
[Bandung, 05 Februari 2014]
Karena hari ini Ayu, Risaka dan Ulfa hanya ada jadwal kelas dipagi hari, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dirumah Ulfa. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali mereka menghabiskan waktu disana.
“pak Kus, hari ini kita kerumah Ulfa yah”
“uhm... pak sebelum kerumah kak Ul, mampir ke minimarket bentar yah”
“siap non”
“mau ngapain kamu ke minimarket dek ?”
“biasa Ul”
“kita kan udah lama gak kesana, jadi harus bawa sesuatu yang enak”
“kali ini kamu mau apa hm”
“ekhem... aku inget kalo seblak buatan bunda tuh enak banget, jadi aku mau bikin disana nanti”
“huuu... dasar nih bocah atu gak bisa lepas dari makanan”
“haha... biarin”
“udah gak apa-apa Ris, tangan dia kan lagi luka jadi baik-baikin aja dulu”
“haha... bener kamu Ul”
“jadi kalian baik sama aku cuma karna tangan aku sakit. Huaaaa… pak Kus liat deh aku dibully sama mereka, pak Kus gak mau belain aku ?”
“haha... pak Kus diem aja deh non”
“haha... kasian deh loh gak ada yang bela”
“kalian semua jahat sama aku, aku tuh gak bisa diginiin”
“haha...”
Rasanya sudah lama Risaka dan Ulfa tidak mendengar gelak tawa dari Ayu. Yah karena masalah yang melibatkan Karin dan teman-temannya itu menyebabkan mereka sempat berpisah dan tak saling mengabarkan.
Sampai di minimarket, Ayu langsung berlarian kecil menuju ke stand bahan dapur, Risaka dan Ulfa hanya tersenyum simpul melihat tingkah gadis itu.
Risaka membawa keranjang berisikan bahan-bahan, Ulfa mengikuti Ris disampingnya sedangkan Ayu masih terus berlarian seperti anak kecil.
Saat Ayu melihat semangka, betapa bahagianya ia seperti sedang melihat tumpukan uang disana.
Dari sekian banyak buah, Ayu memang sangat menyukai semangka. Tanpa pikir panjang ia langsung mengambil satu buah semangka berukuran besar dan membawanya untuk ditimbang lalu di pasang label price.
Tak hanya semangka ia juga mengambil beberapa buah seperti apel, jeruk, pisang, juga kelengkeng. Tapi saat melihat Risaka membawa sebuah melon dan meletakkannya kedalam keranjang, ia merasa kesal.
“kakak, ini gak usah”
“kenapa gak usah ?”
“aku gak suka”
“tapi kakak suka, kak Ul juga suka kok, yah kan Ul ?”
“hm...”
“aku gak suka, gak suka”
“kan kakak yang mau makan bukan kamu”
__ADS_1
“tapi awas yah sampe kalian ngerjain aku kaya dulu”
“haha... iyah janji”
“kak Ul mau apa ?”
“rambutan”
“kakak, yang bener aja”
“itu artinya dia mau cepet pulang kerumah, didepan rumahnya kan ada rambutan”
“oh iya, ok deh kayanya semua bahannya udah ada. Kita pulang sekarang”
Mereka melanjutkan perjalanan pulang kerumah Ulfa setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan di minimarket.
“hm... kira-kira bunda lagi ngapain yah dirumah ?”
“lagi masak”
“sok tau deh”
“yang pasti lagi ngerjain sesuatu”
“pasti nanti bunda kaget liat aku dateng terus seneng karna aku bawain semangka”
“emang dikira kamu, bunda maniak semangka”
“haha siapa tau”
Mereka selalu saja mendebatkan sesuatu yang sepele seperti sekarang. Tapi justru dari hal sepele itu keceriaan muncul.
Bahkan pak Kus pun ikut tersenyum melihat nona mudanya begitu bahagia berada diantara kedua kakaknya.
Saat sampai dirumah, mereka melihat ada mobil lain yang terparkir dihalaman rumah Ulfa, tapi siapa.
“kayanya ada tamu, Ul”
“kita turun aja deh”
“bunda, Ay bawa bahan buat bikin se...blak”
“eh lagi ada tamu ternyata”
“kalian dateng, sini masuk”
“bunda, Ay bawa semangka buat bunda”
“wah, makasih loh sayang”
“bun, mereka siapa ?”
“oh iya bunda lupa, Ulfa, Risaka, Ay kenalin ini om Dimas dan tante Ica, dan disebelahnya ada anak mereka, Irsyan. Mereka dateng kesini untuk menjodohkan Irsyan sebagai calon suami Ulfa”
“jodoh ?”
“calon suami ?”
“Ulfa ?”
Ayu, Risaka serta Ulfa pun mempertegas apa yang baru saja mereka dengar secara bergantian.
Sulit dipercaya jika ibu Ulfa sudah mencarikannya jodoh secepat ini. Sepertinya keluarga Dimas kebingungan, pasalnya tante Sarah hanya menyebutkan bahwa ia memiliki satu putri.
“hm mereka ini siapa yah ?”
__ADS_1
“ah ya, saya hampir lupa, ini Ayu dan itu Risaka, mereka ini sahabat dekat Ulfa sejak dulu jadi sudah saya anggap seperti anak sendiri”
“Ayu om, tante”
“saya Risaka”
“bunda, Ulfa mau bicara sebentar”
“mau kemana, kamu gak sopan ah”
“sebentar yah om, tante”
“oh iya silahkan”
“bunda apa-apaan sih, kenapa gak bilang dulu sama Ulfa kalo ada acara kaya gini, lagian Ulfa udah gede bunda, gak perlu lah pake dijodohin segala”
“apa yang salah dengan perjodohannya, Ulfa. Mereka juga udah menerima kamu apa adanya seperti sekarang, yang jelas mereka itu berasal dari keluarga baik-baik”
“jadi karena aku bergantung sama kursi roda, itu sebabnya bunda selalu ngeremehin aku, iya bun ?”
“Ulfa. Kamu gak pantes bicara seperti itu sama bunda”
“terus aku harus gimana bun ?”
“bunda cuma mau mencarikan calon suami yang terbaik buat kamu, itu aja”
“dengan cara perjodohan ini”
“bunda kenal baik sama mereka”
“tapi aku sama sekali gak kenal sama mereka bunda”
Disaat Ulfa berdebat lagi dengan ibunya, Ayu menyenggol Risaka dan berbicara tanpa suara pertanda ia bingung harus melakukan apa saat ini. Mereka terus memaksakan senyum dihadapan keluarga calon suami Ulfa.
“hm... om, tante silahkan diminum teh nya”
“iya... iya...”
“sebentar yah om, tante”
“oh iya silahkan”
Mereka berdua memutuskan untuk menemani tamu tersebut, dan segera memotongkan semangka yang telah mereka beli sebelumnya. Lalu kembali keruang tamu sambil menunggu perdebatan antara ibu dan anak itu selesai.
“om, tante silahkan dicicipi semangkanya”
“itu kak siapa, umm duh Ay lupa...”
“Irsyan”
“ah iya kak Irsyan silahkan dimakan semangka nya, kak Ul nya lagi didalem, tunggu bentar yah, ngobrol sama kita aja dulu”
Ayu dan Risaka berusaha untuk menghilangkan ketegangan diruangan tersebut. Sambil terus menunggu tante Sarah dan Ulfa keluar.
“bunda, Ulfa mohon berenti khawatir dengan hal-hal yang belum terjadi, lagian kuliah Ulfa juga belum selesai gimana Ulfa bisa nikah”
“selesaikan kuliah kamu setelah menikah kan bisa”
“lalu gimana sama perasaan Ulfa, bun. Apa bunda pernah mikirin perasaan Ulfa ?”
Bagai disambar petir, tante Sarah seperti membeku ditempat setelah mendengar pertanyaan dari putri sulungnya itu.
Apa yang dikatakan oleh Ulfa menjadi koreksi tersendiri bagi tante Sarah.
__ADS_1
‘melakukan tindakan demi seseorang tanpa persetujuannya meskipun demi kebaikannya adalah salah satu tindak kejahatan. Ulfa.’