Tri Angel

Tri Angel
15. Tangisan itu, aku lupa


__ADS_3

“bunda minta maaf yah, nak. Gak seharusnya bunda ngomong kaya gitu sama kamu, padahal bunda sendiri tau gimana perasaan kamu. Bunda cuma panik dan gak tau harus ngelakuin apa, begitu denger kabar kalo Kiki kecelakaan. Bunda malah ngelampiasin kemarahan bunda sama kamu”


“gak apa-apa kok bunda, Ulfa ngerti kondisi bunda. Ulfa juga minta maaf sama bunda, harusnya


Ulfa bisa lebih jaga Kiki, tapi justru Kiki malah luka, dan Ulfa gak bisa lakuin apa-apa”


“ini bukan salah kamu sayang, tindakan kamu udah bener kok. Kiki cuma ngelakuin kewajibannya sebagai adik buat ngelindungi kamu. Udah gak apa-apa”


“Ulfa sayang sama bunda”


“bunda juga sayang sama Ulfa”


Begitulah masalah antara ibu dan anak itu selesai. Mereka berbaikan dengan mengerti kondisi satu sama lain. Saat itu Kiki tersadar dan melihat ibu juga kakak perempuannya sedang berpelukan. Dia tersenyum simpul.


“kamu udah sadar dek ?”


“Kiki, kamu udah sadar nak ?”


“aku gak apa-apa kok, bunda. Tapi aku juga mau dipeluk sama bunda sama teteh”


“hm... dia cemburu bunda”


“cepet peluk aku”


“iya deh, bunda peluk adek juga”


“ayo teteh juga”


“ok... teteh juga bakalan peluk adek teteh yang ganteng ini”


“aku tau kalo aku ganteng kok”


“haha...”


Risaka dan Ayu melihat momen tersebut dari luar, mereka lega akhirnya masalah ini bisa diatasi dengan baik meskipun cukup sulit. Kasih sayang seorang ibu memang bisa menjadi obat bagi segalanya.


Melihat perhatian tante Sarah pada kedua anaknya, membuat Ayu teringat pada orangtuanya yang bertolak belakang dengan keadaan saat ini. Tak sadar ia meneteskan air matanya, dan disaat itulah Risaka melihat air mata itu untuk pertama kalinya.


“loh dek, kamu kenapa nangis ?”


“eh... enggak siapa yang nangis ?”


“udah jangan bohong, ikut kakak sekarang yah”


“kemana ?”


“udah ikut aja”

__ADS_1


Risaka mengerti jika saat ini Ayu membutuhkan ruang untuk sendiri, tapi ia juga tidak bisa membiarkannya sendirian jika sedang seperti ini.


Ia membawa gadis itu keluar dari gedung menuju tempat yang tadi menjadi penghiburan bagi Ulfa.


“kenapa ke sini ?”


“kamu inget kan, di tempat ini kamu berhasil buat Ulfa ketawa lagi”


“iya, baru aja tadi kita liat kak Ul udah baikan sama bunda”


“terus kenapa kamu nangis, ada masalah apa ?”


“aku gak apa-apa kak”


“cerita sama kakak”


“bener aku gak apa-apa, aku cuma terharu liat kak Ul pelukan sama bunda sama Kiki tadi”


“kamu mau kakak peluk juga ?”


“boleh ?”


“jelas boleh dong”


Yah, saat ini hanya sebuah pelukanlah yang mampu menjadi obat bagi kesedihan Ayu. Risaka tahu benar apa yang sedang dirasakan oleh adiknya itu.


Namun kenyataannya, dia sangat merasa sakit, rapuh juga kesepian. Ia sangat merindukan sebuah keluarga yang harmonis. Dimana ia disambut oleh pelukan hangat kedua orangtuanya tiap kali melakukan sesuatu yang membuat mereka bangga.


Atau paling tidak, ada sosok ibu yang selalu menyambutnya dengan makan siang juga ciuman dipipi tiap kali ia pulang dari sekolahnya.


Tapi kehangatan seperti itu tidak pernah ia rasakan lagi sejak lima tahun terakhir.


Risaka sendiri tidak bisa memberikan penghiburan maupun janji palsu, karena memang kenyataannya seperti itu. Ia hanya bisa meminjamkan tubuhnya sebagai sandaran bagi Ayu mengeluarkan segala kesedihannya.


Dan hari itu ia menangis dengan bebas dalam pelukan Risaka, setelah puas menangis. Risaka segera menghubungi pak Kus untuk datang dan menjemput Ayu. Karena saat ini ia tidak bisa menyetir sendiri.



[Bandung, 10 Januari 2014]


Setelah dirawat selama lebih kurang seminggu, akhirnya Kiki diperbolehkan untuk pulang. Ia sudah tidak sabar untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Pasalnya ia sudah absen dari sekolahnya selama lima hari karena harus menjalani perawatan intensif.


Dan selama dirumah sakit, Ulfa yang menjaganya bersama dengan Risaka dan juga Ayu. Seperti amplop, perangko dan lem. Mereka memang tidak bisa dipisahkan begitu saja.


Bahkan mereka sering menginap dirumah sakit untuk menemani Ulfa karena pekerjaan tante Sarah yang ada di puskesmas.


“akhirnya pulang juga”

__ADS_1


“seneng kamu, dek ?”


“jelas dong, aku bosen disini. Akhirnya bisa keluar dan besok mulai masuk sekolah deh”


“uh... adik kecilku ini udah mulai aktif lagi”


“teh Ay, jangan diberantakin nanti aku gak ganteng lagi kalo rambutku berantakan”


“haha... kamu tetep ganteng kok”


“makasih teh Ris”


“jangan kaya teh Ulfa tuh, rambutnya gak pernah rapih”


“kok jadi bahas rambut teteh sih”


“haha...”


Rambut Ulfa memang tidak diikat rapih seperti Risaka, malah terkesan berantakan. Ia hanya menggelung rambut itu dan menjepitnya dengan asal menggunakan penjepit rambut. Meski terkesan berantakan, tapi hal itu tetap membuat seorang Ulfa terlihat cantik secara alami.


Setelah selesai mengemas barang, mereka pulang kerumah Ulfa bersama menggunakan mobil Ayu. Keadaan Ayu pun sudah lebih membaik, bahkan ia tidak ingat jika ia pernah menangis dipelukan Risaka.


“um… mata kamu udah gak sembab lagi dek ?”


“sembab, kenapa mata aku harus sembab ?”


“lah dia lupa ?”


“emang dek Ay kenapa, Ris ?”


“kamu gak tau Ul, kemaren dia abis mewek berjam-jam”


“masa sih, kok aku gak inget yah ?”


“ah sok lupa kamu dek, bilang aja malu”


“bener dek ?”


“enggak ah, kak Ris bohong jangan percaya”


Hari itu dihabiskan oleh mereka dengan bercanda bersama, memakan masakan tante Sarah yang spesial untuk menyambut kepulangan Kiki.


Seblak Bandung, siapa yang tidak tahu dengan makanan khas kota Bandung yang satu ini. Terlebih Ayu, diantara mereka bertiga Ayu lah yang paling doyan dengan segala jenis makanan apapun yang ada dinegara ini.


Tak pernah sekali saja ia menolak apapun yang disajikan padanya.


__ADS_1


__ADS_2