Tri Angel

Tri Angel
22. Anak kecil (2)


__ADS_3


Setelah kelas Ayu bubar, ia segera membereskan peralatannya dan keluar dari kelas.


Rian yang duduk tak jauh darinya segera menyusul dan berusaha menyamakan langkahnya dengan Ayu. Ia terus saja mengganggu Ayu dengan memberinya banyak pertanyaan.


“Ay, lo tadi kemana aja sih. Gue kan tadi bilang nunggu lo ditaman, tapi lo gak dateng juga sampe ada kelas lo baru nongol”


“kepo banget sih lo”


“duh Ay, gue bukannya kepo, gue kan khawatir lo kenapa-napa”


“lo pikir gue gak bisa jaga diri apa”


“gak, bukan gitu. Masalahnya lo lama banget ditoilet, tapi pas gue samperin kesana lo udah gak ada, jadi lo kemana ?”


“astaga Rian, mau gue kemana kek apa urusannya sama lo ?”


“lo kan temen gue, jelas dong itu urusan gue”


“temen bukan berarti bisa ngepoin hidup gue”


“tapi Ay…”


“hay Ay”


“eh, hay kak Delon”


“lo ada waktu gak, ada yang perlu gue obrolin sama lo ?”


“gak bisa, Ay lagi ada urusan sama gue”


“apaan sih lo, bisa kok kak. Kita ngobrol disana aja yah, disini ada lalet pengganggu”


“ok deh”


“eh Ay, obrolan kita kan belum selesai… Ay, aish”


Rian merasa kesal karena Ayu lebih memilih pergi bersama dengan Delon daripada menyelesaikan pembicaraan dengannya.


Hal ini sudah beberapa kali terjadi bahkan sebelum liburan tahun baru dimulai.


Rian merasa jika Delon sedang berusaha mendekati Ayu, dan hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Jika nanti Delon benar-benar membuat Ayu menyukainya maka kesempatan untuk mendapatkan hati Ayu akan musnah.


Kali ini Rian harus melakukan sesuatu untuk mencegah hal itu terjadi. Ia harus segera mengakui perasaannya pada Ayu secepatnya. Tapi sebelumnya ia harus membuat rencana untuk membuat suasana pernyataan cinta itu menjadi romantis.


Tapi, Ayu bukan tipe gadis yang menyukai hal berbau feminimisme begitu. 


Sementara Rian tengah sibuk memikirkan cara untuk menyatakan perasaannya pada Ayu. Ayu sendiri disibukkan dengan berbagai pertanyaan yang diajukan Delon mengenai salah satu kakaknya.


“Ay, apa yang Risaka suka, dia itu tipe cewek yang suka sama apa, trus tipe cowoknya itu yang kaya gimana ?”


“aku harus jawab yang mana dulu nih kak ?”


“ah haha... gue terlalu semangat hari ini”


“ok, ok sekarang kakak tarik nafas dulu, rileks baru deh nanya satu persatu”

__ADS_1


“ok ekhem... dia itu orangnya kaya gimana ?”


“yah seperti yang kakak liat, dia cantik apa lagi kalo senyum”


“kalo itu sih gue juga tau, Ay. Maksud gue kepribadiannya”


“ah ya, dia itu tipe cewek yang pekerja keras kak. Dia gak mau diremehin sama orang lain, meskipun harus dengan susah payah dia bertahan, dia bakal lakuin apapun buat orang lain percaya kalo dia mampu”


“I think so… terus dia suka apa ?”


“kesukaannya, dia mah semuanya suka”


“favoritnya deh”


“apa dulu nih, minuman, makanan, snack, atau barang ?”


“barang ?”


“uang”


“uang ?”


“iya, uang”


“Ayu, lo becanda mulu deh, gue serius tau”


“haha... ok, ok. Dia suka banget sama jaket, kalo kakak mau tau tuh ya, dilemarinya hampir satu rak isinya jaket semua, mana banyak banget warnanya”


Ayu tahu mengenai hal ini, karena saat ia menginap dirumah Risaka tempo hari. Ia melihat isi lemari dari gadis itu. Dan tak disangka juga oleh Ayu kalau Ris memiliki banyak sekali jenis jaket. Mulai dari kulit, sintetis, wol, sampai mantel hujan.


Aneh memang sebuah jas hujan diletakkan didalam lemari bersama dengan tumpukan jaket lainnya.


Dan saat Ayu menanyakan alasan keberadaan jas hujan itu dilemarinya, Ris hanya menjawab jika jas hujan juga termasuk golongan jaket.


“haha… lo serius Ay ?”


“hm”


Delon tertawa geli saat mendengarkan cerita dari Ayu mengenai koleksi Risaka. Ayu hanya terus berbicara seperti anak yang sangat polos.


“terus...terus, ada gak satu warna yang dia belum punya ?”


“hm… ada sih”


“warna apa ?”


“putih”


“putih?, why ?”


“ya jelas lah dia gak punya warna putih, dia kan benci sama warna itu. Dia itu emang aneh, perempuan tapi suka nya sama warna item, kan gak bagus kak, lebih bagus putih”


“dia emang aneh sekaligus unik”


“ha... unik ?”


“eh… enggak. Trus dia suka tipe cowok yang gimana ?”


“oh itu, dia suka sama cowok yang kerja keras, kaya yang udah aku bilang tadi kak Ris itu cewek yang suka kerja keras, dia bakalan lebih suka sama cowok yang bisa diajak kerja keras sama-sama”

__ADS_1


“bener juga yah”


“apa ada pertanyaan lain ?”


“kayanya hari ini udah cukup deh”


“kak Delon segitu suka nya yah sama kak Ris ?”


“haha... lo anak kecil jangan ikutan deh, belum cukup umur tau. Makasih yah dah”


“eh gue bukan anak kecil tau, kak Delon !”


Lagi-lagi ‘anak kecil’ menjadi kata terakhir yang Ayu dengar dari orang-orang yang lebih tua darinya.


Sebenarnya jarak mereka tidak jauh berbeda, mungkin hanya beda dua atau tiga tahun saja. Bagaimana bisa Ayu disebut anak kecil begitu.



[Bandung, 01 Februari 2014]


Hari-hari berlalu begitu cepat rasanya, hingga dua pekan sudah berlalu begitu saja.


Risaka, Ulfa juga Ayu masih berada dikampus yang sama, dengan kegiatan yang berbeda sesuai dengan bidang yang mereka geluti.


Ayu masih disibukkan dengan beberapa praktek percobaan di laboratorium.


Ulfa sedang sibuk dengan bahan presentasi yang harus ia selesaikan minggu depan.


Sedangkan Risaka masih sibuk dengan dunianya sendiri. Ada materi yang harus ia kejar, Andi yang saat ini sudah menjadi kekasihnya juga masalah mengenai ayahnya.


Yah, sudah dua minggu ini ia tidak memerdulikan hal mengenai ayahnya, sejak beliau datang mengunjunginya dua minggu lalu.


Ibu dan adik-adiknya mulai bisa menerima sosok suami sekaligus ayah mereka, tapi tidak dengan Risaka.


Berbagai nasehat sudah beberapa kali ia dengar dari Ulfa maupun ibunya, karena dalam masalah ini, Ayu tidak mengetahui sedikitpun. Jadi ia tidak bisa ikut-ikutan menceramahi kakaknya itu seperti Ulfa.


Tapi bukan berarti mereka tidak pernah bertengkar maupun membuat keributan. Justru akhir-akhir ini mereka lebih sering bertengkar dalam hal apapun, entah mengenai tugas kuliah maupun datang terlambat saat mereka sedang berkumpul.


Tapi dimana ada mereka selalu ada Ulfa juga yang siap memberikan jalan tengah, bukan. Tak jarang pula Ulfa yang menjadi sasaran bully mereka saat ia terlambat datang untuk berkumpul.


Seperti itulah bumbu yang ada dalam persahabatan mereka.


“kakak kenapa gak cerita soal papah yang udah balik sih, emang aku segitu gak berartinya yah buat kalian”


“bukan gitu maksud kita dek”


“kalian pikir aku masih kecil, dan gak boleh tau apa masalah kalian gitu, iya !”


“dek, jangan marah yah. Kak Ris gak bermaksud jahat kok”


“trus maksudnya apa ?”


Apa yang dikatakan pepatah memang selalu benar ‘sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga baunya’.


Seperti hari ini, Ayu mengetahui segalanya tanpa disengaja. Ia merasa seolah tidak dihargai oleh mereka, memangnya siapa gadis itu bagi Ris dan Ulfa. Orang lain atau adiknya.


Kemarahan Ayu kali ini benar-benar tidak diduga, ia sangat merasa kesal. Ini merupakan masalah penting dan besar, bagaimana mungkin mereka tidak memberitahunya sedikitpun. Apa mereka berpikir tidak berguna memberitahunya atau apa. Intinya Ayu merasa sangat marah.


Tapi berkat kemarahannya ini pula lah yang membuat Risaka sadar dan memutuskan untuk memaafkan dan menerima ayahnya kembali dalam keluarga mereka.

__ADS_1


Dengan begitu keluarga Risaka kembali utuh seperti sebelumnya. Ayahnya juga berjanji akan berubah dan menjaga mereka mulai saat itu.



__ADS_2