
“kemana sih bocah itu ngilang, gak biasanya deh kaya gini”
“aku jadi khawatir deh sama dek Ay, Ris”
“aku juga khawatir sama dia Ul, mana di telfon gak diangkat-angkat lagi dari tadi”
“coba kamu telfon kerumah, siapa tau dia pulang duluan”
“ah ya kamu bener, bentar deh aku telfon rumahnya”
Ulfa dan Risaka terlihat sangat panik, karena dari tadi pagi sampai sore ini mereka belum melihat Ayu sama sekali, terakhir kali Ayu mengirim pesan bahwa ia sedang ada beberapa praktek hingga siang hari.
Tapi sampai sore datang, gadis itu belum juga memberikan kabar selanjutnya. Mereka takut terjadi apa-apa pada adiknya itu, karena tak biasanya Ayu tiba-tiba menghilang seperti sekarang.
“mbok Lastri bilang dek Ay belum pulang”
“apa dia ada kelas tambahan yah ?”
“gak mungkin Ul, hari ini dia cuma ada praktek sampe siang”
“terus sekarang dia dimana ?”
“itu kayanya Rian deh, mereka kan seangkatan kita tanya dia aja yah”
“ok deh”
Risaka langsung mendorong kursi roda Ulfa untuk mendekat kearah Rian. Dari jauh terlihat seperti ia sedang berdiri namun sebenarnya ia sedang memandang kesatu arah tanpa memerdulikan lingkungan disekitarnya.
Rian tersadar ketika Risaka menepuk bahunya.
“hey, Rian lo ngeliatin apaan, fokus amat”
“eh… kalian ada apa ?”
“lo liat dek Ay gak, dari tadi kita udah nyariin kemana-mana tapi gak ketemu”
“Yan, kasih tau kita kalo lo liat dek Ay, yah. Gue khawatir banget sama dia, masalahnya dia gak ada kabar sama sekali hari ini”
“Ayu. Dia tadi pulang duluan naik angkutan umum. Astaga, kak gue duluan yah, gue mesti nyusulin dia kerumah sakit”
“rumah sakit ?”
“eh tunggu-tunggu, maksud lo apa nyusulin dia kerumah sakit ?”
“tangan kanan dia cedera, gue gak tau pasti kenapa, tapi yang jelas harus segera di tanganin, kalo gak bisa fatal”
“apa !”
“trus kenapa lo gak nganterin dia, malah ngebiarin dia naek angkot”
“dia mana mau dengerin gue sih kak”
“udah deh daripada kalian berdebat gak jelas, mending kita susulin dia ke rumah sakit”
__ADS_1
“pake mobil gue aja, kak”
Mereka langsung berangkat kerumah sakit terdekat menggunakan mobil Rian. Tapi saat sampai disana, tidak ada pasien dengan nama Ayuningtiyash dirawat.
Lalu jika bukan rumah sakit yang terdekat dari kampus, rumah sakit mana yang dituju oleh Ayu.
Mereka memutuskan untuk pergi mencari kerumah sakit lain. Tapi saat mobil mereka meninggalkan IGD, justru Ayu melangkah memasuki IGD dengan perlahan. Sepertinya mereka tidak melihat Ayu saat itu.
Mereka tidak bertemu dengan Ayu itu sudah sangat jelas. Mereka pergi menggunakan mobil pribadi sedangkan Ayu angkutan umum, jelas lebih cepat mereka sampai kerumah sakit.
Tapi karena mereka terbawa perasaan dan akhirnya menjadi tidak sabaran inilah hasilnya. Berselisih temu.
Ayu datang ke IGD mendaftarkan diri dan segera mendapatkan pertolongan pertama.
Ternyata memang benar jika lengannya mengalami dislokasi, jika saja ia terlambat datang kerumah sakit, mungkin Ayu akan kehilangan sirkulasi dan akan menyebabkan hal yang lebih fatal lagi.
“untuk sementara tangan anda kami gips, dan jangan terlalu banyak menggerakkan tangan kanan anda selama beberapa hari”
“baik dok”
“kalau begitu saya permisi”
“iya dok, terimakasih”
Setelah kepergian dokter, Ayu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pak Kus. Untuk menjemputnya di rumah sakit.
Sampai dirumah mbok Lastri sudah menyiapkan beragam pertanyaan.
“ya Allah non, tangan non kenapa ?”
“gak apa-apa gimana, tangan non sampe diperban gini. Bilang sama mbok kenapa bisa sampe kaya gini ?”
“aku gak apa-apa mbok, tadi dikampus aku kepeleset ditoilet trus tangan aku jatoh duluan ketimpah badan aku, jadi agak keseleo dikit”
“kalo cuma keseleo kenapa harus diperban gini non”
“biar cepet sembuh mbok”
“yaudah, sekarang lebih baik non istirahat dikamar yah”
“iya mbok”
Sampai dikamar, Ayu membersihkan diri dan merebahkan diri dikasur, berniat ingin tidur sebelum semua bayangan yang terjadi dikampus hari ini terlintas dipikirannya.
*“lo gak denger kalo tangan lo bisa aja dislokasi, udah deh diem aja kenapa sih”
“mending sekarang lo telfon pak Kus, dan lepasin gue. Gue bisa pulang sendiri, Rian”
“lo bisa liat gak kalo gue khawatir sama lo, Ay”
__ADS_1
“mereka bener, Rian itu cocoknya sama gue. Tapi entah apa yang udah lo lakuin sama dia sampe-sampe dia lebih suka sama lo daripada gue”
“oh jadi lo yang direbutin sama cewek tadi sampe mereka nyiksa Tiyash kaya gini, lumayan sih, wajar lah kalo lo jadi rebutan, tapi cowok kaya dia yang lo taksir, Yash?, astaga!”
“Ay, GUE SUKA SAMA LO”*
Kata-kata Rian masih saja terngiang-ngiang dikepala Ayu, hingga ia merasa pusing dan memutuskan untuk tidur.
Sementara teman-temannya sibuk keluar masuk rumah sakit mencari keberadaannya, sampai mereka mendapat kabar bahwa Ayu sudah pulang.
Mereka langsung menuju ke kediaman Ayu untuk melihat kondisinya saat ini.
“mbok, dek Ay dimana sekarang”
“non Tiyash lagi istirahat dikamarnya, non”
“saya keatas yah mbok”
“silahkan, den”
Rian langsung pergi kekamar Ayu setelah mendapat persetujuan mbok Lastri, sedangkan Risaka yang ingin menyusulnya ditahan oleh Ulfa.
Dia memberi kode untuk membiarkan Rian melihat kondisi Ayu. Jika ia ikut bisa-bisa istirahat gadis itu terganggu.
Dikamar Ayu, Rian terlihat berjalan mendekat ke kasur kemudian duduk ditepi kasur sambil memerhatikan gips ditangan kanan milik gadis yang begitu ia sukai.
Setelah lama melihat balutan perban pada tangan gadisnya, kini ia beralih melihat wajah Ayu.
Wajahnya begitu polos saat ia tertidur, tapi sangat berbeda jika ia terbangun. Bisa saja Rian ditelan hidup-hidup karena telah berani memasuki kamarnya tanpa izin dari gadis itu.
Rian tersenyum simpul membayangkannya. Lalu ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh rambut yang menutupi wajah Ayu.
Betapa sangat, ia menyukai gadis dihadapannya ini, tapi gadis itu begitu tak acuh terhadap perasaannya, meskipun ia sudah mengetahui bagaimana perasaan Rian yang sebenarnya hari ini, tetap saja ia pergi meninggalkannya sendirian.
__ADS_1