonton yah”


“oh ya!, um gimana nih, ayah ?”


“kalo ayah sih pasti dateng, soalnya anak kesayangan ayah ikut partisipasi”


“wah... beneran ya, ayah sama ibu janji kan mau dateng”


“iya janji sayang”


“ok, aku janji bakalan menang biar nanti ayah sama ibu bisa liat aku pegang piala dipanggung”


“ibu yakin kamu pasti menang”


“jelas dong, siapa dulu anak ayah”


Mendengar janji kehadiran orantuanya dalam acara tersebut membuat Ayu tambah antusias untuk jadi pemenang dalam lomba itu.


Ia akan melakukan yang terbaik agar bisa menjadi juara dipresentasi tersebut.


Dan sampai waktunya tiba, Ayu sibuk menyiapkan materi yang akan ia presentasikan. Tidak bertele-tele tapi menarik. Seperti itulah konsepnya.


Tidak mudah memang, karena ia juga memiliki jadwal sebagai mahasiswi kedokteran, tentunya banyak praktek dan juga materi yang harus dipelajari, tak jarang juga ia harus menghapalkan berbagai istilah medis. 


Disamping itu, Ayu juga harus menghapalkan materi presentasi yang ia susun.


Jika Ris dan Ulfa memiliki waktu luang setelah jam kuliah selesai, mereka langsung menghampiri Ayu dan berusaha membantu gadis itu sebisanya.



[Bandung, 20 Maret 2014]


Selama satu minggu mereka disibukkan dengan berbagai persiapan juga jadwal kuliah yang padat.


Akhirnya mereka bisa menyelesaikannya tepat waktu. Dan kini saatnya untuk Ayu mengumpulkan nyali untuk berbicara didepan umum.


Ada banyak mahasiswa, dosen dan rektor di Aula, rasa gugup tiba-tiba menjalar diseluruh tubuhnya. Sepertinya saat ini Ayu terkena demam panggung.


“ayo dek Ay, kamu pasti bisa”


“kamu bisa dek, fighting”


“Ay, gue disini, jangan takut”


“huuu, pede lo Ian”


“biarin. Ayo Ay, semangat”


“semangat Ay, lo pasti bisa”


“berisik deh lo, cukup gue aja yang semangatin Ayu, lo gak perlu”


“uhm… ada api cemburu nih kayaknya”


“Rian, lo cemburu sama Delon ?”


“apaan sih”


“cieee Rian, ciee”


“tau ah, ayo Ay Fighting”


Teriakan semangat dari Risaka, Ulfa, Rian dan juga Delon terdengar sangat nyaring ditelinga Ayu yang kini tengah berdiri diatas panggung dengan memegang mikrofon.


Teman-teman satu fakultasnya juga datang dan menyemangati Ayu sebagai perwakilan mereka.


Pasalnya tak ada satupun yang mewakili fakultas kedokteran selain Ayu, dikarenakan jadwal praktek mereka yang sangat padat, hingga tidak bisa meluangkan sedikit waktu.


__ADS_1


__ADS_2