
“gue mau liat ayah sama ibu sekarang, Ian. Anterin gue kesana Ian”
“iya iya gue anterin lo kesana, tapi lo harus tenang yah”
Seberapapun kerasnya Ayu untuk menjaga ketenangannya untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi tetap tidak bisa ia lakukan.
Ia menjadi histeris saat melihat kondisi om Feri dan tante Mira saat ini.
Bagaimana mungkin, saat ini ia sedang melihat orangtuanya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan berbagai alat dimana-mana, sedangkan beberapa hari lalu mereka dalam kondisi baik-baik saja.
“gue emang anak yang gak berguna buat mereka Ian”
“hey, siapa bilang. Lo itu anak yang paling mereka banggain”
“banggain?, apa yang pantes mereka banggain dari gue, bahkan disaat kaya gini gue gak bisa ngelakuin apa-apa buat mereka”
“keberadaan lo disisi mereka itu udah cukup buat bantu mereka berjuang saat ini, Ay”
“bahkan gue belum sempet bilang maaf sama mereka, mereka gak salah gue yang salah karna terlalu egois”
“mereka pasti ngerti, lo harus kuatin diri lo yah”
“hikss...”
Setelah Rian berhasil membawa Ayu keluar dari ruang ICU, ia langsung menenangkan Ayu. Gadis itu menjadi lebih tenang saat berada dipelukan Rian seperti saat ini.
Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi pelukan itu memiliki kekuatan yang cukup besar baginya. Ia tidak ingin kehilangan kehangatan yang ia dapatkan dari pelukan tersebut, terasa nyaman dan damai.
Tak lama, Ayu kembali tak sadarkan diri. Rian langsung membawanya ke IGD kali ini, Ayu langsung diberikan cairan karena terlalu kelelahan ditambah kondisinya yang memang sedang memburuk belakangan ini.
Ris dan Ulfa sedang menunggu kedatangan seseorang dilobby. Mereka segera ke IGD setelah mendapatkan kabar mengenai Ayu.
“ya ampun Ay, kenapa sampe bisa kaya gini, Ris ?”
“kondisinya memburuk dua hari ini, mah”
“kenapa gak langsung dibawa kerumah sakit ?”
“dek Ay yang ngelarang kita semua, bun”
“gimana kondisinya sekarang ?”
__ADS_1
“udah lebih baik kok tante, dia cuma butuh istirahat beberapa hari”
“kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan lagi, Ian. Bukannya tadi dia sama lo ke ICU ?”
“diruang ICU dia histeris lagi saat liat keadaan om sama tante, tapi gue berhasil bawa dia keluar, tapi pas dia udah tenang, malah pingsan”
“kejadian ini pasti buat Ayu syok sampai pingsan, ah... Ulfa bunda mau lihat keadaan orangtua Ayu”
“mereka ada diruang ICU, bun”
“kalian disini aja, biar bunda Sarah kesana sama mamah, gak apa-apa kan bun ?”
“iya, tentu. Kalian sebaiknya temani Ayu dulu, nanti bunda balik kesini lagi”
Seseorang yang ditunggu oleh Risaka dan Ulfa adalah tante Sarah dan tante Laila.
Mereka mendapat kabar bahwa orangtua Ayu sedang berada di Jakarta, itu sebabnya mereka langsung berangkat malam itu juga.
Kiki dititipkan dirumah tante Laila karena tante Sarah khawatir terjadi sesuatu padanya saat dirumah tidak ada orang yang menjaganya.
“kak, tolong jagain Ay dulu yah”
“gue gak kemana-mana, cuma mau nyari angin bentar”
Tak berapa lama setelah tante Sarah dan tante Laila pergi, Rian berniat menenangkan dirinya sendiri kali ini.
Bagaimana ia bisa tenang saat gadis yang sangat ia sayangi berada diranjang IGD sekarang.
“gimana gue bisa berusaha nenangin lo saat gue sendiri gak bisa tenang, Ay”
Merasa sangat frustasi setelah melihat apa yang sudah dialami oleh Ayu selama beberapa hari ini, Rian harus lebih ekstra menjaganya mulai detik ini, paling tidak hingga masalahnya selesai dengan baik. Kapan hari itu datang, tidak ada yang tahu.
“lo udah berusaha keras untuk itu, dan nyatanya lo berhasil sejauh ini”
“kak... kak Ulfa, kok bisa ada disini ?”
“hm... gue tau lo pasti lagi depresi berat, makanya gue ikutin lo kesini”
“depresi. Gila dong gue ?”
“haha... jangan coba ngelucu deh, gue tau lo suka sama dek Ay kan!”
__ADS_1
“dari mana lo tau ?”
“lo kira selama ini gue gak liat betapa setianya lo disamping dek Ay saat dia ada masalah kaya sekarang, pas lomba juga cemburu lo sama Delon jelas banget ?”
“hehe... ketauan banget yah ?”
“yah, begitulah”
“haha…”
Menghibur diri rasanya memang sangat dibutuhkan oleh mereka saat ini. Risaka mencoba untuk tetap disamping adik kesayangannya ini.
Adik yang selalu beradu pendapat dengannya setiap hari. Adik yang selalu melawannya ketika ia bicara.
Dan saat ini adiknya itu sedang terbaring tak sadarkan diri, begitu tenang, dan terlihat pucat. Ia meneteskan air mata yang pertama kalinya untuk Ayu. Gadis kecil yang selalu mengganggunya.
[Bandung, 02 Juli 2014]
Tiga bulan berlalu sejak tante Mira dan om Feri dinyatakan koma oleh dokter, belum ada kabar dari pihak rumah sakit jika mereka sadar. Saat ini Ayu, Risaka, Ulfa dan Rian sudah kembali ke Bandung, karena mereka tidak bisa meninggalkan materi kuliah begitu saja.
Selama dua minggu pertama mereka berada di Jakarta karena liburan akhir semester, dan kini mereka harus kembali menjalankan aktifitas seperti biasanya.
Awalnya Ayu ingin tetap berada di Jakarta, tapi Risaka melarangnya. Ia mengatakan jika orangtuanya akan baik-baik saja, jika memang mereka sadar, maka Risaka yang akan menemaninya kembali ke Jakarta.
“dek kamu keliatan jelek banget tau difoto ini, liat deh”
“enggak kok, aku cantik tau”
“dari sudut mana coba kamu bilang cantik ?”
“hm... kalo gitu apus aja”
“eh…”
Mereka memang kembali beraktifitas, dan menerima materi kuliah. Tapi hal itu tidak berjalan baik bagi Ayu, sejak kejadian kecelakaan pesawat, ia menjadi pemurung dan pendiam.
Tak ada lagi keceriaan yang terlihat diwajahnya. Tak ada lagi tawa yang biasa Ris dan Ulfa dengar darinya. Seakan semuanya telah hilang begitu saja.
__ADS_1