Tri Angel

Tri Angel
8. Aku Jatuh Cinta


__ADS_3

**



“Ulfa, liat tuh adek kamu, masih kecil tapi ngaku udah gede”



“kalian kenapa lagi sih ?”



“liat kak Ris tuh kak, masa dia ngejekin aku anak kecil, aku kan udah jadi mahasiswi disini, aku udah gede tau”



“liat deh Ul, masa diejek anak kecil aja dia ngambek”



“eh eh udah ah. Dek Ay, kalo kamu ngerasa bukan anak kecil ngapain harus marah”



“tuh bener kan kata kakak”



“kamu juga Ris, gak baik tau ngegodain dek Ay terus, dia udah jadi mahasiswi masa iya masih dibilang anak kecil”



“tuh dengerin kata kak Ul”



“Ul, kamu belain dia ?”



“iya dong, kak Ul kan sayang sama aku, gak kaya kakak bleee”



“dek Ay ikh”



“tapi yang dibilang Risaka ada benernya sih, kamu emang masih kecil, dek”



“what.. kak Ul kok gitu sih, kenapa jadi belain kak Ris ?”



“haha.. kasian deh loh”



Itulah mereka, mempunyai kekurangan masing-masing namun saling melengkapi.



Seperti Ayu yang selalu ceria dan cerewet, membuatnya menjadi pribadi yang periang diantara mereka bertiga, sifat nakal nya masih selalu menemani hari-harinya, dan hal itulah yang membuatnya selalu bertengkar disetiap kesempatan dengan Risaka.



Mereka sudah seperti Tom and Jerry tiap kali bertemu.



Sosok Risaka yang mandiri dan pekerja keras juga menambah suasana kehidupan mereka menjadi lebih menarik lagi. Dan juga ia memiliki satu sifat yang tak berbeda jauh dari adiknya itu, banyak tanya.



Kalian pasti ingat kejadian di RS saat mereka pertama kali bertemu, disana Ris lah yang banyak bertanya dibandingkan dengan Ayu.



Dan terakhir ada seorang Ulfa yang mempunyai sifat pendiam juga pemaaf namun terkesan dingin. Kebanyakan orang menganggapnya sombong saat mereka pertama kali bertemu dengannya.



Tapi hal itu tidak berlaku untuk Risaka dan juga Ayu.



Bahkan mereka terlalu banyak bicara saat pertama kali bertemu, Ulfa yang biasanya tidak begitu peduli dengan orang disekitarnya, menjadi begitu ingin tahu siapakah mereka ini.



Tapi dibalik sikap dinginnya, ia begitu bijaksana.



Hal itu terlihat dari caranya melerai keributan yang dibuat oleh dua orang sahabatnya itu.



Tapi tak andil juga jika ia memihak salah satu, ia selalu saja bisa memanfaatkan keadaan untuk sekedar mengejek adiknya yang super cerewet itu. Malah terkadang ia sering kali plin-plan dengan keputusannya dalam membela Ris atau sibawel Ayu.



Jika kita melihat penilaian mereka berdua dari sudut pandang Ayu, maka kalian akan melihat betapa Ayu sangat tersiksa harus menerima bully-an dari kedua orang yang sayangnya sangat berarti untuk dirinya.



Mereka selalu saja mengejek Ayu disetiap kesempatan yang mereka temukan. Tapi sepertinya kali ini, keadaan berpihak pada gadis itu.



“hay, Risaka”



“eh, kak Andi. Hay kak”



“lo ngapain disini, gak ada kelas ?”



“a-ada kok kak, bentar lagi juga masuk kok”



“oh ok, gue duluan yah”


__ADS_1


“i-iya kak”



“tuh orang buta kali yah, kita juga ada disini kan kak Ul, bisa-bisanya dia cuma nyapa kak Ris doang”



“hmm.. kenapa dia harus ganteng banget sih”



Disaat Ayu mengomel pada Andi atas tindakan yang menurutnya tidak adil barusan, Risaka justru memujinya dihadapan kedua temannya itu.



“kamu bilang apa barusan, Ris ?”



“dia ganteng. Kak Ul, kak Ris bilang kalo kak Andi ganteng”



“eh enggak kok apaan sih”



“Ris, aku sama dek Ay masih belum tuli yah”



“kak Ris suka sama kak Andi yah ?”



“astaga dek, kakak kamu ini lagi jatuh cinta”



“wah... ini berita besar”



“eh... eh... apaan sih”



“udah deh, mending jujur aja sama kita”



“udah ah, aku ada kelas, aku duluan yah. Dah”



“eh... eh... kak Ris, nanti aku sama kak Ul, tagih perasaan kakak abis selesai jam”



Seolah telah dipergoki melakukan kesalahan, Risaka berusaha menghindari kedua temannya itu dengan menggunakan jam kuliah sebagai alasan yang paling tepat. Bukan Ayu namanya jika tidak bisa membuat Ris bicara jujur.



***




“nah, sekarang kakak gak bisa lari lagi dari kita”



“maksudnya apa ?”



“udah deh mending sekarang kamu ikut kita”



“ayok”



“eh.. eh.. mau kemana ?”



Disebuah kursi panjang tepat dibawah pohon yang lumayan rindang inilah Risaka dibawa dan di dudukkan seperti seorang terdakwa yang menunggu keputusan sidang.



Ayu berdiri dan melangkah bolak-balik seperti orang yang sedang menginterupsi, sedangkan Ulfa hanya memerhatikan mimik wajah Risaka.



“kenapa tiba-tiba bahas Andi ?”



“udah deh, aku tau kalo kakak suka kan sama kak Andi”



“jujur aja sama kita, Ris”



“iya deh, aku ngaku. Aku emang ada rasa sama dia”



“nah, bener kan”



“tinggal bilang aja sama kita kenapa sih, Ris”



“tapi aku ngerasa gak pantes aja sama dia”



“kenapa kamu mikirnya gitu ?”



“dia kan anak orang kaya, sedangkan aku apa, keluargaku banyak hutang”

__ADS_1



“eh.. apa-apaan itu tadi, ini gak ada hubungannya sama kondisi keuangan keluarga kakak yah”



“ya jelas ada lah, dek”



“tapi kamu gak seharusnya nyerah diawal dong, Ris”



“terus aku harus gimana, udah jelas banget perbedaan status kita, gak mungkin juga dia bisa suka sama aku”



“kalo emang nyatanya dia bisa cinta sama kakak, harusnya gak ada masalah dong apapun keadaan keluarga kakak, bener kan kak Ul ?”



“yang dibilang dek Ay itu bener, Ris. Cinta itu gak mandang apa dan siapa, yang penting hatinya”



“wow.. pakar cinta kita mulai bicara”



“iya nih Ul, kamu udah kaya guru cinta tau gak”



“eh tapi emang pas kan, kenapa gak kakak sekalian ambil jurusan cinta buat selingan guru SLB, ya gak kak Ris”



“haha, bener tuh”



“haha.. gak lucu”



Begitulah mereka, selalu ada saja tingkahnya, sebenarnya mereka ingin selalu menyemangati satu sama lain, tapi yang muncul justru ejekan demi ejekan untuk masing-masing. 



Sebenarnya hari itu merupakan awal semester bagi mereka bertiga, Ayu di semester empat, Risaka di semester enam dan Ulfa disemester lima. Harusnya Risaka dan Ulfa sudah hampir lulus, kalau saja mereka kuliah diwaktu yang tepat.



Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya, Risaka menunda satu tahun kuliahnya untuk fokus bekerja, sedangkan Ulfa baru bisa melanjutkan pendidikan setelah susah payah membujuk ibunya.



***



[Bandung, 31 Desember 2013]



“sebentar lagi kita bakalan nyaksiin kembang api penuh dilangit, jadi siap-siap yah”



“malem kaya gini nih yang ditunggu-tunggu”



“kamu bener Ul, apalagi ditambah ada jagung bakar”



“haha... pas banget ditambah ayam bakar sama nasi plus sambel terasi, aduh duh aku jadi laper”



“huuu... pikiran kamu makan mulu dek”



“biarin, blee... lagian bunda juga gak protes”



“haha.. biarin dek Ay bahagia dulu malem ini, Ris. Biar besok kita bisa bully dia lagi”



“haha.. bener juga kamu Ul”



“ah kalian emang jahat sama aku”



Malam ini adalah penutupan tahun sekaligus malam terakhir ditahun 2013 ini. Begitu banyak yang sudah terjadi ditahun ini dan tahun-tahun sebelumnya. Semoga ditahun berikutnya, semua menjadi lebih baik lagi. Begitupula persahabatan mereka nantinya, tidak akan ada yang tahu bagaimana hasilnya.



Yang harus mereka lakukan hanyalah bekerja keras mempertahankannya.



“ini dia, kita itung bareng-bareng yah”



“ok”



“1…2…3…”



Suara letusan kembang api terdengar dimana-mana, dari berbagai daerah dan pulau yang ada di Nusantara, semua bercampur menjadi satu dilangit Indonesia. Sangat indah dan begitu cantik, ada begitu banyak paduan warna yang menyatu. Dan seperti itulah malam itu berakhir.



****



‘perasaan seperti sesuatu yang dejavu, apakah aku jatuh cinta?. Risaka.’

__ADS_1



__ADS_2