Tri Angel

Tri Angel
1. Mall


__ADS_3

***



“Tiyash, ibu sudah sangat bosan melihatmu dalam tiga bulan ini. Selalu dengan kasus yang sama, kapan kamu akan berhenti mengerjai kakak kelasmu”



“mereka yang mulai bu”



“sudah jangan banyak alasan, serahkan surat ini pada orangtuamu”



“bu, bisa gak jangan panggil orangtua saya. Biar saya aja yang nyelesaiin, ibu bebas deh kasih saya hukuman apapun”



“ibu sudah beberapa kali memperingatkanmu tentang hal ini. Dan tidak ada toleransi lagi. Sebaiknya kamu pulang sekarang dan sampaikan surat ini pada orangtuamu”



Tiyash jalan keluar dari ruangan BK dengan muka kusut, bukan karena ia akan mendapat hukuman tapi karena surat panggilan orangtua yang sedang saat ini sedang ia genggam. Tapi bukan Tiyash namanya jika ia tidak bisa mengatasi hal ini.



Gadis itu langsung melaju keluar gerbang sekolah dan membelah jalanan kota Jakarta yang macet menggunakan Honda Jazz merah miliknya. Orangtua Tiyash memang termasuk kelas menengah keatas, jadi tidak heran jika ia memiliki fasilitas yang cukup untuk gadis seusianya.



Bukannya memilih untuk pulang, gadis itu terus melaju menuju sebuah pusat perbelanjaan. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia memasuki gedung tersebut dengan girang. Tapi sebelum ia menentukan tujuannya, Tiyash memilih untuk masuk ke toilet.



Tak butuh waktu lama ia keluar dari toilet tapi menggunakan pakaian yang berbeda.



Jika sebelumnya ia memakai seragam ala anak SMA maka saat ini ia memakai sebuah dres putih dibawah lutut dengan pita dibelakangnya, rambut tergerai sebahu dan sepatu kets warna putih, sangat cocok ditubuhnya yang mungil.



Dengan gayanya yang seperti ini, tidak akan ada yang mengira jika ia masih dibawah umur.



Setelah persiapannya sudah selesai, ia langsung mencari lift dan menuju lantai teratas tempat dimana wahana paling menyenangkan berada.



“wah... ini nih yang gue butuhin sekarang”



Sampai diatas, Tiyash langsung masuk sambil berlarian kecil, seolah tidak sabar ingin mencoba semua wahana yang ada. Dimulai dari komedi putar.



“mba, satu tiket yah”



“tunggu sebentar yah”



Melihat senyum diwajahnya kali ini terlihat seperti tidak ada masalah apapun dalam hidupnya. Ia tertawa lepas meskipun hanya seorang diri. Tiyash memang selalu meninggalkan semua sikap nakalnya jika sedang berada ditengah wahana permainan seperti ini.



Terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang berwisata dan bergembira dengan temantemannya dengan menaiki komedi putar. Ia duduk diatas kuda yang seolah siap melaju. Tawa riang selalu menghiasi wajah imutnya itu.


__ADS_1


Setelah wahana terhenti, ia segera mencoba wahana lain seperti mobil-mobilan. Eits… bukan mobil-mobilan yang biasa dinaiki oleh anak lima tahun yah.



Meskipun hanya dilayar dengan menggunakan setir dan beberapa tombol replika, itu sangat mengasyikan seolah ia berada dalam arena balap yang nyata.



Ia mengemudikan setirnya dengan sangat lihai tanpa terserempet oleh lawan mainnya. Sampai waktunya habis ia memenangkan permainan itu. Dilanjutkan dengan bermain lempar bola basket kedalam ring yang sedang berjalan.



Usahanya kali ini sangat payah, karna tak ada satupun bola basket yang berhasil masuk, dan tentu saja ia tidak mendapatkan poin satupun.



“ah, kakak payah main basket. Lihat aku nih udah banyak cetak gol”



“kamu cuma beruntung, lihat nih”



Tiyash berusaha melempar beberapa bola lagi kedalam ring tapi tetap saja gagal, dan akhirnya ia ditertawakan oleh seorang anak kecil tepat didepannya.



“haha.. kakak kalah dan aku menang”



“kakak emang gak jago main basket, ok kamu menang”



“karna kakak kalah, ayo beliin aku es krim”




“iya, es krim. Disana”



“ok ok kita beli es krim”



Seorang anak laki-laki berumur sekitar 10 tahun berhasil membuat Tiyash mengalah dan membelikan apa yang diinginkan bocah itu. Tak lama anak itu dijemput oleh sang ibu, kembali seperti semula Tiyash sendirian ditengah keramaian.



“Fero, ayo kita pulang mamah udah pesen taksinya”



“ayo mah, kakak cantik aku pulang dulu ya, dadah”



“dah..”



“saya permisi”



“mari”



Tak ingin ambil pusing ia langsung berdiri distand boneka, dimana ia harus berupaya dengan keras supaya bisa mengambil salah satu dari tumpukan boneka didalamnya menggunakan kait yang tergantung.

__ADS_1



Dengan menggerakkan tuas begitu hati-hati, ia berhasil membidik satu boneka berukuran sedang, tapi saat ia akan mengarahkan tuas tersebut kejalan keluar, bonekanya justru terjatuh. Dengan begitu gadis itu harus mengulangnya dari awal.



Permainan ini sangat menguras emosinya, tapi jika ia berhasil mendapatkan boneka tersebut maka kemenanganlah miliknya. Dan boneka tersebut bisa dibawa pulang olehnya secara percuma, sebenarnya ia juga sudah membayar tiket jadi tidak bisa dikatakan percuma.



Entah sudah berapa kali ia mencobanya namun tetap tidak berhasil.



“kali ini harus berhasil, ya Allah bantu Tiyash yah”



Dengan memohon doa seadanya, ia berharap jika kali ini harus berhasil, karena ini adalah kesempatan terakhirnya.



Kali ini ia mencoba untuk mengambil boneka penguin yang berada didekat lubang dimana jalan keluar itu berada.



Ia mengukur sudut tuas dengan tempat boneka itu berada, setelah cukup tepat ia menekan tombol supaya tuas tersebut turun dan mengapit sasarannya.



Tepat sekali, boneka berhasil didapatkan, kini saatnya ia harus mengarahkan tuasnya sedikit lagi ke jalan keluar supaya ia bisa dinyatakan berhasil. Dan yaps, boneka itu keluar.



“akhirnya, kamu keluar juga penguin kecil. Sekarang kamu harus ikut sama aku, okay. Uhm kita main apa lagi yah ?”



Setelah menimbang-nimbang, Tiyash memutuskan untuk menutup acara nge-games nya hari ini dengan berdansa. Disanalah ia akan bermain sebelum pulang.



Gadis itu memasukan tiket pada sebuah tempat yang tersedia dibawah layar, tak lama pilihan lagu keluar lalu diikuti tokoh anime yang harus ia pilih sebagai sosok dirinya.



Setelah selesai, musik terdengar dan ia harus mengambil semua tanda berjalan yang muncul dilayar dengan menginjak beberapa tombol yang ada dikakinya dengan tepat sesuai arahan layar.



Semakin cepat tempo lagu berbunyi, maka semakin cepat gerakannya. Dengan sangat gesit ia mampu mengimbangi kecepatan tempo dengan langkah kakinya.



Setelah lagu berakhir, Tiyash turun dari tempatnya dengan sedikit keringat, ia segera memakai sepatunya dan pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa boneka penguin yang ia dapatkan tadi.



“hari ini cukup sampai disini petualangan kita, kapan-kapan kita lanjutin lagi, okay”



Seolah penguin tersebut hidup, ia terus saja mengajaknya bicara. Sampai dimobil ia meletakkan boneka itu disebelah bangkunya, tak lupa memakaikan sabuk pengaman pada penguin kecil itu. Sikapnya memang kadang tidak terduga.



****





__ADS_1


__ADS_2