
“dek Ay”
“It’s okay”
Tak kuasa menahan semua air mata dari pelupuk matanya, akhirnya Risaka menangis seperti anak kecil sambil memeluk erat adiknya itu. Ayu langsung membalas pelukan tersebut dengan mantap.
Betapa sangat ia sayangi kakaknya ini, sampai ia bisa merelakan mobil kesayangannya untuk pergi begitu saja. Tidak bisa dibohongi jika Ayu memang sangat menyayangi mobil tersebut. Pasalnya mobil itu adalah hadiah yang diberikan oleh orangtuanya saat ia berumur sepuluh tahun.
Orangtuanya pernah berkata saat ulang tahunnya yang ke-4.
“diulang tahun Tiyash yang ke-10 nanti, ayah janji akan ngasih sebuah mobil bagus buat Tiyash, jadi Tiyash bisa bebas kemanapun”
Sudah sepuluh tahun mobil itu bersamanya, dan selalu menemaninya kemana pun ia pergi. Dan kini ia hanya bisa melihatnya sebentar untuk terakhir kalinya. Ayu sempat meneteskan air mata saat ia berjalan ingin meninggalkan tempat itu.
Ia berjalan melewati mobil tersebut sambil menyentuh bagian sampingnya. Risaka yang menyadari betapa beratnya Ayu harus melepas mobil tersebut, segera meraih tubuh Ayu dan memeluknya sekali lagi.
“aku gak apa-apa kok kak”
“kakak tahu”
“jadi mulai sekarang, kakak bisa nabung buat masa depan kakak sendiri”
“kakak janji bakal balikin uang ini”
“kakak bisa balikin uang itu kapanpun”
“kakak bakal lakuin hal yang sama buat nyicil hutang kakak ke kamu yah”
“terserah kakak, aku gak akan pernah nagih apapun”
“makasih dek”
“aku yang makasih, karna kakak udah ngasih keluarga buat aku”
“kamu gak perlu khawatir, kakak akan selalu ada buat kamu”
“aku tau itu”
__ADS_1
“sekarang kita pulang yah”
“tapi pulang naek angkot gak apa-apa kan ?”
“harusnya kakak yang nanya gitu ke kamu”
“haha... kakak lupa kalo aku ini anak nakal, jadi gak masalah buat aku”
“ok. Kita pulang”
“ayo”
Akhirnya mereka pulang menggunakan angkutan umum. Seperti yang dibilang Ayu, meskipun ia terbiasa hidup enak. Bukan berarti ia tidak pernah naik angkutan umum seperti sekarang.
Jangan lupa bahwa ia adalah gadis nakal, sering bolos pelajaran dan kabur ke pusat perbelanjaan hanya untuk bermain games. Tentu saja harus naik angkutan umum. Karena gerbang sekolah pasti tertutup.
Hari itu, Ayu menghabiskan banyak waktu bersama keluarga Risaka. Mereka bercanda dan tertawa bersama, sambil menikmati soto buatan tante Laila.
Setelah selesai, Ayu pergi kekamar dan tidur lebih awal, karena merasa lelah.
Risaka yang melihat hal itu membiarkannya istirahat. Lalu kembali keruang keluarga berkumpul bersama ibu serta adiknya.
Awalnya tante Laila merasa terkejut dan marah karena Risaka tidak menolak pemberian Ayu, namun saat Risaka menjelaskannya tante Laila mulai mengerti. Gadis itu sangat merindukan kehangatan keluarga yang telah lama hilang.
[Bandung, 15 Januari 2014]
Sejak keputusan yang dibuat Ayu untuk membantu keluarga Risaka dengan menjual mobilnya. Ia harus berangkat kuliah diantar oleh pak Kus menggunakan mobil Alphard hitam milik keluarganya.
Saat mendengar apa yang dilakukan oleh putrinya dari mbok Lastri, om Feri dan tante Mira sempat terkejut dan tidak percaya, tapi kenyataannya memang ia tidak melihat mobil milik putrinya itu terparkir.
Mereka tidak marah pada Ayu, hanya saja mereka memberikan syarat seperti dulu, bahwa kemanapun ia akan pergi pak Kus harus ikut. Tidak masalah baginya selama ia masih dibebaskan pergi kemanapun.
Dan keuangan keluarga Risaka pun mulai membaik, karena hutang mereka sudah tidak lagi menjadi beban bagi hidup mereka.
Justru mereka makin menghormati sosok Ayu. Gadis itu bukan hanya adik kecil maupun anak angkat dari tante Laila, tapi juga malaikat.
__ADS_1
Hari ini, mereka memulai aktifitas keseharian mereka sebagai mahasiswi yang teladan. Masa liburan telah usai, kini mereka harus menyiapkan diri untuk lebih fokus pada materi dan ujian yang akan mereka hadapi kedepannya.
Terutama untuk Risaka, karna sebentar lagi ia akan segera menyelesaikan kuliahnya lebih dulu daripada Ulfa dan Ayu.
“hah... kembali ke rutinitas yang sa...ngat melelahkan”
“kamu lelah ?”
“kalo iya, kakak mau mijitin aku ?”
“ogah deh”
“kak Ul, masa kak Ris gak mau mijitin aku”
“Ris, pijitin bentar tuh dek Ay nya kasian, lelah katanya”
“kok kamu jadi belain dek Ay sih”
“kan kak Ul lebih sayang aku daripada kakak, blee”
“maksud aku, kamu pijitinnya pake boneka landak punya Rian”
“oh iya bener, mau gak dek ntar aku pinjemin”
“ogah... kalian emang gak pernah sayang sama aku”
Dan untuk sekian kalinya, begitulah cara mereka mengatasi kesulitan yang selama ini mereka hadapi. Rasanya hal ini tidak akan berhenti sampai disini. Karena selama kehidupan terus berlanjut maka akan selalu ada tantangan didalamnya.
Hari itu berakhir dengan lancar, mereka pulang kerumah masing-masing tanpa ada masalah. Tapi sepertinya tidak untuk Risaka. Keesokan harinya masalah lain telah menunggu tepat didepan rumahnya.
“papah”
Ia melihat seseorang yang selama ini sudah menjadi bagian dari masa lalunya. Sebuah masa lalu yang sudah lama ia lupakan. Tapi hari ini, ia kembali dan berdiri dihadapan Risaka, menatapnya dengan sendu seakan rasa bersalah dirasakannya.
__ADS_1
‘jujur saja aku merindukannya, tapi perasaan kecewa ku jauh lebih besar dari semua rinduku, dan kini aku hanya membencimu. Risaka’