
***
[Bandung, 07 Maret 2010]
“Ulfa, bantuin bunda didapur dulu nak”
“iya bunda, sebentar”
Tante Sarah memanggil Ulfa untuk membantunya memasak makan malam didapur. Ulfa yang sedang belajar untuk tes perguruan tinggi itu langsung menghentikan aktifitasnya dan menghampiri sang ibu.
“bunda mau masak apa ?”
“uhm… enaknya apa ?”
“ayam kecap enak deh bun”
“masa iya ?”
“beneran”
“yaudah kamu siapin bumbunya, bunda mau bersihin ayamnya dulu”
“beres”
Ayam kecap adalah salah satu makanan kesukaan adiknya, Kiki.
Meskipun Ulfa terlihat sering bertengkar dengan adiknya itu, tapi sebenarnya ia sangat menyayanginya.
Bertengkar adalah hal yang wajar bagi adik juga kakak, tentu saja hal itu tidak akan mengurangi kasih sayang antar keduanya.
Sedang asyik Ulfa menyiapkan bumbu, tante Sarah mencoba untuk memulai obrolan mengenai hubungan putrinya itu dengan Beni.
“teh”
“ya bun ?”
“kamu masih sama Beni ?”
“hm…”
“kalo menurut bunda, dia itu bukan lelaki yang baik, teh”
“dia baik bunda”
“lelaki baik macam apa yang ninggalin kamu berkali-kali demi perempuan lain, nak ?”
“tapi akhirnya dia kembali lagi sama Ulfa”
“kamu tau itu bukan cinta”
“dia cinta sama Ulfa bunda”
Tante Sarah mencoba untuk menahan perasaannya, ia tidak boleh emosi disaat seperti ini. Bisa-bisa pembicaraan ini selesai tanpa jalan keluar.
Beliau mencoba untuk menenangkan diri dengan menarik nafas perlahan, dan mulai pembicaraan kembali.
“kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti apa itu cinta, Ulfa”
“karna itu aku sebut ini cinta, bunda”
“nak, kamu gak bisa terus-terusan nyiksa diri kamu sendiri demi laki-laki itu”
__ADS_1
“teteh baik-baik aja bunda, asalkan bisa terus sama dia”
“tapi bunda sama ayah gak rela kalo anak kami disakitin sama orang lain”
Ulfa menghela nafas dan menghentikan kegiatannya mengiris cabai lalu mengalihkan pandangannya pada sang ibu yang sedang mencuci ayam diwastafel.
Tidak bisa dipungkiri memang jika hatinya sangat sakit atas perlakuan Beni padanya, tapi ia juga tidak bisa kehilangan lelaki itu.
“Ulfa baik-baik aja bunda”
“kenapa kamu keras kepala disituasi yang kamu sendiri tau kebenarannya ?”
“Ulfa cuma nyoba untuk bertahan sama komitmen yang udah Ulfa buat sebelumnya, bunda”
“komitmen yang selalu buat kamu jadi gadis bodoh, yang terus menerus nerima lelaki yang udah jelas-jelas meninggalkan kamu”
“bunda, kita udahin obrolan ini yah”
“mau sampe kapan kamu terus menghindar, Ulfa ?”
“Ulfa capek bunda, maaf Ulfa gak bisa bantuin bunda”
“Ulfa, bunda belum selesai bicara”
Lagi-lagi Ulfa pergi tanpa menyelesaikan pembicaraannya dengan tante Sarah.
Inilah salah satu alasan mengapa ibu dan anak itu tidak bisa berdamai dan selalu bertengkar. Sebenarnya, keinginan tante Sarah hanyalah melihat anaknya bahagia. Tapi hal itu berarti lain bagi Ulfa.
***
Kepergian Ulfa tadi membuat tante Sarah harus menyelesaikan pekerjaannya seorang diri.
“teteh, makan malem dulu yuk, bunda udah nyiapin tuh”
“Ulfa gak laper yah”
“hey, anak gadis ayah kenapa hm ?”
“gak kenapa-napa kok yah, lagi fokus belajar buat tes bulan depan aja”
“belajar itu emang penting, tapi kesehatan juga lebih penting loh, makan dulu yuk”
“yaudah ayah duluan nanti teteh nyusul, Ulfa mau beresin buku ini dulu”
“yaudah ayah tunggu ya”
Ulfa hanya tersenyum simpul melihat ayahnya keluar dari kamar. Ia segera membereskan beberapa buku yang tadi sedang ia baca dan menyusul ayahnya keruang makan, sebelum ia kembali melihat pesan yang ada dilayar ponselnya.
“baiknya aku nemuin setelah makan malam”
Gumam Ulfa sebelum beranjak menuju ruang makan. Sampai disana, suasana canggung dirasakan olehnya ketika melihat sang ibu menatapnya.
Pembicaraan didapur tadi membuatnya sedikit kesal pada tante Sarah, ia merasa bahwa ibunya tidak pernah mengerti perasaannya.
Selama makan malam, Ulfa hanya diam dan menikmati makanannya. Dan saat selesai ia langsung meninggalkan ruang makan untuk kembali kekamar. Tapi, om Farhan sepertinya menyadari sesuatu. Beliau segera menyusul putrinya itu.
“kamu berantem lagi sama bunda, hm ?”
“gak ada apa-apa kok, yah”
__ADS_1
“kalo gak ada apa-apa kenapa kamu diem aja”
“Ulfa cuma capek, lagian kan kalo makan gak boleh sambil ngobrol ayah”
“iya ayah tau, tapi gak harus sehening itu”
“hm… ayah”
“ada apa ?”
“apa Ulfa boleh keluar sebentar ?”
“kemana ?”
“nemuin temen”
“malam-malam begini”
“iya soalnya dia bisanya cuma malam ini”
“jangan malam ini yah, nak”
“loh kenapa ayah, apa ayah gak percaya sama Ulfa ?”
“bukan begitu, kamu gak liat tuh langit udah mendung gerimis pula”
“tapi Ulfa bisa jaga diri kok yah, beneran”
Sekeras apapun ayahnya melarang, gadis itu tetap saja berusaha untuk mendapatkan izin dari om Farhan.
Tapi kali ini om Farhan tidak mengalah sama sekali pada putrinya, ia tetap tidak membolehkan Ulfa untuk keluar. Selain memang akan turun hujan, om Farhan tahu bahwa teman yang akan ditemui oleh anaknya adalah Beni.
Yah, om Farhan mengetahui hal itu saat ia berniat memanggil putrinya sebelum makan malam. Beliau mendengar percakapan putrinya dengan seseorang yang ia yakini adalah Beni di telfon.
“kamu mau ketemu aku malem ini, tapi kenapa mendadak ?”
“… … …”
“kamu kenapa, ada masalah apa ?”
“… … …”
“yaudah, kamu mau ketemu dimana, smsin alamatnya yah, oke”
Tepat setelah Ulfa menutup telfonnya, om Farhan masuk dan memanggilnya. Dan kini, om Farhan berusaha untuk mencegah anaknya itu untuk pergi, karena beliau mempunyai feeling bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk nanti.
Untuk saat ini Ulfa menuruti perintah ayahnya. Namun, ia masih saja bimbang dengan keputusannya. Ia sudah berjanji pada Beni untuk menemuinya, tapi ayahnya juga melarangnya untuk keluar. Itulah mengapa saat ini Ulfa bergerak maju mundur dan terlihat sangat gusar.
“apa aku pergi diem-diem aja yah, bentar lagi pasti ayah udah tidur”
Seperti itulah rencananya, ia tetap akan pergi menemui Beni dan melanggar perintah ayahnya untuk pertama kalinya. Hujan turun dengan deras diluar, malam juga semakin larut. Dan sepertinya orangtuanya sudah tertidur. Ulfa membuka pintu kamarnya perlahan dan mendorong kursi rodanya menuju pintu utama.
“maafin Ulfa ayah, kali ini aja Ulfa gak nurut sama ayah ya”
Ulfa bergumam sebelum meninggalkan teras rumahnya dan pergi ketempat yang Beni pinta.
Tapi saat sampai disana ia melihat sesuatu yang tidak asing. Seorang gadis sedang berdiri dengan pria yang ia kenal, mereka terlihat sangat dekat. Untuk memperjelas penglihatannya, Ulfa mendorong kursi roda nya untuk mendekat.
“Beni”
__ADS_1
****