
“bunda...”
Belum sempat Risaka menyelesaikan ucapannya, dokter lebih dulu keluar dari ruangan dan ingin memberitahu keadaan Kiki saat ini.
Tante Sarah langsung menghampiri dokter tersebut. Sedangkan Ulfa hanya bisa berdiam ditemani Risaka disana.
“gimana keadaan anak saya, dok ?”
“anak ibu mengalami benturan yang cukup keras didadanya, dan hal itu menyebabkan adanya pendarahan didalam”
“a-apa dok”
“lalu gimana kondisinya saat ini, dok ?”
“syukurlah kami bisa mengatasi pendarahan tersebut, dan sekarang kondisi pasien sudah stabil. Kami akan segera memindahkannya ke kamar pasien, karna pasien harus tetap dirawat dirumah sakit selama beberapa hari untuk pemulihan”
“oh syukurlah kamu gak apa-apa nak, bisa saya bertemu anak saya dok ?”
“setelah dipindahkan kekamar pasien, ibu bisa menemuinya”
“terimakasih dok”
“kalau begitu saya permisi”
“iya dok, silahkan”
Mendengar penjelasan dokter, membuat perasaan lega dihati tante Sarah, begitu juga Ulfa dan yang lainnya.
Ayu pergi sebentar untuk menemui pak Sudi. Tante Sarah mengikuti suster untuk memindahkan Kiki kekamar rawat.
Sedangkan Ulfa, ia kembali mengurung diri dan pergi dari IGD diikuti dengan Risaka yang selalu setia menemaninya.
Ayu sendiri harus memberitahu pak Sudi bahwa kondisi Kiki sudah stabil, jadi beliau tidak perlu khawatir dan bisa pulang untuk istirahat.
Setelah menyampaikan berita baik tersebut, Ayu kembali ke IGD untuk menemui Ulfa, tapi tak ada orang disana. Ia mencari kekamar Kiki, hanya ada tante Sarah.
Ayu sempat kebingungan mencarinya. Ia mencoba menghubungi Risaka tapi tidak dijawab.
Ayu terus mencari kesana kemari, tapi setelah dipikirkan, tempat yang paling mungkin didatangi oleh Ulfa adalah taman rumah sakit. Dan benar saja, saat ia sampai disana, Ayu menemukan orang yang dicarinya.
Ia melangkah perlahan untuk mendekati kakaknya itu. Kata-katanya terdengar samar namun sangat jelas jika ia sedang menangis.
Risaka yang ada disebelahnya hanya bisa memeluknya agar gadis itu bisa lebih kuat dan tegar.
“bunda bener, Ris. Aku emang anak yang gak berguna. Aku cuma bisa nyusahin bunda sama dek Kiki aja”
“itu gak bener Ul”
“itu semua bener, Ris”
__ADS_1
“denger yah, kamu emang punya kekurangan, tapi liat kedalam diri kamu sendiri, kamu masih punya kelebihan yang orang lain gak punya”
“aku tau kamu cuma mau ngehibur aku”
“apa yang dibilang sama kak Ris itu bener, kak. Dibanding kekurangan yang kakak punya, kakak lebih punya banyak kelebihan”
“apapun yang kalian omongin, tetep aja kecelakaan itu terjadi karna aku gak berguna”
“kalo aja tadi kakak gak teriak minta tolong, mungkin aku gak akan bisa tau kalo Kiki lagi butuh pertolongan kak. Kakak tau kan kalo aku bakalan lama banget kalo harus turun dari mobil”
“Ul, berenti nyalahin diri kamu sendiri atas kejadian ini. Ini semua bukan salah kamu”
“kejadian yang sama juga pernah terjadi empat tahun lalu, bedanya waktu itu ayah yang jadi korban, dan sekarang adek ku sendiri”
“kak, inget satu hal. Ini semua takdir dari Tuhan buat kehidupan kakak. Kalo kakak terus-terusan nyalahin diri kakak atas kejadian yang udah lalu, itu sama aja kakak ngelawan kehendak Allah. Dan itu sama aja dosa besar kak”
“dek, kamu tumben pinter ?”
“kak Ris”
“ok ok”
Dalam keadaan seperti ini saja, Risaka masih sempat mengejek sikap Ayu yang tiba-tiba menjadi dewasa. Dan Ayu yang merasa ini bukan saatnya untuk mendebatkan hal itu merasa kesal pada gadis berkuncir satu tersebut.
“hey.. ini semua takdir hidup kamu, akan selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa dan takdir yang udah digariskan buat kamu, itu semua harus diterima dengan lapang dada”
“tapi kenapa selalu takdir buruk yang nimpa aku”
“gak selalu buruk kak, kakak gak inget takdir baik selalu ada disekeliling kakak”
“emang kehadiran aku sama dek Ay, gak kamu anggep baik yah Ul ?”
“bener juga, emang selama ini kakak anggep aku sama kak Ris itu takdir buruk buat kakak ?”
Mendengar apa yang dikatakan oleh kedua sahabatnya itu membuat Ulfa terdiam sejenak dan berpikir apa yang mereka katakan memang benar. Dan mereka juga sudah tahu pasti, kehadiran mereka bukanlah takdir buruk bagi seorang Ulfa Abdi Raya.
Hanya saja mereka mengatakan itu untuk membuat Ulfa merasa lebih tenang dan terhibur akan kata-kata mereka.
“tapi, Ul. Kalo kamu nganggep dek Ay itu takdir buruk buat kamu sih gak apa-apa yah, aku ikhlas malah”
“ikh kakak, dari tadi yah masih aja coba ngejekin aku”
“yee.. emang bener tau, yakan Ul”
“kak Ul, liat tuh kak Ris selalu aja ngejek aku”
“hm… kalian ini yah selalu aja bisa buat aku ketawa di situasi kaya gini”
__ADS_1
“nah gitu dong, kakak itu lebih cantik kalo ketawa”
“ah... kamu inget gak dek, Ulfa kan emang selalu ketawa kalo kamu di bully, dulu waktu pertama kali kita ketemu juga gitu kan”
Ayu mencoba mengingat kejadian di rumah sakit Jakarta lima tahun yang lalu, saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“kakak tadi kenapa ada dijalan, kakak lagi nungguin siapa ?”
“hey bocah, satu satu nanyanya. Dia bisa bingung nanti”
“ok ok, kakak tadi lagi ngapain disana ?”
“kamu kesasar atau lagi nyari apa ?”
“tadi aku yang disuruh nanya satu satu, sekarang kakak yang lebih banyak nanya dari aku”
Setelah berhasil mengingatnya, Ayu tersenyum. Saat itu ia masih sangat dibawah umur dan sudah membuat Risaka merasa kesal padanya, dengan mengatainya bawel.
“kalo gitu, aku rela dibully deh buat kak Ul ketawa, daripada nangis kaya tadi”
“nah, bener banget dek, kamu emang cocoknya dibully”
“eh.. kalo aku dibully enak di kakak dong, punya kesempatan lebih banyak buat terus-terusan ngejek aku”
“bener banget”
“gak jadi deh”
“loh katanya tadi mau buat kakak ketawa rela di bully”
“iya tadi sih niatnya kaya gitu, tapi gak jadi deh ntar bisa-bisa aku tinggal nama”
“haha”
“haha...”
Dan sebagai akhir dari percakapan yang cukup panjang. Tawa riang mewakili suara hati mereka. Selalu saja ada pengorbanan disetiap takdir yang sudah Tuhan siapkan untuk masing-masing manusia itu sendiri.
Kita hanya perlu menghadapinya dengan tegar, entah apa yang akan terjadi nantinya.
Jika kita menjalani semua itu dengan ikhlas, maka semuanya akan berjalan layaknya air yang mengalir dari ketinggian menuju titik terendah bumi.
Inti dari semua kejadian ini adalah, semua akan indah pada waktunya.
****
‘seperti layaknya hujan tanpa air, mustahil. Begitulah terjadinya kebahagiaan melalui air mata. Ulfa.’
__ADS_1