
[Bandung, 05 Maret 2010]
(4 tahun yang lalu)
Seorang gadis sedang duduk disebuah kursi roda menatap sebuah buku catatan bersampul hijau dengan senyuman yang tak lepas dari wajah cantiknya. Sampai seorang pria paruh baya datang dan menyapanya.
“kamu lagi ngapain disini, teh ?”
“eh ayah, kapan ayah pulang kok Ulfa gak tau ?”
“gimana mau tau kalo kamu asik liatin buku ini”
“ikh ayah jangan”
“memangnya itu buku apa sampe kamu terus-terusan senyum liatinnya, hm ?”
“hehe... ini buku dari Beni, ayah”
Mendengar nama lelaki itu disebut membuat om Farhan langsung merubah ekspresinya menjadi tidak suka.
Yah, om Farhan memang tidak menyukai Beni yang noteben nya kekasih dari Ulfa, lantaran pemuda itu terus saja menyakiti hati putrinya.
Namun, karena cinta Ulfa memang tuluslah yang membuatnya buta akan sikap dan perlakuan Beni padanya.
Entah sudah berapa kali lelaki itu pergi meninggalkannya dan kembali hanya untuk mengobati rasa sakit dihatinya karena wanita lain, tetap saja Ulfa masih dengan setia menerimanya.
“emang gak ada laki-laki lain yang kamu suka selain Beni yah, nak ?”
Om Farhan bertanya dengan hati-hati berharap putrinya itu tidak salah faham. Beliau tahu benar sifat anak gadisnya itu. Ulfa memang penurut, tapi jika bicara mengenai Beni ia akan berubah menjadi gadis keras kepala yang tidak mendengarkan siapapun, termasuk ayahnya.
“hm… ayah tau kan, kalo Beni cinta pertama Ulfa. Mana bisa Ulfa lupain dia gitu aja”
“ayah tau nak, tapi apa kamu gak ingat perlakuan Beni terhadapmu tempo hari ?”
“Ulfa tau ayah, tapi seberapa besar pun kesalahan Beni, Ulfa bakalan terus maafin dia. Ulfa gak mau kehilangan dia ayah”
“lalu ayah, apa yang harus ayah lakuin nak. Gak mungkin ada seorang ayah yang mau liat anaknya disakitin sama laki-laki lain”
“tapi Ulfa sayang sama dia ayah”
“apa kamu gak sayang sama ayah ?”
“Ulfa masuk kekamar dulu yah”
“Ulfa…”
__ADS_1
Ulfa memutuskan untuk menyudahi pembicaraan yang nantinya akan membuat dirinya bingung harus memilih siapa, dengan pergi meninggalkan ayahnya diteras rumah.
Sudah dua tahun Ulfa menjalin hubungan dengan Beni dan tentu saja lebih banyak duka daripada sukanya. Tapi meskipun begitu, tetap saja Ulfa bertahan dan kembali pada lelaki yang jelas-jelas tidak mencintainya.
Lelaki itu hanya menginginkan ketenangan saat bersama Ulfa. Tidak ada cinta untuk gadis itu sama sekali didalam hati Beni. Karena lelaki itu hanya mencintai Vina, gadis lain yang sudah diincarnya selama ini.
Bahkan Vina itu adalah teman sekelas Ulfa. Beni memacari Ulfa hanya untuk tujuan mencari tahu mengenai Vina, karena gadis itu cukup sulit didekati.
Saat Ulfa masuk kedalam rumah, tante Sarah keluar karena mendengar kebisingan dari dapur. Beliau mencoba bertanya pada om Farhan apa yang terjadi sebenarnya.
“pembicaraan yang belum selesai sejak dua tahun lalu, bun”
“apa Ulfa masih berhubungan dengan laki-laki itu ?”
“sepertinya begitu”
“ayah tahu sendiri gimana perlakuan Beni pada Ulfa, dan ayah membiarkan hal itu terjadi ?”
“bunda tau sifat keras kepala Ulfa seperti apa kan”
“tapi tetap saja, yah”
“ah bunda sampe lupa, tadi bunda udah siapin makan siang buat ayah, masuk yuk”
“uhm… ayah jadi makin laper”
Akhirnya om Farhan dan tante Sarah mengakhiri pembicaraan mengenai perasaan putrinya, karena timming nya tidak tepat.
Jadi, ayah Ulfa adalah seorang guru agama disebuah madrasah tak jauh dari tempat Ulfa tinggal.
***
“ayah, beliin Kiki mainan baru dong”
“mainan kamu kan udah banyak, dek”
“ah bunda, itu loh mobil remot control pasti seru”
“jangan dibeliin yah, mainan dek Kiki udah banyak tau ntar rumah ini gak muat nampung semua mainannya”
“ikh, teteh sirik aja deh, emang kenapa kalo mainan aku banyak, lagian aku minta ke ayah bukan ke teteh. Bleee”
__ADS_1
“eh udah ah, gitu aja berantem, iya nanti ayah beliin, mau yang kaya gimana hm ?”
“yang truk yah”
“tapi dengan syarat adek harus juara satu, gimana ?”
“pasti deh selalu aja ada syaratnya”
“harus dong, jadi gimana ?”
“alah udah deh kalo gak bisa nyerah aja”
“eh siapa bilang aku gak bisa”
“jadi adek setuju sama syaratnya ?”
“ok”
“haha… pasti gak bisa deh”
“yah, liat teteh”
“teteh gak boleh gitu ah, harusnya kamu semangatin Kiki dong”
“hehe… iya deh”
Percakapan keluarga Ulfa saat berada diruang keluarga pada malam hari setelah makan bersama terasa begitu hangat.
Dimulai dari permintaan Kiki agar dibelikan mainan baru seperti teman-temannya. Dan seperti biasanya, selalu ada syarat sebelum om Farhan mengabulkan keinginan anaknya itu.
Beliau mendidik anak-anaknya supaya menjadi bijaksana dalam melakukan sesuatu, bukan tanpa sebab om Farhan mengajukan syarat seperti itu.
Hal itu semata-mata beliau lakukan agar Kiki berusaha lebih keras untuk meraih sesuatu, karena jika ia berhasil nantinya maka barang yang ia dapatkan akan dijaga dengan baik mengingat betapa susahnya ia mendapatkan hal tersebut.
Karena om Farhan percaya satu hal, suatu keinginan akan kita ingat dan kita jaga sebaik mungkin jika ada usaha dibaliknya.
Tentu saja, hal itu beliau tanamkan pada kedua anaknya. Tapi, beliau sangat menyayangkan perasaan Ulfa jatuh pada lelaki yang salah.
Sudah sangat jelas jika Beni hanya mempermainkan hati anaknya, tapi meskipun tahu yang sebenarnya seolah Ulfa menutup mata dan mengabaikan fakta yang sebenarnya.
Gadis itu sangat percaya bahwa cinta pertamanya akan menjadi cinta sejati dihidupnya.
****
__ADS_1